[Mungkin] Saya Kesepian
July 1, 2009
Saya selalu percaya selama ini bahwa segala sesuatunya baik-baik saja—kalau tidak dikatakan datar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang saya. Tidak ada juga yang menarik. Saking lamanya saya mempercayai hal ini, sampai-sampai, ‘luka’ yang masih sedikit nyeri, bisa saya lupakan. Tapi, ternyata, “ia” tidak saya lupakan sama sekali. Ia hanya terlupakan karena lama tidak disentuh. Dan, ketika hari ini ia tersentuh, saya limbung. Seperti ada orang lain yang memukul bahu saya dari belakang.
Sudah lebih dari 10 tahun. Angka yang sangat lumayan bagi saya untuk sebuah perpisahan. Sangat lama. Dan, selama itu, saya mengubur sedikit demi sedikit luka saya demi hidup yang lebih bahagia, agar dunia saya bisa jadi lebih baik. Sepuluh tahun. Dan, ternyata lukanya belum juga kering. Hanya dengan melihat satu scene di sebuah film, saya kembali ‘kesakitan’. Padahal, hanya satu scene. Saya tersentak oleh perasaan yang tak tahulah harus saya sebut apa. Rindu, tapi saya benci. Sepi, tapi rasanya saya tidak ingin bersatu kembali. Satu per satu orang-orang yang paling saya cintai ‘pergi’. Tidak mati. Tapi ‘pergi’ dari saya. Seperti lepas. Pertama dia, lalu ia, dan dilanjutkan mereka. Mereka ada, tapi mereka tidak ada. Saya lalu jadi sendirian. Saya sampai lupa kapan terakhir kali saya merasa “dekat” dengan keluarga kecil saya. Hingga akhirnya saya berhenti mempertanyakan, dan saya mengambil jarak demi menebus keasingan. Saya lupa bagaimana rasanya pelukan mereka. Saya lupa bagaimana indahnya senyum mereka. Bahkan, saya lupa bagaimana rasanya memikirkan mereka.
Ah, lagi-lagi saya dipermainkan kenyataan. Lagi-lagi pertanyaan “kenapa harus saya” dan “kenapa harus kami” kembali muncul, setelah berpuluh-puluh tahun tidak pernah teringat. Dan, lagi-lagi (pula), saya tidak punya jawaban. Dunia pun kembali hanya ada saya. Sepi.
Entry Filed under: hidup, keluarga segalanya, kenyataan. Tags: bawah alam sadar, Cheaper by the Dozen, sad and lonely.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Eduardus | September 25, 2009 at 11:49
Kadangkala kesepian itu menyiksa. Sesungguhnya, setiap kesepian adalah suatu awal untuk kita berlangkah ke proses yang baru. Adakah yang hidup itu bertumbuh dan berkembang dalam kebisingan? Semuanya mengalir dalam kesepian. Ya….seperti itulah hidup.