Eksistensialisme Minus Arogan
April 14, 2009
Mengingat soal teori eksistensialisme, kita pasti sangat sadar kalau setiap manusia jelas ingin terlihat berbeda dari orang lain dan dikenal dengan kesejatian dirinya. Unik. Berkarakter. Itu memang sudah sewajarnya. Manusiawi. Makanya, timbul istilah “narsis” yang belakangan jadi kata yang sering digunakan. Dalam postingan ini, saya bukan mau membahas soal asal mula istilah “narsis”. Saya hanya ingin mengutarakan contoh. Contoh soal keinginberbedaan manusia. Bukan contoh luar biasa atau spesial, tapi malah contoh kecil yang mungkin karena terlalu kecilnya jadi tak pernah disadari.
Saya suka mengamati orang lain, kalau tidak bisa disebut ‘membaca’. Dan, yang saya lihat, keinginberbedaan manusia zaman sekarang, kok, berbelok ke area negatif, ya? Kenapa? Begini, keinginberbedaan manusia kini merujuk ke tingkatan yang lebih, segala-galanya lebih. Kalau baru sampai sini, Anda-Anda pasti bingung di mana letak negatifnya. Makanya, begini, saya teruskan saja bicaranya.
Saya tahu kalau setiap manusia inginnya lebih dari orang lain. Ya harta, ya penampilan, ya ilmu, segalanya. Kalau perlu, lebihnya itu dicari-cari. Padahal, kenyataannya, kadang-kadang kita malah tanpa sadar sudah kalah dari orang lain. Tapi, kelebihan pasti dicari-cari, supaya kita berbeda, supaya kita lebih dari orang lain. Dan, menurut pendapat sebagian banyak orang yang saya tanyai, hal itu tidak jadi masalah asal masih di ranah (+). Tapi, beda urusannya kalau sudah menyangkut penyakit hati yang namanya sombong. Ini sudah susah. Ini yang saya sebut sudah negatif.
Contohnya begini. Ada Si Anu yang ceritanya naik Kijang keluaran ’90-an. Lalu, ada Si Sini yang naik Benz keluaran ‘90-an juga. Kalau dilihat dari fisik, sih, ya, sudah jelas kalau pemilik Benz yang menang. Tapi, kadang-kadang, suka terjadi, Si Anu punya pembenaran sendiri. Ah, dia memang pake Mercedes, tapi biarpun cuma Kijang, mobil saya punya audiomobil yang menggelegar bahkan mungkin melebihi Benz Si Sini. Segala macam pembenaran dikerahkan untuk membuat pikirannya tenang. Sebenernya buat apa itu?
Ada contoh kecil yang lain lagi. Si A dan si B sama-sama naik angkot. Mereka remaja perempuan, gadis yang sedang mekar-mekarnya, tapi sepertinya beda ‘kelas’. Si A anak kuliahan dan si B hanya ‘orang biasa’. Si A pasti muncul dalam pikirannya tidak ingin disamakan dengan si B. Pasti. Suatu identitas yang membuat ia lebih dari orang lain. Seperti, dalam hatinya dia berpikir, “Ah, kuku dia jelek banget. Saya beda. Saya pake kutek. Bagus.” Atau, “Ih, dia pake sepatu murahan yang Rp25.000-an, kalau saya kan beda. Saya pake sepatu bermerek. Adidas original. Tau sendiri kan harganya berapaan.” Sombooooooooong. Ini sudah jelek. Dan, memang, semua manusia itu pasti punya kesulitan yang sama; susah untuk jadi tidak sombong.
Saya tidak tahu postingan ini mau mengarah ke mana. Tapi, yang jelas, jangan dikira dengan menulis begini saya sudah bebas dari contoh-contoh kecil eksistensialisme negatif yang lain. Kadang-kadang, tanpa sadar, saya juga sombong. Makanya, cepat-cepat, saya sering mohon ampun kepada Allah. Langsung astaghfirullah. Semua kan pasti tahu, Allah tidak suka kalau kita sombong, bahkan kesombongan yang hanya sebesar biji sawi.
Saya jadi ingin belajar ilmu baru: Eksis tanpa Sombong. Apa kira-kira Anda tahu siapa guru terbaik dari mata kuliah/pelajaran ini? Kalaupun ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa masuk kelas ini, mungkin itu adalah sudah lulus materi P4: Pintar Pintar Perbaiki Perilaku. Ha-ha.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed