Jakarta Raya Aeromodelling Club: Terbang dari Darat*

Dalam satu wadah komunitas, orang-orang ini berbagi ilmu, mengulik, lalu menerbangkan pesawat model. Pesawat-pesawat itu, mulai helikopter, glider, sampai control line, menunggu lepas landas.

DSC_9147

 

Ferri Iriandi berdiri di atas rumput di kawasan Halim Perdanakusuma. Kedua tangannya sibuk mengulik-ngulik apa yang disebut remote control. Di hadapannya, sebuah helikopter kecil terbang setinggi wajahnya. Ia baru saja lepas landas dari salah satu dari dua helipad yang ada di lahan tersebut. Sementara, di landasan pacu berukuran 200 x 10 meter, dua pesawat berkombinasi warna putih dan magenta menunggu giliran terbang.

Di sisi lain di lahan seluas 5 hektar ini, berdiri shelter memanjang 50 meter berisi tempat duduk bertangga-tangga, serta meja-meja kayu yang dilengkapi kursi kayu panjang. Lalu, kelihatan sekitar 8 orang duduk-duduk di sana, ngobrol apa saja, mulai dari remote control model terbaru yang menggunakan sidik jari, hingga pembicaraan tentang pesawat model anyar milik seseorang. Siapa mereka?

Belajar Aeromodelling: Tidak Mudah, tetapi Juga Tidak Sulit
Setidaknya, sudah lebih dari ratusan orang yang rutin tukar-bagi obrolan tentang aeromodelling di sebuah komunitas bernama Jakarta Raya Aeromodelling Club (JAC) ini. Sejak 8 Juni 1980, JAC tidak pernah mati, tetapi malah berkembang semakin besar. Dari mulai 30-an orang, hingga kini mencapai 250 orang.

JAC berada di bawah naungan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Basisnya ada di Jakarta. Setiap hari, para anggota JAC beraktivitas di lapangan Dirgantara III Lanud Halim Perdanakusuma, Pondok Gede.

DSC_9161

Lapangan latih JAC yang indah; banyak dandelion dan rerumputan.

DSC_9156

Sebelum ajeg di Halim sejak 1986, JAC sejak awal berdiri sempat beberapa kali berpindah tempat latihan. Sebut saja MBAU Pancoran, Lapangan Terbang Pondok Cabe, lalu Cilangkap, pernah menjadi markas mereka.

Para aeromodeller di JAC ini berasal dari bermacam kalangan, mulai dari anak sekolah, pengusaha, pegawai negeri, dokter, sampai pilot. Soal usia juga beragam. JAC setidaknya pernah punya anggota termuda berusia 5 tahun, dan 70-an tahun untuk yang tertua. “Selama koordinasi mata dan tangan masih bagus, juga masih kepingin adrenalinnya terpacu, bolehlah bergabung di JAC,” kata Ferri.
Peluh masih membayang di dahi Ferri setelah berterik-terik menerbangkan helikopternya. Namun, setelah kembali ke shelter, semangat bercerita tidak habis.

Ia sendiri sudah mulai bergabung dengan JAC sejak 1982. Ketika ia kecil, mainan yang baru ada remote control-nya hanya mobil model. Sejak kecil itulah, ia sudah berangan-angan, “Coba ada pesawat yang ada remote control.” Hingga ketika beranjak dewasa, ia menemukan buku aeromodelling di toko buku dan jatuh cinta seketika.

DSC_9149

Seorang anggota JAC yang lain, Rully M. Simorangkir, lain lagi. Ketertarikannya terhadap aeromodelling sejak sekitar tahun 1980-an itu muncul karena kelelakiannya. “Setiap anak laki-laki dari kecil pasti mimpinya kepingin terbang. Sudah main pesawat-pesawatan. Saya juga begitu.” Rully kemudian sempat mengambil lisensi pilot di luar negeri karena keinginan terbangnya itu. Hanya, karena terganjal urusan perizinan dan sewa pesawat yang rumit, ia gagal menekuni profesi pilot. “Akhirnya main aeromodelling saja,” ucap Rully.

Nyatanya, pesawat-pesawat model ini tidak asal diterbangkan oleh seorang aeromodeller. Aeromodelling memang ‘hanya’ hobi, tetapi tidak sesederhana itu—walaupun tidak terlalu rumit pula.

Di komunitas aeromodelling, termasuk di JAC, ada level-level di antara para anggotanya. Yaitu, beginner, intermediate, dan advance. Setiap pemula harus didampingi instruktur. Instruktur di JAC sendiri berasal dari teman-teman komunitas senior yang jauh lebih berpengalaman dan punya banyak waktu untuk mendampingi.

Proses latihan aeromodelling sama saja seperti proses latihan pesawat asli. Pertama, aeromodeller harus menggunakan pesawat latih terlebih dulu. Jika dirasa sudah menguasai teknik dasar—seperti lepas landas, mendarat, dan gaya angkat—yang benar, pesawat bisa diganti dengan pesawat intermediate. Di level ini, semestinya para aeromodeller sudah bisa bermanuver akrobatik yang sederhana. Kalau sudah khatam, masuk level advance. “Mudah, nggak njelimet seperti di sekolah, kok, yang harus belajar aerodinamika,” masih kata Ferri.

DSC_9148

Aeromodelling utuh.

DSC_9151

Aeromodelling yang sedang diutak-atik.

Lamanya proses latihan tiap orang ini sangat relatif. Tergantung karakter orangnya, atau mungkin instrukturnya. Ferri menunjuk seorang remaja lelaki yang sedang asyik mengutak-atik sebuah pesawat. Namanya Adriel M. Simorangkir—anak lelaki Rully Simorangkir. Usianya 16 tahun. Ia salah satu anggota JAC yang termuda.

Ferri adalah instruktur Adriel. Remaja lelaki itu hanya butuh waktu sebulan untuk sampai di level intermediate. “Awalnya, saya pakai simulator di komputer belajar helikopter. Setelah familiar dengan kontrolnya, baru saya belajar ke sini (JAC, Lanud Halim Perdanakusuma). Kelihatannya ribet, tapi nggak terlalu susah. Seru!” suara Adriel bersemangat.

Bukan Hobi yang (Melulu) Mahal
Tidak lama kemudian, Adriel lalu kelihatan memasuki landasan pacu. “Pak Ferri, yuk,” Adriel mengajak sang instruktur. Salah satu pesawat model berwarna putih-magenta yang sedari tadi terparkir di landasan pacu rupanya milik Adriel. Pesawat itulah yang diterbangkan oleh Ferri dan Adriel.

DSC_9143

Si pesawat yang harganya mencapai Rp100 juta. Wow!

Ferri dan Adriel sudah siap di landasan pacu ketika Rully mengatakan, “Ini pertama kalinya pesawat itu terbang.” Semua aeromodeller di Lanud Halim Perdanakusuma saat itu tidak sekedip pun melepaskan pandang dari landasan pacu. Rupanya, penerbangan pertama sebuah pesawat model adalah peristiwa besar (mungkin juga penting). Alasannya, seorang aeromodeller tidak tahu karakter terbang pesawat di kali pertama terbang. Apalagi, pesawat model tersebut harganya mencapai Rp100 juta. Ya, pesawat milik Adriel itu berharga sekitaran itu.

Apa lantas aeromodelling menjadi hobi yang mahal? Nyatanya tidak. “Kalau mau tidak mahal, itu bisa. Ada triknya,” tegas Ferri.
Caranya, misalnya, kita bisa membuat sendiri pesawat aeromodelling dengan bahan-bahan yang mudah didapat. Sebutlah foam. Atau, tricky ketika memilih kategori aeromodelling. Terbang bebas yang paling sederhana, hanya menghabiskan biaya Rp50-100 ribu untuk pesawat. Itu pun sudah pesawat kelas internasional dan bisa mengikuti pertandingan internasional, semisal kejurnas yang rutin digelar JAC, PON, ASEAN, sampai F3C World Championship.

DSC_9159

Salah satu aeromodelling jenis helikopter.

Untuk itu, bagi siapa pun yang tertarik mencoba aeromodelling, tidak perlu takut. “Just do it,” singkat Ferri. Mengingat kini pesawat model sudah mudah dicari dan harganya relatif terjangkau. Setelah itu, cari klub terdekat yang memiliki instruktur mumpuni. Selamat terbang dari darat!

Jakarta Raya Aeromodelling Club (JAC)
Situs: http://www.jac.or.id
E-mail: sekretariat@jac.or.id

*Tulisan ini terbit di Majalah iMagz edisi #1, Mei 2013.