Feed on
Posts
Comments

Setangkai Ilalang, Iwan Fridolin

Setangkai ilalang

bersimpuh di kakilangit mencium kaki bintang

menggapai awan menggapai bulan

merindukan Tuhan

Sahabat, Boleh ‘Lepas’

Ada yang bilang, kalau persahabatan yang jujur itu tak saling jadi beban, saling menghargai, tidak harus selalu bersama dan tidak harus selalu sama.

Mungkin ada benarnya. Apalagi ketika jarak dan waktu mau nggak mau memisahkan. Klise memang. Zaman sekarang sudah ada handphone atau e-mail yang bisa mempersempit jarak. Iya, tapi belum tentu ada pergerakan. Jika fasilitas memadai tapi kita sendiri tidak bergerak, tetap saja. Jarak dan waktu itu berpengaruh. Dan, maka itu, sahabat pasti mengerti. Sahabat pasti mengerti akan arti kebersamaan dan akan arti kesamaan.

Tidak harus selalu bersama dan tidak harus selalu sama, kita pasti tahu kalau sahabat tak akan lari ke mana.

Rumput Ilalang, Wiji Tukul

Sebuah puisi dari Wiji Tukul yang ‘ditemukan’ sama Adhika Irlang. Dia tahu gue, setidaknya dia tahu gue suka berada di tengah-tengah ilalang.

Ini dia puisinya, untuk Wiji Tukul yang kini nggak tahu ada di mana. Semoga dia tetap bahagia di mana pun ia.

hijau hijau

tumbuh lagi

walau kubabat berulang kali

walau kubakar berulang kali

hijau-hijau

tumbuh lagi

sudah seratus kali kaucabut

kausemburkan api kerusuhan

hijau hijau

tumbuh lagi

harapanku

menaklukkan

ketakutan

yang kauternakkan

lewat pidato

dan laras senapan

aku melihat ilalang

o siasialah

kekuasaan memasang

palang penghalang

ilalang

tetap hidup tumbuh

dan menang

walau seratus kali digaru

15 Januari 1997

Dan, Tuhan Bertindak

Tuhan memang selalu bisa menyentil tiap hambanya dengan cara apa pun. Tuhan tidak pernah buntu, tidak pernah kehabisan ide, tidak pernah stuck, dan tidak pernah mati gaya. Dia selalu punya gaya. Haha. Contohnya dalam kasus gue. Gue dapat sentilannya kurun waktu beberapa minggu ini. Beberapa bulan belakangan, gue sedang dihadapkan masalah tidak napsu makan, tidak mau makan, tidak sempat makan, dan tidak bergairah untuk makan. Jadi, sehari mungkin seringnya cuma sekali kemasukan nasi. Nasi aja yang jarang, makanan lain, seperti bakso, mie ayam mah masih lumayan. Tapi, ternyata, itu nggak cukup. Gue yang notabene pernah disentri (ee-nya berdarah-darah-maaf) dan demam berdarah karena makan makanan nggak sehat, alhasil harus tergelepar lagi. Yak, maag gue kambuh! Kata dokter sih, lambung gue itu keseringan dibiarkan nganggur. Jadi, alih-alih si lambski ini menggiling makanan, dia malah menggiling diri sendiri saking nggak ada yang digiling. Kasihan, lambski.

Kenapa jadinya ke Tuhan? Ya iyalah. Liat donk di bagian atas. Gue seolah nggak mensyukuri apa-apa yang telah Allah kasih. Nikmat makan. Masih mampu kok malas. Seperti diperingatkan lagi, “Masih banyak orang yang mau makan tapi nggak bisa makan. Tuh, di luar sana tuh banyak!” Seperti itulah kira-kira. Dan, karena lambski yang sudah tak berdaya ini, gue jadi nggak bisa makan apa-apa. Makan sedikit, muntah, makan sedikit muntah. Itu nggak enak! Makanya, puasa gue tahun ini jadi kalah banyak *sad*. Dari yang malas makan, jadi nggak bisa makan.

Emang dasar manusia, harus diberi jeweran nyata dulu, baru menyesali. Begitupun gue. Gue jadi harus bawa roti atau crackers ke mana-mana. Lambung sedikit-sedikit sakit. Nah, kalau sudah begitu, harus dijejali makanan. Jangan biarkan kosong. Dulu-dulu mah, tak’ dieme wae lah. Sekarang? Mana bisa! Ini lagi si dokter, ancamannya gini, “Mau infus emang, hah, mau infus?” Gitu sih aaahhhh…

Dan, sekarang, saat gue sedang ingin makan mie ayam, pizza, soto ayam, sate, bebek goreng (yang pastinya pedassss-pedassss itu.. sluruppp…), gue nggak bisa. Hiks…Ya, Allah, atrenya sudah mengerti. Cukup, cukup. I got it!

Older Posts »