[Mungkin] Saya Kesepian
Saya selalu percaya selama ini bahwa segala sesuatunya baik-baik saja—kalau tidak dikatakan datar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang saya. Tidak ada juga yang menarik. Saking lamanya saya mempercayai hal ini, sampai-sampai, ‘luka’ yang masih sedikit nyeri, bisa saya lupakan. Tapi, ternyata, “ia” tidak saya lupakan sama sekali. Ia hanya terlupakan karena lama tidak disentuh. Dan, ketika hari ini ia tersentuh, saya limbung. Seperti ada orang lain yang memukul bahu saya dari belakang.
Sudah lebih dari 10 tahun. Angka yang sangat lumayan bagi saya untuk sebuah perpisahan. Sangat lama. Dan, selama itu, saya mengubur sedikit demi sedikit luka saya demi hidup yang lebih bahagia, agar dunia saya bisa jadi lebih baik. Sepuluh tahun. Dan, ternyata lukanya belum juga kering. Hanya dengan melihat satu scene di sebuah film, saya kembali ‘kesakitan’. Padahal, hanya satu scene. Saya tersentak oleh perasaan yang tak tahulah harus saya sebut apa. Rindu, tapi saya benci. Sepi, tapi rasanya saya tidak ingin bersatu kembali. Satu per satu orang-orang yang paling saya cintai ‘pergi’. Tidak mati. Tapi ‘pergi’ dari saya. Seperti lepas. Pertama dia, lalu ia, dan dilanjutkan mereka. Mereka ada, tapi mereka tidak ada. Saya lalu jadi sendirian. Saya sampai lupa kapan terakhir kali saya merasa “dekat” dengan keluarga kecil saya. Hingga akhirnya saya berhenti mempertanyakan, dan saya mengambil jarak demi menebus keasingan. Saya lupa bagaimana rasanya pelukan mereka. Saya lupa bagaimana indahnya senyum mereka. Bahkan, saya lupa bagaimana rasanya memikirkan mereka.
Ah, lagi-lagi saya dipermainkan kenyataan. Lagi-lagi pertanyaan “kenapa harus saya” dan “kenapa harus kami” kembali muncul, setelah berpuluh-puluh tahun tidak pernah teringat. Dan, lagi-lagi (pula), saya tidak punya jawaban. Dunia pun kembali hanya ada saya. Sepi.
Add comment July 1, 2009
Drag Me to Hell

Satu kata: GOKIL!
Untuk sinopsis, mungkin loe bisa banyak nemuin di internet dengan cara googling. Di sini, di tulisan ini, gue cuma mau nulis kesan gue setelah nonton film ini. Sumpah, GILA! Seremnya dapet, ngagetinnya apalagi.
Jujur, ini film horor barat kedua yang bikin gue harus nutup mata terus selama pemutaran. The Omen yang pertama. Cukup menggambarkan bukan betapa menegangkannya film ini? Tontonlah.
Poster: dari sini.
1 comment June 11, 2009
Standar Kebahagiaan

Pagi ini, lagi-lagi di Kopaja P20 (saya kebetulan duduk di kursi tepat di belakang pak supir), sang supir terlibat pembicaraan ringan dengan si kondektur. Percakapan yang membuat saya jadi ngeh kalau ternyata perbedaan standar kebahagiaan masing-masing orang bisa saja dipengaruhi oleh harta yang dimiliki.
Pagi itu, rupanya, bis yang saya tumpangi ini sudah berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk setoran di hari yang sepagi itu. Sang kondektur dengan girang laporan ke si supir. “Udah megang Rp300.000 kita!” Si supir balas, “Mantabb.” “Siapa dulu supirnya,” kata si kenek lagi. Nada suara mereka berdua girang-gembira. Wajah dua orang partner kerja itu pun sumringah, terlihat agak cerah; tidak seperti biasanya supir-kondektur yang ambisius dan beringas. Masih dengan kegirangan yang sama, si kondektur merayu si supir, “Makan siang ini kita. Makan siang, ya, Bang.” Si supir hanya ber-iya-iya saja. “Makan Padang di Senen aja, ya, Bang,” kali ini nadanya seperti anak kecil yang hendak dibelikan sepatu baru untuk Lebaran. Saya sampai senyum-senyum sendiri mendengar dan melihat mereka. Bersamaan dengan itu, saya jadi sadar, bahwa nasi padang bisa jadi sangat mewah untuk mereka. Saya turut bahagia untuk rezeki mereka hari itu.
Saya selama ini selalu percaya, bahwa materi tak selalu bisa membahagiakan. Tapi, ternyata, hari ini saya harus menepis pernyataan itu. Ada kebahagiaan yang riil di depan saya, dan semua itu karena uang.
Foto: dari sini.
4 comments June 10, 2009
First Date, 06-07/06/09

Teman adalah kebersamaan. Persahabatan adalah merajut kenangan. Saya percaya kedua kalimat itu. Saya juga percaya, selama apa pun kita nggak ketemu teman-teman, yang namanya “teman”, pasti selalu bisa terhubung saat ketemu lagi.
Seperti ini. Acara reuni kecil-kecilan angkatan 2003 SMA 49. Ketika sama-sama ada waktu dan ada kemauan, kami pergi dua hari (saja) ke Puncak, menyewa vila dan menginap, bakar jagung, panggang ayam, cekakak-cekikik. Tapi, ya, nggak banyak yang bisa diharapkan. Maksudnya, dari sekian banyak jumlah siswa yang seangkatan, nggak ada setengahnya yang bisa ikut-serta dalam ajang “memunculkan memori” ini. Kecewa? Nggak juga. Karena, kami berhasil memaksimalkan yang ada. Sedikit pun cukup, asal berkualitas.
Namanya juga reuni, ini saatnya hubungan yang sempat terputus disambung lagi dan hubungan yang masih terikat dijadikan lebih erat lagi. Jujur, seperti saya. Semasa sekolah, saya nggak pernah yang namanya bicara dengan Doni Aditya. Tapi, First Date ini berhasil membuat kami bisa becanda dalam satu bahasa. Kami juga akhirnya tahu, kalau ada “anggota istimewa Dz49ers 2003″ lain hari itu, karena Upay memperkenalkan sang pacar.
Segala perubahan yang terjadi dalam diri kami masing-masing selama jeda kami sama-sama ‘menghilang’ juga jadi bahasan yang renyah. Roro, Pandu, dan Daniel yang membesar, misalnya (walaupun Daniel dari awal juga sudah besar :p). Memang hal kecil, tapi menyegarkan. Semacam pekerjaan atau perkuliahan. Semacam pacar-pacaran; mantan versus mantan, gebetan versus gebetan, atau sebangsanya. Semacam cerita-cerita kekonyolan masa ‘muda’ dulu. Hhhhh, it’s totally fun! Dan, berhasil mengisi kembali baterai ‘kenangan’ kami yang mulai kedip-kedip. Setidaknya, itu menurut saya.
First Date kami kelar sudah. Semoga ada lagi yang selanjutnya. Sahabat selamanyaaaaa! ^^
1 comment June 10, 2009
Cemburu
Cemburu adalah tengkuk cinta,
jika cinta sendiri adalah wajah.
-Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia.
Add comment June 5, 2009
Bentuk Baru dari Kata

Mediasatu, 5 Juni 2009
Pekerjaan boleh saja menyita waktu dan tenaga. Tapi, “ia” tak boleh merebut kebahagiaan kita. Itulah yang saya pegang.
Selama ini, saya senang-senang saja dengan pekerjaan saya; Editor Bahasa. Karena memang dasarnya, saya senang pada kata-kata, rangkaiannya, dan makna-maknanya yang banyak. Bermain dengan kata seperti masuk ke dalam dunia yang hanya kita sendiri yang tahu, karena mereka terbentuk sesuai dengan apa yang kita mau; soal arti, soal bentuk, dan sebangsanya.
Saya terbiasa pula mengakrabi kata-kata; dalam keseharian, dan dalam rutinitas. Itu tak membuat saya jenuh padanya. Tak juga membuat saya jadi kehabisan dirinya (kata-kata, red). Malah membuat saya jadi bersemangat untuk lebih mengenalnya.
Tapi, ada yang tidak beres belakangan ini. Pekerjaan ini tidak lagi bisa membahagiakan saya. “Ia” tidak lagi mampu membuat saya bersemangat ketika mengejanya. Ada yang salah. Saya tidak tahu di sebelah mana. Yang saya tahu pasti, ini bukan salah kata-kata. “Ia” masih tetap ‘mempesona’, walaupun tidak semempesona sebelumnya. Ini salah siapa? Kata-kata bukan jawabannya.
Lama saya pikir, mencari jawaban atas pertanyaan saya itu. Dan, ternyata, yang kejam adalah diri saya sendiri. Bukan saya tidak lagi mencintai mereka. Tapi, sepertinya, saya sudah tidak lagi menginginkan kata-kata dalam bentuk mereka sekarang. Saya ingin mereka dalam bentuk yang baru.
Karena saya ingin merangkai mereka, dan bukan hanya sekadar meralatnya. Itu masalah saya.
Foto: ini.
Add comment June 5, 2009
[Mungkin] Itulah Hidup
bisa saja hidup.
hari ini bunga tumbuh di mana-mana
dan keesokannya,
aku jengah.
Add comment June 2, 2009
Sibuk dengan Dunia Sendiri (?)
Belakangan, saya malas bicara. Hingga akhirnya malas juga berbagi lewat kata. Tapi, saya tetap butuh orang lain. Kalaupun saya tak bicara, setidaknya orang lain bisa terus bicara, walaupun akhirnya saya akan semakin terbiasa hanya mendengarkan. Setidaknya, saya tahu kalau saya masih ada.
Mungkin ini gawat. Memang. Ini gawat.
1 comment May 25, 2009


