#BaladaFreelancer Tibalah Ubud Writers and Readers Festival 2013

Nama Astri Apriyani berwarna hitam dicetak tebal dalam kertas putih bersih. Seorang lelaki yang mengenakan udheng di kepala dan kain sarong sebagai bawahan, mengangkat kertas tersebut tinggi-tinggi, sementara di kanan-kirinya semua orang ramai melakukan hal yang sama. Beruntung, ketika tiba di pintu kedatangan Bandara Internasional Ngurah Rai, saya bisa langsung melihat lelaki itu. Kaos putihnya yang bertuliskan Ubud Writers and Readers Festival 2013 mudah dikenali.

Tanggal 11 Oktober 2013 akhirnya tiba juga. Hari ini, Ubud Writers and Readers Festival 2013 resmi dibuka. Gala opening tepatnya dilangsungkan malam hari. Saya datang ke Ubud sebagai undangan penulis muda yang didukung oleh Hivos. Gelar “penulis muda” tersebut artinya adalah saya akan dilibatkan dalam beberapa panel, beberapa acara pembacaan sajak, sampai-sampai diikutsertakan sebagai pengisi acara dalam acara opening bertajuk Tribute Night to Kartini di Lotus Cafe.

Kenapa akhirnya saya bisa diundang ke Ubud Writers and Readers Festival 2013? Beberapa bulan sebelum UWRF13 digelar, sekitaran Februari, UWRF13 membuka pintu bagi para penulis untuk mengirimkan karya-karyanya. Bisa berupa cerpen, sajak, novel, esai, hingga karya jurnalistik. Setiap kategori tersebut mengharuskan mengirimkan beberapa karya. Saya mengirimkan karya-karya sajak yang diharuskan minimal 30 sajak.

Februari berlalu, Maret, April, hingga Mei nyaris berlalu. Saya sampai lupa bahwa pernah mengirimkan karya-karya untuk UWRF13. Hingga suatu hari di akhir Mei, Kadek Purnami, manajer program UWRF, mengirimkan e-mail. Saat itu, saya sedang menjelajah Maluku bersama teman-teman #BarondaMaluku.

Saya ingat betul, ketika leyeh-leyeh di Pulau Seram, mencari peruntungan pada sinyal, saya lalu mengecek e-mail dan sampailah kabar itu. Akh, merasa gembira betul dan sangat bersyukur. Senja hari itu rasanya lebih cantik, dan makanan hari itu terasa lebih lezat di lidah. Kabarnya, dari 500-an orang, diseleksilah para penulis muda ini hingga menjadi 16 orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan dari beberapa kategori sastra. Yaitu, Adek Risma Dedees dari Bengkulu dan Tosca Santoso dari Jakarta mewakili novel; Bayu Maitra dari Jakarta mewakili karya jurnalistik; Dea Anugrah dari Bangka–tetapi kini berdomisili di Yogyakarta–mewakili esai; Bernard Batubara dari Pontianak, Emil Amir dari Makassar, Fitrawan Umar dari Sulawesi Selatan, Gusrianto dari Padang, Ilham Q Moehiddin dari Kendari, Ramayda Akmal dari Yogyakarta, dan Skylashtar Maryam dari Bandung mewakili cerpen; lalu saya dari Jakarta, Alek Subairi dari Surabaya, Encep Jujun dari Tasikmalaya, Frischa Aswarini dari Bali, dan Mario F. Lawi dari Kupang mewakili sajak. Dewi Lestari, Sapardi Djoko Damono, I Nyoman Darma Putra, dan M.Litt adalah nama-nama yang menjadi kurator/juri tulisan-tulisan para penulis muda yang masuk ke panitia UWRF13.

***

Menyusuri jalan dari Denpasar menuju Ubud, penjemput dan sekaligus sopir bernama Pak Putu bercerita banyak. Mulai tanggal 9, ia dan teman-teman yang bertugas menjemput para penulis, sudah sibuk betul. Dalam satu hari, ia bisa empat kali bolak-balik Bandara Ngurah Rai-Ubud dan menjemput bisa jadi 3-5 penulis dalam satu kali penjemputan. Sementara kita tahu, Ngurah Rai-Ubud memakan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Itu pun jika tidak macet. Saya hanya senyum-senyum saja. Mengangguk-angguk mencoba mengerti.

“Bali bulan ini lagi sibuk, Mbak. Setelah APEC selesai, langsung Ubud Writers,” suara Pak Putu terdengar bangga.

“Sudah berapa kali ke Ubud?” ia bertanya dengan suara yang sopan.

“Oh, baru sekali ini, Pak. Selama ini ke Bali cuma untuk singgah atau ya paling ke Denpasar, Jimbaran, Uluwatu, gitu-gitu.”

Pak Putu kelihatan mengangguk-angguk. Matanya tetap lurus ke depan, ke jalan raya. Sesekali ia kedapatan melirik ke arah saya. Saya memang memilih duduk di depan, biar bisa berbincang-bincang banyak dengan Pak Putu. Ia kemudian terlihat tertarik dan bertanya, “Mbak asli dari mana?” Yang kemudian saya jawab, “Asli Jakarta, Pak Putu.” Ia melanjutkan pertanyaan.

“Mbak pengarang?”

Saya sebetulnya bingung menjawab pertanyaan Pak Putu ini. Jika pertanyaan ia adalah, “Mbak penulis?”, saya kira saya akan lebih mudah menjawabnya. Selama ini, itulah memang pekerjaan dan ketertarikan saya yang paling akbar di dunia ini. Setelah itu baru traveling, lalu fotografi.

Apakah saya pengarang?

Saya hanya bisa menceritakan kehidupan saya kepada Pak Putu sejak 2003, tepat ketika saya mulai menjadikan menulis sebagai kecintaan hidup, hingga 2008, menjadi pekerjaan. Saya belum menghasilkan satu pun buku. Saya juga tidak pernah menerbitkan karya-karya fiksi saya ke berbagai media. Saya malu sendiri kalau ada orang yang menyebut saya sebagai pengarang.

Entah kenapa saya  merasa perlu untuk menceritakan segalanya itu kepada Pak Putu. Saya juga tidak tahu. Terjadi begitu saja. Hingga di akhir cerita, Pak Putu yang mengambil kesimpulan.

“Mbak masih muda begini sudah jadi penulis hebat. Padahal, saya pikir Mbak masih SMA. Semoga nanti kalo ke Ubud lagi, sudah jadi pengarang hebat,” ia menaikkan sebelah alisnya.

***

Ketika di tengah perjalanan, saya ingat Sergius Derick Adeboi, adik kelas, Sastra Indonesia Universitas Indonesia angkatan 2010. Ia adalah gitaris yang akan menemani saya dalam salah satu acara di UWRF13 ini. Ia yang biasa saya panggil Boi, sudah tiba di Ubud sejak semalam. Ia menginap juga di Ubud.

Saya bicara pada Pak Putu tentang kemungkinan untuk menjemput Boi lebih dulu ke penginapannya baru lalu mengantarkan saya ke penginapan saya. Tapi ternyata kemungkinan semacam itu nihil. Pak Putu sudah telanjur ada agenda penjemputan yang lain. Maka, sesuai rencana semula, Pak Putu segera mengantarkan saya ke Samhita Garden Hotel di Jalan Bhisma, Ubud. Hingga tanggal 15 Oktober, saya bermalam di sini. Sangat nyaman. Thanks to UWRF13. Beruntungnya, Boi tidak berkeberatan untuk datang sendiri dari penginapannya ke Samhita. Syukurlah.

Jika beberapa bulan sebelumnya saya merasa ingin melompati Oktober saja (saking gugup dan groginya), kini saya merasa ingin Oktober jangan berlalu secepat itu. Setidaknya, janganlah UWRF13 cepat berakhir. Saya mulai menikmatinya. Dan, ini dia Ubud Writers and Readers Festival 2013 yang sudah ditunggu-tunggu!

Pak Putu-atre

Ubud!

Samhita Garden

Samhita Garden-atre

Samhita Garden-atre

Happy face-me

UWRF13-atre

About these ads