Jadi Nggak Jadi Kasian…

December 10, 2008

cobek

Lagi-lagi pas mau ngantor, dan lagi-lagi pas lewat Lebak Lestari Indah. Hari ini, hari yang lain lagi, dan hari ini hari pertama di mana gue ngeliat bocah tukang cobek yang lagi duduk terpekur di tepi jalan komplek yang sepi. Dalam hati gue, mana ada yang beli kalo dia diem aja. Lagian, kenapa juga diemnya justru di daerah komplek kayak begini; sepi, nggak ada orang yang jalan-jalan (semua naik kendaraan).

Awalnya, kasian ngeliat bocah yang kalo dikira-kira, umurnya sekitar 10-an tahun itu. Raut mukanya suram. Memelas. Lesu. Awalnya (lagi), gue mikir dia itu kecapean karena harus menggondol cobek-cobek batu yang beratnya kayak apa. Mana harus keliling-keliling kota, jalan kaki pula. Mikirinnya aja gue udah cape. Timbullah rasa kasian. Tapi, jujur, gue nggak bertindak. Cuma merasa kasian dalam hati aja sembari melihat dia dari dalem angkot. Sampai sosoknya hilang.

Tapi, kok, beberapa meter setelahnya, gue melihat lagi bocah penjual cobek yang lain. Dampak yang lain gue rasain. Kali ini bukan kasian, tapi malah curiga. Kenapa begitu rapi?

Persoalan ini gue ‘bawa’ ke temen kantor gue, Pipil. Dan, ternyata dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di otak gue. Bahwa ternyata itu adalah cara mengemis model baru (mereka, para penjual cobek bermuka melas itu, akan menawarkan dagangan mereka dengan agak sedikit tekanan). Bahwa ternyata itu ada yang mengkoordinasi. Bahwa mereka ternyata juga memiliki ‘tuan’ yang wajib mereka beri setoran. Hhhh…udah deh…Nggak jadi kasian gue. Malah jadi ck ck ck aja.

Entry Filed under: hidup, jakarta. Tags: .

2 Comments Add your own

  • 1. tipol  |  November 7, 2009 at 18:10

    AA.. kalo yang dibandung teh saya ga ngemis saya jual cobek ambil dari padalarang.. mengisi waktu libur.. sekarang saya udah punya uang belajar komputer.ini di warnet.jangan prasangka buruk ya a..doain saya biar jadi orang sukses kalo liburan ga jualan cobeek deui.. trims.

    Reply
    • 2. atre  |  November 9, 2009 at 10:28

      mungkin memang nggak semua anak2 yang jualan cobek itu semacam apa yang gue liat dan apa yang gue tulis di sini. jadi, ya, mungkin tipol salah satu yang nggak begitu. pun lo beneran nggak ngemis, keep it. jangan sampe akhirnya jadi semacam yang gue liat itu.

      bersemangat!

      Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre
mio on Cinta Itu Adalah Menunggu

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan keriting kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Meta