Diam dan Bicara Bersamaan
March 31, 2009

Tempo hari, Jumat, 27 Maret 2009, seperti biasa saya naik angkot S12 dari Pasar Jumat menuju kantor. Saya duduk di bagian untuk 6 orang. Angkot kali ini agak lengang. Hanya ada saya, supir di balik kemudi, siswa SLTP di dekat pintu, dan kakek-nenek yang duduk tepat di depan saya.
Seperti hari-hari biasanya kalau sedang naik kendaraan, saya culang-cileung melihat sekeliling. Mencari objek humanis yang menarik dan bisa saya ‘baca’. Hingga ketika saya memasuki komplek Bona, saya baru menyadari kalau ternyata ada objek yang lebih menarik berada tepat di depan saya. Kakek-nenek.
Apa yang membuat saya tertarik awalnya adalah sang kakek dengan alaminya membawa tas wanita–yang saya yakin adalah tas si nenek. Hm, saya tertarik. Sebab, tak banyak pasangan renta yang masih bisa semesra ini. Mungkin akan wajar jika kita melihat pasangan muda-mudi yang melakukan ini. Pasangan muda yang memang masih “gue akan melakukan segalanya untuk loe”. Tapi, ini, ketika seolah mereka sudah bersama selamanya, mereka masih begitu saling menyayangi.
Sang kakek mengenakan kaus merah bata, celana bahan biru tua, dan pantovel hitam. Sementara, sang nenek bercelana bahan warna gading, baju ‘lama’ hijau berbunga-bunga, dan bersandal jepit.
Sembunyi-sembunyi, saya memerhatikan pasangan itu. Mereka tak banyak bicara. Malah bisa dikatakan, mereka tak berbicara sama sekali–setidaknya selama saya seperjalanan dengan mereka. Tapi, saya juga bisa merasakan, diamnya mereka itu menyamankan. Saya pun takjub. Sempat si nenek menguap lebar dan berkata pelan, “Ngantuk.” Kakek hanya menengok sedikit dan menepuk-nepuk paha si nenek. Dan, si nenek tersenyum.
Tak ada kata-kata. Hanya diam. Tapi, sekarang saya tahu, ketika mereka diam, mereka sekaligus berkomunikasi. Indahnya…
Foto: sxc.hu
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
khakha | April 1, 2009 at 13:18
gue selalu mendamba menjadi pasangan seperti itu.
betapa indahnya…
2.
Dewi Inggayatri | July 3, 2009 at 17:17
aq berharap juga seperti itu. mudah2an aq & mas sun cepat menikah dan tetap awet sampai kakek nenek. amin….