Merelakan Senja

November 18, 2008

Rasanya aku ingin segera berangkat ke stasiun terdekat dari rumahku sekarang dan beperjalanan menuju kotamu malam ini juga. Tak peduli jam sudah menunjukkan pukul 00.07. Tak peduli uang di dompet hanya tinggal Rp60.000. Setelah melihat video yang merekam dirimu tertawa, rindu ini seperti menderas hingga ke pembuluh jantung dan akhirnya membuat degupnya semakin cepat. Baru kali ini aku menyadari, aku didera rindu yang luar biasa.

Kututup mataku sejenak. Mengatasi perih yang sulit untuk dilalui, walau sudah lewat tiga tahun. Aku tak bisa memilikimu. Bukan karena kamu tak mencintaiku. Bukan juga karena jarak yang sebegitu jauh yang jelas membatasi gerik kita. Tapi, lebih karena kita tak pernah mau berusaha. Lebih karena kamu tak sedikit saja berusaha mencintaiku dengan terbuka. Aku maklum. Mau tak mau harus mengerti bahwa kenyataannya budaya nrimo kota asalmu itu mendarah daging dalam dirimu yang notabene lahir, besar, dan memang asli Jawa.

00

Aku sayang kamu. Kata itu nekat aku ucapkan setahun yang lalu, saat terakhir kita bertemu. Kali itu, aku datang ke kotamu untuk menghadiri pernikahan kakakmu satu-satunya yang perempuan. Tak ada genggaman tangan, tak ada pelukan, tak ada tatapan mata, hanya duduk berdampingan saja di tepi pantai. Tapi, itu luar biasa menggetarkan. Aku sayang kamu. Ulangku sekali lagi yang dijawab diammu. Hingga akhirnya aku turut diam, dan semua membeku. Aku pikir, tak ada celah untukku.

Aku memang wanita. Lalu, apa salah jika aku yang lebih dulu menyatakan perasaan padamu? Tak ada yang salah dalam cinta, begitu kata pujangga. Dan, kamu pun seharusnya tahu. Aku tak salah jika membuatmu ternoda karena telah meluluhkan kesucian religiusmu yang selama ini tak tersentuh cinta. Kamu pun tak bersalah jika memang pilihan yang kamu ambil adalah diam. Sampai hari itu habis, matahari sudah menjingga, dan beberapa nelayan pun terlihat berangkat melaut, kamu tak kunjung bicara. Hingga akhirnya aku sudah harus pulang keesokan harinya, kamu masih juga tak memberikan petunjuk padaku tentang apa yang kamu rasakan padaku. Aku masih tetap hanya aku, dan kamu juga begitu. Tidak ada kita.

00

Masih di sudut kamarku di Jakarta, kubuka mataku mendapati sebuah foto berada di depan dua biji mataku sedang tersenyum. Foto itu berisi dua orang; wanita dan laki-laki. Yang wanita, kukenali sebagai diriku. Di sebelahku, kulihat seorang lelaki berambut pendek agak ikal yang senyumnya membuatku selalu gemas: Landung. Kumasih ingat celotehnya kala foto ini diambil. “Aku heran toh. Kamu setiap kali difoto mbok ya kenapa bisa selalu bagus? Gimana cara?” Aku hanya tersenyum mendengar kepolosannya. Dalam serabut otakku, aku berpikir betapa beruntungnya bisa dekat dengan orang setulus ini. Dan, kini, untuk yang keseribu kalinya, aku tersenyum bahagia melihat dan merasakan kenangan yang kugenggam ini. Walau hati Landung sudah entah di mana, dan kami tak pernah bisa bersama.

00

Sehari setelah kepulanganku dari kotamu tahun lalu, tempat asal Jenderal Sudirman, pahlawan besar Indonesia itu berasal, aku menerima telepon dari nomor provider yang sama denganku. Tengah malam. Walau mengantuk, aku tetap mengangkatnya. Landung. Kantukku langsung lenyap, berganti jompakan yang sulit dijelaskan.

Assalamu’alaikum…,” katanya dari seberan sana.

Wa’alaikum salam,” kataku tenang mendengar suaranya yang meneduhkan.

Basa-basi menjadi awal perbincangan kita. Nomor ini hanya nomor perdana yang dibelinya khusus untuk bicara denganku. Sebab, aslinya, nomor dia adalah nomor dari provider lain. Aku tersenyum lagi. Ini sudah lumayan, dia sudah mulai bergerak, pikirku dalam hati. Soalnya, kalau dipikir-pikir, Landung sangat tidak mau berusaha. Inilah hal yang paling aku benci darinya. Dan, ketika dia bergerak untuk membeli SIM card perdana dengan provider yang sama, ini setara dengan pengorbanan Patih Gadjah Mada untuk tidak makan buah palapa sebelum ia berhasil mempersatukan Nusantara. Berlebihan mungkin, tapi memang begitulah adanya.

Suaranya membuatku kangen setengah mati. Bahkan, basa-basinya terdengar sangat penting bagiku. Seolah kita sedang merencanakan masa depan bersama. Tak ada yang boleh terlewatkan. Bahkan, ketika ia hanya bilang, “Kamu bisa aja toh” itu seperti bos di kantor mengatakan “Baiklah, proposal kamu diterima.” Wuih, senangnya!

Selesailah basa-basi berpuluh-puluh menit itu. Dan, tibalah kita pada hidangan utama percakapan ini. Aku berdebar menunggu apa yang akan ia putuskan padaku. Sebab, jujur saja, ini benar-benar akan mengubah hidupku. Entah itu jawaban “ya” atau bahkan “tidak”. Keduanya sama-sama berpotensi untuk mengubah haluan kapal hidupku menjadi terarah atau bisa juga menjadi limbung tak tentu arah. Dengan nada suara yang direndahkan, ia mengatakan prolog yang belum-belum sudah melinukan segala persendian yang ada di tubuhku. “Aku ndak bisa, Ray.” Setelah kata-kata ini, aku seolah memutuskan tak lagi menjadi pendengar yang baik. Aku tuli, tak mau dengar apa-apa lagi. Karena pada akhirnya, apa pun semangat dan kekuatan yang kukatakan tak akan bisa membikin Landung lompat menggenggam tanganku dan berusaha. Ia terlalu takut akan silsilah keluarga kami yang dianggapnya terlalu dekat. Ia terlalu cepat mematikan citraan yang ada di benaknya tentang masa depan kami. Katanya, “Ibu dan Bapak akan menjadi orang pertama yang merobek-robek cita-cita kita. Dan, kalau sudah menyangkut Ibu dan Bapak, aku ndak bisa, Ray. Mereka sudah kasih liat ke aku, bahwa mereka ndak setuju dengan hubungan ini. Mereka memang tidak bicara, tapi itu cukup jelas buatku.”

Setelahnya, masih dalam percakapan yang sama, berulang-ulang kata-kata penyemangat dan “coba dulu” aku ucapkan hingga putus asa, ia tetap bergeming. Tak ada pilihan, katanya. Tiba-tiba, lidahku pahit. Kami harus mengakhiri semuanya bahkan sebelum ini dimulai. Padahal, kalaupun Landung mau berusaha sedikit saja, hanya dengan bangga mempertahankan hubungan ini, aku sudah mempersiapkan gubuk kesetiaan untuk ia diami selama hidupnya. Tapi, jeritanku tak terdengar hingga menyeberangi perbatasan dua provinsi. Terlalu jauh. Hingga yang terdengar olehku tak lagi suaranya yang teduh, tapi jeritanku sendiri yang menyayat malam. “Selamat datang, Akhir,” kataku seraya menutup telepon interlokal itu.

00

Hampir setahun sudah berlalu. Tapi, percakapan itu masih jelas kedengarannya. Penolakan yang manis, tapi merajam. Kesedihan yang menghancurkan, tapi tak ada dendam. Dan, kini, aku belajar merelakan. Merelakan bahwa Landung tak bisa bersamaku. Merelakan rasa ingin memiliki yang tak kunjung kesampaian. Mungkin memang harus disudahi. Dan, yang paling sulit dari proses rela-merelakan ini adalah aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya. Bahkan, ketika ada laki-laki yang sudah begitu mencintaiku datang dan merelakan semua kasih sayangnya untukku, aku tetap tak bisa membunuh cintaku untuk Landung.

Sore hari yang lain kuhabiskan di sebuah pantai berbeda. Angin yang datang pun sudah tak lagi membelai. Ia menampar. Anehnya, pembunuhan yang sudah kurencanakan atas cintaku pada Landung tak juga bisa kulaksanakan. Eksekusi sudah dijatuhkan, tapi kenapa tetap tak mati? Obatku hanya ini; pantai dan senja. Mungkin memang harus begini akhirnya. Tuhan tidak menyuruhku untuk melupakan. Merelakan saja cukup. Dan, ternyata itu pun belum sepenuhnya bisa kulakukan. Dan, senja seolah berbisik bahwa ia tahu kalau ini sulit. Seperti sore-sore yang lain, aku habis didekap pemakluman dari sang senja. Setelahnya, yang ada adalah aku luruh di pasir-pasir yang mulai gelap. Sendirian.

00

Tak ada lagi keinginan untuk susah payah berangkat ke kotamu. Sebab, aku sudah tahu itu percuma. Sia-sia. Tak akan ada yang berubah pula. Hingga sampailah aku pada titik di mana aku tahu, untuk merelakan Landung, ternyata aku juga harus merelakan senja—teman yang setiap saat mengobati rinduku pada Landung. Selamat tinggal.

Entry Filed under: renjana. Tags: .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

khakha on Mengejar Senja VII: Kota …
atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan keriting kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

November 2008
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Meta