Cibeo, Baduy Dalam

Perjalanan menuju, di, dan keluar dari destinasi ini sungguh-sungguh menguji ketahanan diri. Jika tidak tahan, Anda bisa-bisa depresi, dan akhirnya sakit. Tapi jika ternyata berhasil menemukan celah keindahan yang memang terhampar di setiap sudut Baduy, Anda pasti ingin selalu kembali ke tempat ini. Inilah bagian pertama perjalanan saya di Baduy; menuju Kampung Cibeo, salah satu kampung di Baduy Dalam selain Cikertawana dan Cikeusik.

Perjalanan dimulai ketika pada 9 Oktober 2010, saya bersama teman seperjalanan, Bella Moulina, dan pendamping perjalanan, Arif Budiman bertemu Pak Erwin, orang yang akan mendampingi kami selama di Baduy, di Polsek Rangkasbitung sekitar pukul 17.00. Tak berlama-lama kami segera menuju ke Bojong Manik, Rangkasbitung untuk makan di warung nasi, dan membeli sembako untuk kami bawa ke Baduy Dalam. Secepat kilat semua selesai, kami langsung menuju Kampung Nangerang, Baduy Luar dengan mobil yang disupiri Aa’ Maman, supir kami yang setia.

Nangerang. Kala itu, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Kalau di Jakarta, mungkin jam segini masih bisa dibilang “sore”. Tapi, lain ceritanya kalau kita ada di kawasan Baduy. Dikelilingi jalan aspal yang berlubang di sana-sini dan ladang-ladang luas, juga kegelapan yang menyelimuti, Baduy sungguh sunyi. Aktivitas bisa dibilang sudah berhenti sejak gelap datang. Karena toh di sana listrik memang belum diberdayakan.

Sudah malam, tapi kami masih harus segera berjalan kaki menuju Kampung Cibeo, malam ini juga. Kenapa harus malam ini? Atau, ubah dulu pertanyaannya, kenapa harus tetap beranjak walau sudah malam? Menurut Pak Erwin, malam adalah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan panjang ini. Kita tidak akan melihat rute yang begitu panjang. Jika kita sudah tahu jalan dan membayangkan jauhnya, salah-salah kita bisa gontai sebelum bertanding. Belum lagi kalau siang, udara yang sangat panas menjadi faktor minus buat kita. Terik matahari bisa menguras energi jauh lebih jahat daripada angin malam.

“Sekitar tiga jam kita harus jalan,” kata-kata Pak Erwin menyadarkan saya bahwa, yak, di sinilah perjalanan besar kami dimulai–sampai lima hari ke depan.

Dan, pukul 19.30, kami mulai trekking. Dengan carrier yang menggigit bahu dan bantuan headlamp juga senter untuk menerangi hutan yang gelap, saya, Bella, Arif, dan Pak Erwin menapak, naik-turun bukit. Langit malam itu (untungnya) cerah, berbintang banyak, dan berbulan sabit cantik. Pak Erwin cerita dengan bahasa Sunda keindonesia-indonesiaan yang kira-kira begini maksudnya, “Kemarin-kemarin itu, biasanya malam-malam hujan. Syukur hari ini nggak, malah cerah.” Pikiran saya langsung melayang-layang, membayangkan apa jadinya jika ternyata perjalanan panjang dengan kaki ini harus ‘ditemani’ hujan? Alamak.

Tidak terasa, sekitar sejam berjalan, kami sampai di Kampung Ciranji. Sepi. Gelap. Sekali lagi, kampung-kampung di Baduy Dalam dan Luar memang tidak memanfaatkan listrik. Melanggar adat, dianggapnya. Sama melanggarnya seperti menanam singkong di Baduy Dalam atau menggunakan sabun untuk mandi di sungai.

“Jam segini (itu sekitar nyaris pukul 21.00), kami memang sudah di dalam rumah. Biasanya cuma ngobrol-ngobrol saja atau malah sudah tidur,” Pak Erwin cerita lagi.

Tidak jauh dari Ciranji, kami melewati Kampung Cijengkol dan Cikadu. Ah ya,di sini juga sepi. Setelah melewati beberapa kampung, saya baru menyadari perihal rumah khas masyarakat Kanekes. Rumah mereka yang terdiri dari atap yang terbuat dari ijuk dan anyaman daun (disebut tirai), bilik (untuk dinding), dan berbentuk panggung (kebanyakan menggunakan bahan bambu untuk penyangga rumah), serta memiliki satu “para” (loteng) untuk menyimpan barang-barang.

Di sekitar kawasan kampung, biasanya ada pula deretan bangunan-bangunan menyerupai rumah. Tapi, jangan tertipu, karena ternyata itu adalah lumbung padi; tempat masyarakat Baduy menyimpan pasokan padi mereka sampai beberapa tahun ke depan.

Perjalanan berlanjut, dan kami melewati sebuah jembatan yang disusun menggunakan bambu. Nama jembatan ini Leuwi Lesung, karena (mungkin) melengkung menyerupai bentuk lesung (alat untuk menumbuk padi). Sampai di sini, kami istirahat sejenak. Memandangi bintang yang tampak sangat dekat dari darat bisa jadi obat mujarab untuk mengobati letih kaki dan bahu yang mulai ‘panas’. Sebagai latar belakang, suara jangkrik dan gemericik air sungai jadi penyempurna waktu istirahat kami. Tapi, perjalanan harus berlanjut. Masih ada sekitar satu jam lagi perjalanan.

Setelah melewati jembatan, kembali jalan-setapak ada di depan kami. Sampai akhirnya kami bertemu lagi kumpulan lumbung dan tak lama tiba di kampung yang lain lagi, Kampung Cikertawana. Di sini, Pak Erwin mewanti-wanti, “Jangan senter-senter ke atas, ke arah pohon, ya. Senternya ke arah jalan saja.” Masalah kenapa sudah sangat ingin saya tanyakan, tapi tahu-tahu Pak Erwin melanjutkan, “Nanti saya cerita di rumah.” Deg-degan mulai melanda, tapi perjalanan harus tetap berlanjut.

Semakin lama perjalanan, hampir di jam yang ketiga, kami semakin tidak berisik. Hening. Yang kedengaran hanya suara jangkrik dan langkah kami. Dingin juga lama-lama terasa. “Biasanya begini, kalau siang tidak hujan, malamnya pasti di sini dingin sekali,” itu suara Pak Erwin lagi. “Masih berapa lama lagi, Pak, sampai di Cibeo?” saya yang bertanya. “Sebentar lagi, sebentar lagi…” jawab Pak Erwin.

Dan, beberapa belas menitan setelah bicara begitu, kami sampai lagi di kampung yang lain lagi. Inilah Cibeo, dan dengan segera, Pak Erwin berbelok ke arah satu rumah dan masuk ke sana. Ternyata, inilah rumah Bapak Surjaya, orangtua Pak Erwin. Rumah ini yang akan menjadi tempat tinggal kami dua hari mendatang.

“Ayo, silakan, silakan. Langsung masuk saja, jangan istirahat di luar,” Pak Erwin bilang, setelah melihat tetangga-tetangga Pak Surjaya mulai keluar satu per satu dan menghampiri rumah itu. Rupanya, kedatangan kami menarik perhatian. Jadi, untuk mereduksinya, kami harus segera ‘disimpan’.

Kesan paling pertama yang muncul ketika memasuki rumah Pak Surjaya: dingin. Kesan setelahnya, gelap. Lalu, ramai. Di dalam rumah, para tuan rumah sudah menunggu dengan posisi duduk yang (entah bagaimana) begitu berwibawa. Dengan hanya diterangi lilin di sana-sini, siluet wajah para anggota keluarga Surjaya begitu tegas, dengan tatapan mata yang tajam (setelahnya, baru saya tahu kalau ternyata memang begitulah karakter wajah masyarakat Baduy). Bisa dibilang, inilah keluarga saya beberapa hari ke depan: Bapak dan Ibu Surjaya, Kang Sanip, Kang Juli, dan Sarinah (adik-adik Pak Erwin), serta Pak Erwin sendiri.

Menutup malam yang dingin itu, Pak Erwin tiba-tiba berbisik kepada saya, Bella, dan Arif tentang hal yang sudah saya lupa. “Tadi waktu saya bilang jangan senter-senter ke atas, tempat itu ada yang ‘menunggu’. Jadi, jangan sampai kita ganggu.” Setelah Pak Erwin bilang begitu, malam itu jadi berkali-kali jauh lebih dingin. Firasat saya, Cibeo ini akan jadi sangat menarik, pikir saya sebelum akhirnya pulas.