Rumour Has It

I didnt come back to tell you that i cant live without you. I can live without you. I just dont want to.

Add comment February 3, 2010

{ }

Do you know that place between being asleep and awake, where you still remember your dreams? Thats where I’ll always love, that’s where I’ll always wait for you. -Tinkerbell

Add comment February 3, 2010

Be Yourself, Even You’re Nobody

I am nothing special; just a common man with common thoughts, and I’ve led a common life. There are no monuments dedicated to me and my name will soon be forgotten. But in one respect I have succeeded as gloriously as anyone who’s ever lived: I’ve loved another with all my heart and soul; and to me, this has always been enough. -Noah, The Notebook

Add comment February 3, 2010

Balada Hiburan Rakyat…

Masih kurang ngeh dengan dinamika Ibukota kita tercinta yang sebegitu cepatnya? Masih mau menutup mata dengan ketidakpedulian Jakarta terhadap warganya yang tidak bisa mengikuti ‘langkah’-nya yang tergesa-gesa? Banyak contoh yang bisa bikin kita sadar. Salah satunya Orkes Dorong dan Topeng Monyet. Dua hiburan yang “rakyat banget” ini esensinya sudah sangat terlepas dari cangkang.

Orkes Dorong. Esensinya, para pemegang instrumen lengkap dengan seorang atau dua penyanyi ini ada untuk menghibur orang lain, untuk menyenangkan penonton. Dahulu kala, orkes dorong begitu digandrungi (memang) oleh kalangan menengah ke bawah. Gerobak dorong itu diberhentikan untuk kemudian dikerubuti para penonton. Lazimnya, para penonton akan meminta lagu dan berjoged dengan sepenuh hati. Pokoknya, hiburan yang sejatinya menghibur. Tapi kini, coba lihat. Kelompok orkes ini berhenti tanpa diminta, dan kadang-kadang di tempat yang sangat tidak tepat hanya untuk menarik perhatian orang banyak. Misalnya, di gerbang perumahan. Alhasil, citraan yang tadinya penghibur, malah jadi public enemy. Kalangan menengah ke bawah sang penggemar pun juga sepertinya sudah terlalu sibuk dengan urusan sendiri, tidak lagi minta dihibur oleh kelompok ordor ini. Seolah ordor memang sudah tidak lagi bisa mengobati hati yang gundah. Ibukota sudah mengasingkan mereka. Begitu pula rakyatnya.

Tengok lagi contoh lain. Topeng Monyet. Esensinya, hiburan yang beranggotakan seorang pawang dan seekor monyet terlatih plus peralatan ‘tempur’ diundang untuk menyajikan pertunjukan ketangkasan sang monyet. Tapi, coba lihat riwayatnya kini. Di beberapa perempatan lampu merah atau di beberapa titik di Jakarta, kita bisa lihat mereka melacurkan diri dan menurunkan harga dirinya untuk menghibur tanpa diminta. Mungkin tidak semua begitu. Tapi ya inilah kenyataannya untuk beberapa pelaku topeng monyet. Apa pun asal dapat uang. Dan, seolah jamur di musim hujan, belakangan mereka jadi banyak sekali. Muncul di mana-mana.

Apakah jahat? Memang. Tapi, apakah wajar? Ya, sayangnya wajar. Di tengah zaman yang semakin mendewasakan diri, wajar sekali kalau akhirnya dia menggilas siapa pun atau apa pun yang tidak bergerak ke mana pun. Banyak mungkin contohnya, di luar Orkes Dorong dan Topeng Monyet. Dan, apa pelajaran yang bisa kita petik dari sini? Bergerak terus, jangan sampai statis. Belajar terus, jangan sampai stagnant. Itu cukup.

Foto: Sofyan Effendi

1 comment January 27, 2010

Protected: [ , ]

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Enter your password to view comments January 25, 2010

Protected: Mimpi Sepoi-sepoi

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Enter your password to view comments January 25, 2010

13-16 Januari 2010…

Perjalanan ini ada bukan sekadar perjalanan biasa. Lihat saja teman seperjalanan saya, yaitu pacar saya sendiri, Si Keriting. Sudah dua tahun kami sama-sama, tepat 12 Januari 2010, dan rasanya hal tersebut patut dirayakan dengan liburan berkualitas. Tidak perlu jauh, asal tempatnya pas. Dan, menurut kesepakatan, Yogyakarta adalah tujuan yang segala-galanya pas; dari segi budget, itinerary yang tiada habis, sekaligus mengunjungi teman-teman di sana yang lama tak berkabar. Satu lagi, saya juga punya ambisi pribadi datang ke salah satu pantai cantik di sekitaran Wonosari–terjangkaulah kalau dari Jogja.

Setelah surat cuti kami kelar diurus (kebetulan sama-sama baru selesai deadline), Rabu pagi 13 Jan, kami berangkat. Keretaan dari Stasiun Jatinegara. Karena sedikit kesalahan teknis, kami akhirnya harus transit di Semarang baru kemudian ke Jogja. Tak apa lah. Toh, namanya jalan-jalan. Walau perjalanan jadi memakan waktu lebih lama, saya sih senang-senang saja. Karena jadi bisa lihat-lihat Semarang juga. Sekitar pukul 17.00, kami tiba di Semarang. Hujan deras. Tape ketan memanggil-manggil minta dicoba, tapi sayang kami hanya lewat. Bis Nusantara seharga Rp35.000-lah membawa kami ke Jogja. Sempat pula saya lihat Kampung Soekarno. Tergiur untuk turun dari bis, tapi ya setelah dipikir-pikir, fokus dulu sajalah ke Kota Pelajar.

Kami turun di Jembatan Tempel tepat pukul 20.00, janji bertemu Bimo–teman Keriting–yang akan menjemput. Rencananya, malam ini saya dan Keriting menginap di rumah Bimo yang hanya tinggal dengan Eyang Putri di Kaliurang. Sembari menunggu Bimo jemput, saya dan Keriting sempat ngemil bakso di dekat Jembatan Tempel. Enak, walau sempat aneh mendapati ketimun yang tahu2 ikut jadi pelengkap. Serunya lagi, harga bakso itu hanya Rp3.000. Wow aja.

Bimo datang. Dari Tempel ke rumahnya agak lumayan jauh. Malam-malam begini, jalanan sudah sangat sepi. Kanan-kiri banyak lahan kosong gelap–siangnya baru saya tahu ternyata itu sawah. Dan, dingin! Maklum, Kaliurang, daerah pegunungan. Syukurlah, Eyang dan Bimo sangat welcome. Rumah mereka juga nyaman. Saya betah, apalagi dipersilakan untuk tidur di kamar Bimo sendiri. Enaknya… :)

14 Januari. Destinasi hari ini adalah Taman Sari-Keraton-Ullen Sentalu-Alun-alun. Rencananya begini, saya ke kos Wawan-Budi di dekat UGM, titip tas gembolan, cari rental motor, lalu keliling ke itinerary yang disebutkan tadi. Bimo dan Lisa (pacarnya) berbaik hati mengantar sampai saya bertemu Wawan. Euforia sejenak karena bertemu Wawan, lalu berpisah dengan Bimo-Lisa.

Di kos Wawan, saya ceritakan semua rencana hari ini. Baiknya, Wawan, Budi (kembarannya), Ayu (pacar Budi), dan Faisal (kawan mereka) dengan senang hati menemani. Rencana jadi berubah. Kami tidak perlu sewa motor–dipaksa pakai motor Ayu. Target tempat juga sedikit berubah. Tambal sulam jadi Pasar Ngasem (pasar hewan Jogja)-Taman Sari-Keraton-Museum Kereta Karaton-Alun-alun. Saya sempat merasa ada yang kurang, ternyata saya lupa Ullen Sentalu :(

Mereka baik sekali. Saya dan Keriting jadi merasa “pas”. Semua target hari ini tercapai, walau belum sempat masuk Keraton karena saat kami sampai, tempat itu sudah tutup. Tak apa, lain kali. Maghrib kami kembali dulu ke kos di Jln. Gejayan. Niatnya, malam ini ke Malioboro dan pasar malam di Alun-alun. Tapi, sial, hujan turun sangat deras. Alhasil, saya, Keriting, Wawan, dan Budi jadi main kartu saja di kos. Yang kalah, wajahnya harus rela ditempeli doubletip. Halakh… Setelah agak malaman, saya menginap di kos Ayu yang khusus putri, dan Keriting di kos Faisal. Malam ini kami pisah ranjang dulu :p

15 Januari. Oke, hari ini perjalanan akan sangat panjang. Saya dan Keriting akan ke Wonosari, ke Pantai Ngobaran dan Ngrenehan. Modal kami hanya motor pinjaman dari Ayu, peta ala kadarnya, dan petunjuk perjalanan dari beberapa kawan asli Wonosari. Pukul 09.00 berangkat! Rupanya, pantai ini agak kurang dikenal masyarakat Jogja. Beberapa kali kami tanya, tak ada yang tahu. Sampai akhirnya kami ganti perspektif. Oke, tanya dulu saja arah Wonosari. Di setiap lampu merah, di pinggir jalan, Keriting tak berhenti-henti bertanya, memastikan. Polisi, tukang bakso, pengendara motor, tukang becak, anak sekolah, tua, muda, semua ditanya. Luar biasa semangatnya. Sampai akhirnya, setelah lewat Bantul, kami sampai Wonosari–setelah sekitar sejam. Baru dari sini kami mulai ganti keywords: Ngrenehan, Ngobaran. Syukur, dua nama itu sudah familiar di telinga mereka. Motif yang sama berulang. Tanya semua orang ketika mulai disorientasi arah. Perlu waktu sejam lagi untuk sampai Pantai Ngobaran, setelah sebelumnya melewati jalan sepi beraspal naik turun berkelok-kelok. Agak pegel juga dan kepanasan, tapi semua letih lesap setelah melihat pantai ciamik itu.

Tampak dari luar, Ngobaran memang kelihatan kurang pengelolaan. Gubug-gubug sepi, pengunjung yang datang juga hanya saya-Keriting dan pasangan ibu-anak. Selebihnya penduduk setempat yang asyik ngobrol santai di gazebo pinggir pantai. Tapi, segitu saja sudah bikin saya betah. Panasnya memang tak ketulungan, tapi saya kan bisa berteduh. Awal memasuki Ngobaran ditandai dengan membayar Rp3.000 di gapura, sekitar 400 m dari TKP sebenarnya. Jalanan sepi masih terus menemani kami. Sumpah, tidak ada siapa-siapa di jalan ini. Saat laut mulai kelihatan, kami lagi-lagi disambut ‘hanya’ gapura. Setelahnya barulah, pemandangan ciamik tiada duanya ada di depan mata. Aih aiihhh…Ada tiga tahapan untuk menikmati Ngobaran. Pertama, memandangi laut dari atas spot semacam bukit. Di bukit ini, terdapat sebuah kawasan suci umat Buddha. Berdiri patung-patung batu melambangkan Tresno, Setya, Patuh, Ngabekti, Jujur Lila Legawa, Wicaksana Adil Paramantha, serta batu bertulis Ikrar Ksatrya. Di pinggiran bukit, terdapat patung batu yang di sekeliling pagarnya dihiasi stupa. Rasanya, ia berbaur dengan lautan di bawah sana dan awan putih gemuk-gemuk di langit. Selesai dengan patung-patung itu, saya naik ke atas bukit dan alamak, menemukan keluasan laut yang lebih ciamik daripada tadi. Ada semacam pura yang dipagar dan tidak terawat di atas bukit itu. Sayang…

Lanjut, beralih ke tahap tiga. Di sinilah nikmati pantai yang sebenar-benarnya pantai; berjemur, berenang, main pasir, dan sejenisnya. Saat saya tiba, waktu menunjukkan pukul 13.00. Agak salah memang. Panasnya amat sangat! Dan, yang paling disayangkan, hanya satu saja, saya tidak bisa melihat senja di pantai cantik ini. Kenapa? Kami masih terlalu buta jalanan, dan rasanya, kalau siang saja sesepi ini, bagaimana sore atau malam nanti? Kami terlalu ngeri membayangkan kemungkinannya. Tidak hanya satu ternyata. Ada dua. Landak laut yang sudah saya idam-idamkan sejak beberapa bulan lalu tidak bisa saya cicipi. Laut sedang pasang, dan landak laut susah dicari kalau laut begini ini cuacanya, kata penduduk setempat. Hhhh…

Dan, akhirnya, sejam kemudian kami beranjak ke Pantai Ngrenehan yang tak jauh dari Ngobaran. Saya pikir, pantai ini lebih bernuansa “tamasya” dibandingkan Ngobaran. Tapi, ternyata, aha, saya salah. Pantai ini lebih dikenal oleh masyarakat Wonosari karena ini adalah pelabuhan tempat para nelayan merapatkan perahunya, bukan karena ini adalah daerah wisata. Tidak sampai sejam kami di sana. Selanjutnya, balik ke Jogja, meraba-raba jalanan pulang. Seru, mendebarkan, uhuy! Dan, baru pukul 19.00 saya sampai Malioboro, belanja apa yang bisa dibelanjakan.

Setelah puas, saya-Keriting istirahat karena besok harus balik ke dunia nyata; Jakarta, rutinitas. Noooooooo…

Add comment January 18, 2010

Si Hijau Perak

Akhir pekan lalu, saya bersama beberapa orang teman karib beperjalanan ke Bandung. Kedengarannya memang biasa, tapi ini sebenarnya perjalanan yang sudah dirancang lama dan entah kenapa tidak pernah jadi-jadi direalisasikan. Masalah waktu dominan menjadi penyebab. Masalah keuangan, itu sebab nomor dua. Hingga akhirnya, 18-19 Desember 2009, utang itu terlunaskan. Tepat sebelum Adhika harus merantau ke HK.

Bandung. Rasanya lazim kalau long weekend seperti minggu ini jalan raya sumpek, kendaraan rayap-merayap, rombongan orang juga di mana-mana. Jadi, sudah risiko kalau akhirnya kami harus sampai 3 jam acak-acak cari penginapan. Ya, 3 jam. Cukuplah membuat emosi yang tadinya sama sekali tidak ada langsung naik sampai tenggorokan. Dago, Merdeka, Juanda, sampai akhirnya Veteran yang menyelamatkan kami. Sebuah hotel seadanya menunggu diisi.

Makan bareng, tidur bareng, keliling FO sudah pasti kami lakukan. Misi utama yang harus dicatat adalah perjalanan Kawah Putih. Beberapa dari kami baru pertama kali ke sini, termasuk saya. Katanya, kawah belerang ini cocok untuk pencinta sunyi seperti saya, dan pencinta foto-foto seperti kami semua.

Berhubung tema perjalanan ini adalah “backpacker”, jadi kami sewa angkot PP Leuwi Panjang-Kawah Putih-Dago ‘hanya’ Rp250.000. Dibagi lima orang, masih hemat lah. Dalam 3 jam perjalanan, tidur-bangun-tidur-bangun jadi ‘kesibukan’. Cekakak-cekikik, lalu selebihnya sibuk dengan pikiran sendiri, sambil lirik-lirik petak-petak kebun strawberry di sepanjang jalan Ciwidey.

Sampai di loket/papan nama Kawah Putih, sinyal ponsel mulai raib. Udara mulai jauh lebih segar. Setiap embusan napas bukan karena beban berat, tapi respons kelegaan. Hhhmmm…Matahari terang, tapi tidak terik. Aih, ciamik. Sengaja saya tidak terlalu detail mendeskripsikan segala latar (waktu atau tempat). Karena saya cuma ingin menulis suasana.

Muka-muka sumringah tak sabar ada di sekeliling saya. Mungkin muka saya juga seberbinar itu kali, ya? Jalan sebentar menuju Si Kawah Bening itu, saya berpapasan dengan banyak sekali pengunjung. Ramai. Sempat sangsi akan bisa menikmati si kawah karena padatnya pengunjung. Terpikir, kawah akan menolak jadi sunyi karena banyaknya ‘teman’ yang berkunjung. Dan, begitu pertama kali berdiri tepat di wilayah kawah–setelah melewati gua yang ditutup papan, saya langsung merasa saya keliru.

Kawah Putih. Ia dikelilingi lembah yang masih juga hijau, walau pepohonan di bawah sini hanya tinggal ranting kering. Belerang mengisap hijau tanaman di bawah, tapi tidak di atas sana. Air kawah hari ini hijau perak. Peraknya mungkin berasal dari belerang di dasar kawah yang memantul. Yang pasti, matahari memberikan sinar terbaiknya, sampai-sampai warna putih belerang di daratan menyilaukan mata. Sesi foto-foto dilakukan sepanjang kami di sana. Disambi, (lagi-lagi) sibuk dengan pikiran sendiri, merenung, melamun. Luar biasa, Kawah Putih tetap memilih sunyi walau seramai apa pun keadaan sekelilingnya. Saya puas akhirnya bisa merasakan damai di sini. Bau belerang tidak mengganggu lagi. Dan, kalau dibiarkan, saya rasa saya bisa seharian berdiam di sini. Ah…

Add comment January 18, 2010

Kisah Cinta di Dunia Ini Sama Saja

Semua kisah cinta di dunia ini sama saja. Setidaknya menurut saya. Segalanya tak jauh dari naik-turunnya kasih sayang, rasa ingin memiliki yang menggebu-gebu, derita, posesif yang jika dipupuk bisa jadi membahayakan, sampai batasnya adalah kehilangan atau perpisahan. Di mana-mana sama saja, tak peduli di belahan dunia mana, ya begini inilah cinta lelaki dan perempuan. Tak peduli juga dari kalangan mana lelaki dan perempuan itu berada. Cinta tidak mengenal kasta, tidak mengenal derajat, materi, usia, bahkan bisa dibilang tidak mengenal gender. Maka itulah, yang terakhir ini membuat kita terbiasa dengan satu istilah bernama homoseksualitas.

Cinta itu buta, kalau kata pujangga tak bernama. Saking butanya, ya, sampai-sampai segala hambatan bisa jadi ditebas demi memuaskan perasaan hati yang sudah kadung cinta terhadap seseorang. Walau banyak cobaan, walau banyak yang harus dikorbankan, rasanya tidak ada yang mustahil kalau untuk urusan satu kata usang bermakna abadi ini. Saya mungkin tidak terlalu paham akan arti cinta yang amat sangat bergelombang jalannya. Karena toh selama ini jalan saya mulus-mulus saja. Paling-paling hanya sedikit kerikil yang menyertai. Tidak sampai lubang dalam atau tiba-tiba ada jurang di tengah jalan saya dan pasangan saya. Tapi saya mengerti, semakin besar rasa cinta kita untuk seseorang, akan semakin besar pula rasa sakit yang dirasakan ketika kita kehilangan. Saya juga akhirnya jadi mengerti bahwa setiap dari kita yang dalam perjuangan cintanya memilih untuk berkorban banyak alih-alih pergi meninggalkan, maka orang-orang itu adalah orang tangguh, jauh lebih tangguh daripada para pasukan yang berjuang hanya mengandalkan fisik semata. Mereka jauh lebih sadar daripada orang-orang yang hanya mencecap rasa bahagia. Kenapa? Derita lah yang menempa pengertian. Luka lah yang membuat kita belajar untuk lebih mencintai segala makna. Kejatuhan membuat kita mengerti siapakah orang yang ada di samping kita selama ini. Akhirnya, segala kesakitan itu membuat kita kuat, bukan malah menghancurkan.

Tempo hari, saya melihat pemandangan seorang gadis jalanan dan pria jalanan duduk di pinggir jalan. Si gadis dan si lelaki sama-sama berkaus hitam dan ber-jeans hitam. Keduanya pun berpenampilan sama; sama-sama kumal, legam, dan tak karuan bentuknya. Mungkin, ini pemandangan biasa bagi orang lain. Tapi, tidak bagi saya. Karena apa? Karena di pinggir jalan itu, mereka berpegangan tangan tak mempedulikan sekeliling. Tak peduli betapa bingar lalin saat itu. Tak peduli juga para pejalan kaki yang sedang riuh-riuhnya mondar-mandir di depan mereka. Mereka tetap saja berpegangan tangan dengan posisi duduk menyandar di sebuah toko, kaki berselonjor, menatap satu sama lain, sambil sesekali mengikik pelan. Sekali lagi, mungkin bagi orang lain ini biasa saja. Biasa mungkin melihat pasangan yang sedang jatuh cinta. Lebih biasa lagi zaman sekarang melihat pasangan berpegangan tangan di pinggir jalan. Tapi rasanya aura yang mereka keluarkan unik. Membuat saya mengerti akhirnya bahwa—seperti dalam prolog di atas—kisah cinta itu semuanya sama saja sebenarnya.

Saya terbayang apa yang ada di pikiran si lelaki saat itu. Klise, tapi saya yakin, laki-laki ini menganggap gadis yang ada di depannya adalah gadis paling cantik di jagad raya ini. Saya yakin. Tatapannya berbinar-binar. Bibirnya yang hitam dan kering juga tak henti-hentinya tersenyum. Membuat gadis yang ada di depannya tersipu-sipu, mungkin di saat yang bersamaan si gadis juga sedang menyimpulkan bahwa lelaki yang ada di depannya adalah lelaki termanis di dunia ini. Ah, padahal, kalau dari ‘kacamata’ luar, mereka sangat compang-camping. Tidak ada kecantikan dan ketampanan sama sekali.

Atau, di hari yang lain, sempat saya menemukan pasangan perempuan buta dan lelaki normal yang berjalan berangkulan tak peduli tatapan banyak orang yang masih ‘tidak wajar’. Pasti ada makna di balik akhirnya lelaki normal itu memilih perempuan buta untuk jadi pasangannya. Awalnya, saya sempat berpikir dangkal bahwa ya karena memang masing-masing tidak memiliki pilihan. Tapi, segala sesuatunya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. segala sesuatunya berjalan dengan maknanya masing-masing. Tidak terkecuali cinta tak mengenal batasan seperti ini. Masih banyak contoh di luar sana yang mungkin bisa dilihat sendiri.

Jika hati memang sudah memilih, dia tidak akan lagi mempertimbangkan hal-hal kecil semacam masalah kaya-miskin, tampan-jelek, hitam-putih. Kuncinya hanya satu: kenyamanan. Satu kata yang sangat familiar, tapi susah dideskripsikan. Pernahkah merasa kita tidak memiliki jawaban ketika ada orang lain bertanya alasan kita mencintai pasangan kita? Sebenarnya pertanyaan ini memang tidak perlu ada. Sebab, ya itu tadi, kenyamanan tidak bisa dijelaskan. Selalu menjadi misteri dan penyebab akhirnya terbentuk istilah “faktor X”. Kesimpulannya, semua orang di dunia ini boleh jatuh cinta; boleh dicintai dan mencintai. Boleh berharap, dan boleh menggapai-gapai. Tapi, ya itu tadi, semakin besar rasa cinta yang dipupuk, risiko yang dihadapi pun otomatis lebih besar. Tak peduli kaya-miskin, tua-muda, miskin-kaya, semua kisah cinta sama saja. Tidak jauh dari suka, duka, benci, cemburu, kehilangan, dan seterusnya.

Sumber: http://scrapetv.com.

Add comment December 23, 2009

Begini Saja Cukup, Sudah Jangan Bicara…

Seiring menderasnya hujan hari ini, sederas itu pula kata-kata sepertinya ingin meluap membuncah-buncah. Kiri-kanan saya sunyi. Seruangan ini pun semua orang sibuk dengan dunianya sendiri. Hanya di luar sana, angin mengamuk, memukul-mukul air hujan sebesar-besar air mata. Entah karena apa dia mengamuk. Mungkin hatinya gundah, mencintai diam-diam sang hujan, tanpa bisa meluapkannya dengan segenap hati. Atau, bisa jadi juga dia sedang begitu gembira, menggoyangkan kaki ala tap dance dan membuat koreografinya sendiri bersama hujan, kekasihnya.

Ah, begitu sulit memang mencintai. Pernah ada pengarang mengatakan, “Cinta itu indah, dengan segala risiko yang membuntutinya.” Apa pun itu bentuk cintanya. Tak peduli rahasia, atau terbuka. Entah itu cinta beradab atau biadab. Saya pun mengalaminya, mengalami yang namanya sulitnya mencintai. Berkali-kali mencinta, berkali-kali pula patah. Nyerinya memang tak pernah bisa dibiasakan. Betapa pun banyaknya kita mengalaminya. Rasa sakit itu tak pernah sama. Hanya saja saya sudah sangat tahu, setiap sakit itu pasti ada obatnya. Jika bisa melewatinya, itulah sakit yang menguatkan, bukan menghancurkan.

Sekali lagi saya bilang, saya juga mengalami cinta yang begitu sulit. Tidak seperti cinta rapuh Annelies Mellema pada Minke. Atau, juga bukan cinta Layla pada Majnun. Tidak juga serumit cinta matinya Romeo dan Juliet. Tidak, tidak. Tapi, jompakan rasa yang begitu menguar-nguar ini sangat menyulitkan. Apalagi jika kasusnya, keadaan tidak begitu mengizinkan. Sebut saja, menyayangi diam-diam. Diam-diam karena memang inilah bentuk rasa sayang itu. Hanya untuk dua orang yang berkaitan saja. Hanya untuk dinikmati berdua.

Saya telah mencandu setiap pelukannya dan kecupan hangatnya di tengkuk saya. Untuk mengatakan saya menyayanginya, saya masih tidak terlalu tahu. Masih prematur juga, saya rasa. Yang jelas, tempo hari dia berkata, “Saya rasanya menyayangi kamu.” Tapi tetap, tak harus ada tuntutan di dalam kata-kata ini. Saya setuju, tak perlu ada apa-apa di balik pengakuan ini. Saya ingin menikmati ini sepuas-puasnya, tanpa perlu mengacaukan segala yang sudah ada. Jompakan ini indah, saya tahu. Tapi, saya tahu juga ini tidak boleh menghanyutkan.

Seperti embusan angin yang menunggu hujan turun, saya sudah merasa cukup hanya dengan begini. Jangan terlalu banyak bicara. Cukup tatap saja mata saya, kita bicara. Segera peluk saya, dan lalu kecup kening saya. Sesudah itu, mungkin saya akan memintamu untuk menyediakan mata kirimu untuk saya kecup sebentar. Bagaimana? Begitu saja cukup, kan?

1 comment December 8, 2009

Previous Posts


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

khakha on Balada Hiburan Rakyat…
Nisa on Ilalang III: Pd. Gede
Arne on Ini Nomor Favorit Saya
atre on Ilalang III: Pd. Gede
nisa on Ilalang III: Pd. Gede
Bayu Maitra on Begini Saja Cukup, Sudah Janga…
khakha on Mengejar Senja VII: Kota …
atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas cerita sangat pendek cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan keriting kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Meta