Standar Kebahagiaan
June 10, 2009

Pagi ini, lagi-lagi di Kopaja P20 (saya kebetulan duduk di kursi tepat di belakang pak supir), sang supir terlibat pembicaraan ringan dengan si kondektur. Percakapan yang membuat saya jadi ngeh kalau ternyata perbedaan standar kebahagiaan masing-masing orang bisa saja dipengaruhi oleh harta yang dimiliki.
Pagi itu, rupanya, bis yang saya tumpangi ini sudah berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk setoran di hari yang sepagi itu. Sang kondektur dengan girang laporan ke si supir. “Udah megang Rp300.000 kita!” Si supir balas, “Mantabb.” “Siapa dulu supirnya,” kata si kenek lagi. Nada suara mereka berdua girang-gembira. Wajah dua orang partner kerja itu pun sumringah, terlihat agak cerah; tidak seperti biasanya supir-kondektur yang ambisius dan beringas. Masih dengan kegirangan yang sama, si kondektur merayu si supir, “Makan siang ini kita. Makan siang, ya, Bang.” Si supir hanya ber-iya-iya saja. “Makan Padang di Senen aja, ya, Bang,” kali ini nadanya seperti anak kecil yang hendak dibelikan sepatu baru untuk Lebaran. Saya sampai senyum-senyum sendiri mendengar dan melihat mereka. Bersamaan dengan itu, saya jadi sadar, bahwa nasi padang bisa jadi sangat mewah untuk mereka. Saya turut bahagia untuk rezeki mereka hari itu.
Saya selama ini selalu percaya, bahwa materi tak selalu bisa membahagiakan. Tapi, ternyata, hari ini saya harus menepis pernyataan itu. Ada kebahagiaan yang riil di depan saya, dan semua itu karena uang.
Foto: dari sini.
Entry Filed under: hidup, jakarta, kebahagiaan. Tags: bahagia, dunia, uang.
7 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
capungcapungkecil | June 10, 2009 at 13:53
saya minta gambarnya ya?
seharusnya menurut teori tidak seperti itu, tapi jaman lah yang membawa pemahaman kita menjadi seperti itu, sekarang, tanpa duit mo jadi apa, klo mo hidup tanpa duit ya di hutan saja,. tapi yang tetep perlu di pegang, duit bukanlah segalanya
2.
atre | June 10, 2009 at 15:38
gambarnya dari sxc.hu loh, capungcapungkecil. tuh, gue cantumin sumbernya di taut foto paling bawah teks.
memang, duit bukanlah segalanya.
setujuuuuu!
^^
3.
khakha | June 10, 2009 at 15:19
hidup kita tetap membutuhkan materi. entah dengan alasan kebutuhan atau status sosial. yang jelas, kita tetap butuh materi.
perbedaan pandangan tentang materi tersebut gue rasa tergantung pada hasil pemikiran setiap individu.
materi memang tidak selalu membahagiakan, tetapi tetap menjadi faktor penting untuk kebahagiaan.
4.
capungcapungkecil | June 10, 2009 at 18:34
wah, makasih buat link nya.. tau deh ga keliatan link nya
stock photo ya, bisa jadi bahan ngramein blog amatir ku nih
, hehe..
slam kenal mbak atre
5.
tazty | July 14, 2009 at 1:03
senang sekaligus menampar. kadang kita terlalu tinggi menetapkan standar kebahagiaan, padahal sebenernya dari hal kecil pun kita bisa merasakannya
salam kenal
6.
Zizima | July 24, 2009 at 17:17
salam kenal ya..
seneng banget baca tulisan yang ini..
kadang miris kalo ternyata sesuatu yang kita anggap byasa jadi luar byasa banget buat sebagian orang.
Kaya misalnya nasi padang tadi
7.
atre | September 14, 2009 at 10:59
he eh.
standar kebahagiaan tiap orang emang beda. banget.
makanya mungkin mulai sekarang kita harus mensyukuri sesedikit pun rejeki yang kita dapet.
iya ga?
ohohoho…