Posts Tagged cerpen

Perempuan Malaikatku, Raya

Aku tak pernah memilih untuk jatuh cinta kepada siapa. Aku juga berharap, jodohku nanti tak sulit digapai; tak sesulit berenang melawan arus atau mendaki puncak Himalaya. Tapi, ternyata, hidup tak selalu berjalan mulus seperti keinginan kita. Masing-masing orang harus setidaknya sekali merasakan kepahitan.

***

Hari ini aku bangun terlalu pagi. Menyadari keadaan rumah yang sepi tanpa Mai, adikku yang menginjak remaja, dan Ibu yang masih lelap, aku jadi ingin tidur kembali. Tapi, alih-alih memeluk guling dan terlelap, aku malah melangkah ke ruang lukis di belakang rumah. Ini kesempatan pas untuk menyelesaikan lukisan yang kumulai kemarin. Menuju ruang lukis, kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.10. Lukisan ini adalah lukisan keempat untuk bulan ini. Pameranku bersama teman-teman pelukis muda dilangsungkan bulan depan di sebuah galeri di Banyumas. Bersama beberapa teman, aku memamerkan karya bertema Perempuan. Dan, ini adalah lukisan terakhir yang sesegera mungkin harus selesai.

Di depanku, seorang perempuan berambut panjang tersiup angin, membelakangiku, berdiri di sebuah gazebo di tengah padang rumput berwarna hijau segar. Ia berlagak tak ingin dikenali wajahnya. Kusapukan kuning gading di setiap jengkal gaun cantiknya. Ia terlihat pucat di antara kesegaran di sekelilingnya. Pucatnya sempurna. Senyum tersungging di bibirku, tanpa sadar. Tapi, tak lama keningku berkerut. Rasanya masih ada yang kurang. Perempuan ini kurang “malaikat”. Kurang memancarkan aura kecantikan yang luar biasa. Kalau hanya begini, mungkin si perempuan hanya cantik biasa. Cantik manusia. Kupilin-pilin ujung kuas yang tak berbulu di kening. Berpikir. Bagaimana menggambarkan perempuan ini bisa jadi cantik tak kepalang tanpa terlihat wajahnya. Tak juga ketemu inspirasi cemerlang, akhirnya aku menyerah dan meninggalkan perempuan itu untuk ngopi di dapur.

***

“Sore begini kamu baru dateng, Ga. Lukisan udah fix?” kata Tutur, manajerku.

Aku yang baru datang ke bengkel lukis berusaha mengatur napas dulu untuk kemudian menjawab Tutur. “Tinggal lukisan terakhir. Tenang aja, bisa di-handle.” Tutur lega mendengarnya. Tiba-tiba, ia memukul pelan lenganku dan menyodorkan sebuah karton emas indah berpita (juga) emas. Tertulis di sana terang-terang, nama Tutur dalam tinta emas. “Dateng, ya.”

Aku memandang bergantian kepada Tutur dan undangan emas itu. “Idialahhh. Tiba-tiba nyebar undangan begini. Express banget kok?” Nada suaraku agak bergeletar tak percaya. Tutur yang selama ini dengan senang hati menerima cap “playboy” ditempel di keningnya tiba-tiba ingin berkomitmen. Dia pun sepertinya mantap sekali. Berulang-ulang kali dia membusungkan dadanya tanda bangga. Aku tak peduli pada kebanggaan itu. Bangga tanpa keyakinan berarti kosong. Tapi, aku bisa melihat dari matanya kalau Tutur bahagia. Ia yakin pada pilihannya.

“Yasmin? Mantap, nih, Yasmin?”

“Iya, Ga. Udah cukuplah perjalanan aku selama ini. Ke sana kemari, gonta-ganti terus. Semua cewek di Semarang udah pernah jadi pacarku kali. Ha-ha-ha. Tapi, cape juga lama-lama.”

“Iya, kalo mau main-main terus, mbok ya, silakan aja. Tapi, kamu memang nggak akan dapet apa-apa akhirnya.”

“Ah, kan, mulai lagi Master Psikolog. Iya, aku ngerti. Dan, entah kenapa, sama Yasmin aku bisa yakin. Mungkin ini yang namanya jodoh kali, ya, Ga?”

“Mungkin,” kataku mengangguk sambil mengerucutkan bibir. “Aku kan belum ngalamin kejadian macam kamu.”

“Lagian, umurku udah berapa?! Cukup main-mainnya. Memang udah saatnya aku menghentikan pelayaran dan settle di satu tempat. Betul tidak, Bapak Agaaaaaa,” katanya seraya menjawil daguku.

Kami pun tertawa bersama. Menertawakan masa-masa ‘suram’ Tutur yang flamboyan. Menertawakan para mantan pacar Tutur yang tenggorokannya seperti tersangkut biji kedondong ketika mendengar Tutur akan menikah.

Hingga akhirnya, satu pertanyaan Tutur membuat tawaku berhenti. “Nah, kamu kapan, Ga?” Kami memang sebaya. Sudah melewati angka 25 dan hampir menggenapi 30. Ibu sudah beribu kali mempertanyakan ini, mengeluh ingin segera punya cucu, ingin menggelar pesta pernikahan anaknya sendiri, tak sabar ingin mengenal calon menantunya. Kemarin-kemarin, pertanyaan ini tak menggangguku. Sungguh. Aku punya jawaban jitu untuk berkelit pada ibu atau orang lain. “Mungkin memang belum ketemu jodohnya.” Biasanya, semua orang tak lagi membahas. Takdir siapa yang tahu? Karena itu, tak ada yang mencoba-coba untuk sok tahu—lebih tahu daripada Tuhan. Tapi, kenapa hari ini, ketika Tutur yang mempertanyakan itu, aku malah kepikiran?

“Ya, belum ketemu aja,” hanya itu yang bisa kuberi untuk Tutur. Seperti biasa.

***

Beberapa minggu setelah perbincangan itu, aku jadi selalu memikirkan jodoh, jodoh, dan jodoh. Selama ini aku tak pernah terlalu memikirkan pasangan hidup. Pacaran pun tak menarik buatku. Ada yang lebih menarik, yaitu membahagiakan orangtua dan berkarya. Tapi, kenapa ketika salah satu orang terdekat dan sebaya pula melepas masa lajang, hal ini seperti menyentil. Sakitnya sentilan itu pun tak hilang-hilang. Membuat hati tak lagi bisa tenang. Ke mana pun, aku selalu memikirkan jodohku. Apakah ia temanku? Apakah aku sudah bertemu dengannya? Di manakah dia sekarang? Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang benar-benar jodoh kita? Dan, jutaan pertanyaan lainnya masih menggumpal di otakku. Hingga rasa merindu yang aneh tiba-tiba muncul, membuatku tak sabaran untuk segera melangkah ke arah itu; berkeluarga.

Ibu sepertinya membaca gelagatku yang tak normal dan bertanya. Tapi, aku tak bisa menjawab. Kalau aku jujur, Ibu pasti langsung juga mendesakku untuk menyusul Tutur. Atau, bahkan, bisa lebih parah. Ibu mungkin saja akan menjodohkan aku dengan anak teman-temannya. Tidak, tidak, tidak, gelengku samar. Akhirnya, aku hanya menyanggah dan berkata bahwa aku baik-baik saja. Tutur pun jadi tak menemukan sosok psikolog gendheng-nya belakangan ini. Aku dianggapnya sedang stres karena deadline lukisan—wajahku terus berkerut-kerut di bengkel.

***

Sudah dua hari Tutur cuti karena besok sudah jatuh hari pernikahannya. Bengkel jadi sepi sekali. Biasanya, memang hanya ada aku dan dia saja. Sesekali datang klien yang ingin membeli lukisan. Atau, Ibu juga suka datang menengok. Tapi, kebanyakan waktuku di bengkel ditemani si manajer mantan-playboy itu. Saat Tutur tak ada, tak banyak yang bisa kulakukan di sini. Tak ada teman diskusi pula. Jadi, sebenarnya, tak ada yang bisa kulakukan sekarang untuk meringankan deadline pameran. Kuhembuskan napas pelan, dan melangkah gontai keluar bengkel menuju Swift burgundie di halaman bengkel. Aku butuh tidur.

***

“Mas, Mbak Aya mau dateng ke sini, lho, besok. Dia mau ketemu narasumber di Cilacap,” kata Mai, saat makan malam.

“Iya, Nak. Semalam Raya nelpon Ibu. Awalnya dia tanya-tanya soal penginapan di dekat Cilacap. Yo uwis, daripada harus nginep di penginapan, mbok nginep di sini aja,” Ibu menambahkan.

“Raya itu yang anaknya Bude Yani di Jakarta, ya, Bu?”

“Iya. Dulu waktu kamu kecil dan kita liburan ke Jakarta, Raya yang nemenin ke Taman Mini. Kamu inget to’?”
Langsung terbayang di pikiranku saat-saat itu. Raya lebih muda tiga tahun daripada aku. Iya, waktu sekitar umur 12, aku liburan ke Jakarta bersama Mai dan Ibu. Raya sekeluargalah yang menemani kami mengenal Jakarta. Aku tersenyum mengingat betapa tomboinya Raya kecil. Mai, yang notabene gadis desa, selalu mengenakan rok dan sepatu perempuan. Sementara Raya, kulihat dia selalu santai mengenakan kaus, jeans, dan sneakers. Rambutnya pendek seleher. Lain dengan Mai yang panjang berkepang satu. Tapi, waktu masih kecil saja, aku sudah tahu kalau Raya itu manis luar biasa. Tak gampang melupakan senyum andalannya yang mesam-mesem itu. Tanpa sadar, aku menunduk malu.

“Mas! Senyum-senyum sendiri ih. Mas Aga udah gila tuh, Bu.”

Ibu memandangku khawatir. Aku tak terlalu menggubris apa yang dikhawatirkannya. Tapi, tatapannya aneh.

“Ibu jangan khawatir. Anaknya belum gila kok,” jawab aku sekenanya. “Jadi, besok dia dateng? Aga nggak masalah, Bu. Dia akan lama di sini, Mai? Dia ngomong nggak sama kamu?”

“Katanya, sekitar 3 hari. Ada liputan juga ke Batu Raden katanya. Kemaren kan jembatan gantung di Batu Raden putus. Dia harus ngeliput. Aku baru tau ada musibah itu.”

Ibu dan aku langsung menanyai Mai segala sesuatu tentang musibah Batu Raden. Jujur, aku juga baru dengar dan hanya bisa prihatin. Tapi, tak lama, pikiranku kembali lagi ke Raya dan segala kenangan yang pernah kami habiskan bersama. Soal Taman Mini itu, liburannya ke rumahku waktu masih kecil, sampai tiba-tiba kami kembali berjumpa ketika sudah sama-sama dewasa; saat aku menemaninya meliput di Tinggarjaya dan saat aku ke Jakarta acara pernikahan kakaknya. Ahh, baru juga empat kali bertemu muka, aku seperti sudah mengenalnya seumur hidupku.

***

Pekerjaan di bengkel banyak sekali hari ini. Tetek-bengek persiapan pameran; undangan para tamu, penamaan lukisan, penggantian frame, dan lain-lain; sangat menyita tenagaku. Ketika sampai di rumah malam hari, yang paling utama kuinginkan adalah mandi, lalu tidur. Tapi, di ruang tamu, kulihat Mai dan Ibu asyik tertawa dengan seorang perempuan yang rambutnya digelung berantakan. Ah, aku tak sanggup lagi kalau harus meladeni tamu. Maka, aku memutuskan lewat pintu samping dan langsung ingin masuk kamar.

“Mas…,” perempuan itu mengangguk kecil di sela tawanya. Ternyata, aku ketahuan mengendik-ngendik.

“Mas Aga nggak sopan ih sama tamu. Mbok ditanya, gimana perjalanannya, gimana kabarnya. Mas ini…,” Mai nyerocos gemas.

Aku melirik ke arah Ibu, meminta penjelasan lewat tatapanku. Ibu sepertinya mengerti. Sambil menengok ke arah perempuan itu, Ibu menyebut satu nama yang semalam sempat kupikirkan. “Raya”.

***

Raya sekarang berbeda sekali dengan Raya kecil. Dia tak lagi terlalu tomboi. Sisi femininitasnya menguar lebih dominan daripada sifat maskulinnya. Rambutnya kini panjang melebihi bahu. Meski masih tak nyaman mengenakan rok, setidaknya sekarang dia lebih senang memakai flat shoes daripada sneakers. Senyum mesam-mesem-nya masih hadir hingga kini. Membuatku kangen minta ampun. Satu yang berbeda, kini dia berkacamata. Tapi, tak mengapa. Sebab, kacamata itu justru mempertegas kedewasaannya dan entah bagaimana mengukuhkan ketangguhan yang terpancar dari sinar matanya. Ah, Raya…

***

Setiap akan berangkat ke bengkel setiap harinya untuk mengurus pameran yang tinggal seminggu lagi, rasanya kaki ini berat diajak beranjak. Rasanya ingin selalu berada di rumah bersama Raya, menemaninya. Tapi, tak bisa. Itu yang aku benci. Aku harus ke bengkel, sedangkan Raya sekarang bersiap-siap akan ke Batu Raden sendirian. Dia meminta kepercayaan aku dan aku harus yakin dia bisa ke sana sendiri. Aku sebenarnya yakin dia bisa. Justru aku tak yakin pada diriku sendiri. Aku tak yakin sanggup berjauhan darinya lebih dari 5 menit sekarang.

Menurut Tutur, aku jatuh cinta. Menurut Raja Playboy itu, aku sudah menemukan belahan jiwaku. Ahhhh, aku masih belum tahu. Aku masih… tak tahulah. Yang aku tahu dengan pasti hanyalah dadaku seperti mau meledak setiap kali memikirkan Raya. Rasanya ada sesuatu tak kelihatan yang memenuhi rongga dada. Membuncah. Meluap-luap. Hingga rasanya aku tak sanggup lagi menahan. Sejak melihat matanya di hari kedatangannya, aku sudah tak bisa lagi menyingkirkannya dari pikiranku. Semakin hari, keinginan untuk ngobrol dan bersama-sama Raya semakin kuat. Seolah ada berjuta watt bola lampu di sekeliling Raya yang membuat mataku selalu tertuju padanya. Silau, tapi menarik mata. Hhhh, baiklah, aku menyerah. Kurasa Tutur benar. Setidaknya satu yang benar. Bahwa aku jatuh cinta. Pada Raya. Hembusan napas berat meresmikan pernyataan batinku itu.

***

Setelah makan malam, Raya menceritakan hasil liputannya soal Batu Raden. Aku, Ibu, dan Mai mengangguk-angguk kosong saat mendengar berita itu. Menyedihkan, bahkan sampai sekarang, jembatan itu belum juga diperbaiki. Masih dibiarkan luruh begitu saja di celah-celah batu kali besar-besar yang ada di bawahnya.

Sesekali kutatap Raya secara sembunyi-sembunyi. Raya sedang asyik memperlihatkan foto-foto di kamera yang berhasil ditangkapnya kepada Mai dan Ibu. Sesekali Ibu memergoki aku terpesona oleh daya magis perempuan Jakarta yang mewujud di depanku. Sekilas, ada semburat ketidaksukaan di mata Ibu. Tapi, aku yang sedang terbuai ini seperti tak mau tahu. Padahal, ini penting. Setidaknya nanti, untuk masa depan aku dan Raya—kalau memang ada masa depan untuk kami di sana.

***

Raya pulang hari ini. Seketika, seperti ada lubang yang muncul, aku harus melepasnya pergi ke Jakarta tanpa berani menyatakan perasaanku. Entah kenapa, rasa malu terlalu besar. Juga rasa takut. Aku malu terhadap Raya, karena aku hanya lelaki daerah. Aku juga takut kalau-kalau Raya menolak perasaanku. Semalam, aku sudah memaksa Raya tinggal lebih lama. Alasanku, setidaknya dia masih di Banyumas ketika pameran lukisanku digelar. Tapi, dia tidak bisa menunda kepulangannya.

Di Terminal Wangon, aku pun hanya berkata, “Hati-hati di jalan. Waspada sama sekeliling, ya. Kalau bosan, aku rela nemenin kamu SMS-an sampai kamu tiba di Jakarta.” Sudah, hanya itu. Padahal, hati ini rasanya sudah mau robek karena tak sanggup menahan perasaan. Padahal, rasanya ingin tak sekadar menemani by SMS, tapi juga “aku” yang ikut bersamanya naik bis ke Jakarta. Aaahhhhh, banyak ide gila di otakku yang kenyataannya tak satu pun aku realisasikan. Pecundang memang.

***

“Nak, belum tidur?” Ups, apakah Ibu bisa ‘membaca’ kalau aku sedang sibuk memikirkan Raya? “Besok pameran kamu, kan? Sudah mbok tidur sana. Supaya besok seger.”

Ibu ada benarnya juga. Besok hari H pameran. Astaga! Tiba-tiba aku teringat hal penting. Aku belum menyelesaikan lukisan terakhir! Tutur sudah menyerah untuk membuatku menyelesaikan lukisan ini lebih cepat. Tadi pagi dia masih mendesak-desak, tapi akunya malah sibuk melamun! Astaga, astaga, astaga. Kuambil ponsel dan kuhubungi Tutur.

“Tur, lukisan keempat belum selesai. Aku lupa! Doh, mati aku!”

Suara bantal Tutur terdengar dari seberang. “Haha. Baru tau rasa kau sekarang. Tapi, sebagai manajer yang baik, aku udah nyiapin koleksi lukisan lama kamu yang bisa masuk tema. Rada maksa. Tapi, ya, daripada nungguin kamu ngeberesi lukisan itu. Nggak jelas kapan selese. Ngelamun aja terooossss…”

“Sial kamu, Tur. Aku selesein malem ini, deh. Keburu nggak?”

“Yakin kelar? Sekarang udah jam 10, Ga. Lukisan pengganti juga udah di-display di galeri. Bisa aja keburu, tapi syaratnya, kamu harus ke galeri sebelum pameran dimulai. Ya, sekitar jam 9 lah. Bisa?”

“Hmm..,” aku mengira-ngira.

“Kalo bisa, aku langsung usahain ke pihak galeri nih, ya. Buruan mikirnya, masih keburu nih aku nelpon Mas Tirta.”

“Ya udah, ya udah. Bisa. Aku nggak mau citraku rusak karena masukin lukisan lama ke pameran.”

“Oke deh. Aku telepon Mas Tirta sekarang.”

Thanks, ya, manajer playboy-ku yang sudah insap.”

“Sialan loe. Bye then.”

Bye.”

***

Agak tersaruk-saruk, aku menuju ruang lukis di belakang rumah. Ibu yang memandang keheranan langsung kubuat mengerti dengan menjelaskan keterburu-buruanku. Seolah mengerti, Ibu pun langsung menyuguhkan kopi susu hangat dan camilan. Aku tersenyum terima kasih ke Ibu, memandangi Ibu hingga menghilang di balik pintu kamarnya.

Oke, Ga, think think think, kataku panik pada diri sendiri. Think. Trik. Taktik. Malaikat. Sempurna. Cantik luar biasa. Mempesona. Aaaaahhhh, sosok Raya berkelebatan di pelupuk mataku. Menggangguku dengan senyum indahnya itu. Duh, kangennya. Oh, oke, oke, aku harus fokus. Aku harus berkonsentrasi penuh.

Aku memejamkan mata kali ini agar lebih fokus menemukan trik canggih untuk ‘mengubah’ manusia biasa jadi malaikat. Raya tersenyum. Sesekali ia memain-mainkan kacamatanya yang melorot ke hidung. Ah, senyum mesam-mesem itu lagi. Cantik sekali ia berpendar-pendar begitu. Seolah di tubuhnya dipasangi lampu-lampu. Sekujur tubuhnya berkilauan. Indah sekali. Raya, kau seperti malaikat. Aha. Ketemu!

Kubuka mata sambil tersenyum. Raya, terima kasih untuk inspirasinya. Dan, atas kerinduanku padamu yang ternyata berguna. Aku pun mulai ‘menjalankan’ taktik itu di atas kanvas. “Perempuan biasa ini sebentar lagi akan jadi malaikat,” kataku.

***

Aku sampai di galeri pukul 08.30, sementara pameran baru akan mulai pukul 11.00. Irsyad, Reno, dan Neya—teman-teman pelukis yang lain—belum datang. Barusan saja, aku baru selesai dengan Mas Tirta. Dia sudah mengerti soal pergantian lukisan ini. Ia bahkan jadi tahu kalau aku sedang tak menginjak tanah alias jatuh cinta—pekerjaan tak ada yang bisa beres sesuai target, Tutur membumbui. Ingin rasanya kugigit Tutur karena memberikan informasi yang terlalu berlebihan kepada Mas Tirta.

“Biarin aja. Sekarang semua jadi beres karena Mas Tirta ngerti. Dan, Mas Tirta ngerti karena aku lebih dulu cerita masalah asmara kamu itu. He-he-he.” kucubit Tutur yang baru datang sekuat tenaga. Tapi anehnya, dia tak menjerit. Dia hanya melongo ke arah satu titik tepat di belakangku. Aku mau tak mau berbalik badan, melihat apa yang membuatnya terkesan seperti itu. Dan, seketika itu juga, hatiku melorot.

Raya datang mengenakan gaun kuning gading cantik yang simple. Persis sama seperti yang ada dalam lukisanku. Ketika dia melangkah mendekat, bumi ini seolah bergerak dalam kecepatan yang sungguh pelan. Seperti di film-film saja, tapi ini sungguh terjadi. Raya cantik sekali.

Tutur menonjok rusukku ringan, sekadar ingin mengatakan, “Ga, penggambarannya kok bisa sama persis kayak di lukisanmu?” Ia masih menganga. Aku pun takjub. Entah ini pertanda apa. Padahal, perempuan malaikat dalam lukisan itu kubuat jauh sebelum aku memikirkan Raya—walaupun diselesaikan saat aku sudah tergila-gila padanya.

“Hai. Surprise,” suaranya menggaung pelan. Di belakangnya, tampak Ibu dan Mai sumringah.

Tak kusangka, Raya menyempatkan diri datang ke Banyumas hanya untuk mendatangi pameranku. Aku bahkan tak berani berandai-andai untuk mimpi seindah ini. Tolong, seseorang, kalaupun ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku.

Seharian itu, Raya selalu berada di sampingku. Lebih tepatnya, aku yang selalu memposisikan diri berada di sampingnya. Aku laiknya terobsesi. Kronis! Pengunjung yang datang, semakin siang, semakin membanjiri galeri. Tapi, aku tetap tak ingin jauh-jauh dari Raya. Kalaupun ada pengunjung yang tertarik pada salah satu lukisanku, kuajak mereka untuk berbincang-bincang saja di dekat Raya. Kalaupun perlu, aku pasti memperkenalkan Raya kepada mereka. Dengan tatapan menilai, mereka biasanya langsung mengidentikkan Raya dengan perempuan malaikat dalam lukisan. Dan, berulang-ulang kali hari ini, aku tergagap menjelaskannya. Raya sampai tersenyum geli melihat kegagapanku. Untung saja, hari ini sebentar lagi berakhir.

“Mas, aku paling suka lukisan yang ini. Berjiwa,” kata Raya soal lukisan perempuan malaikat itu saat galeri sudah mulai sepi. “Tadi, aku sempet liat lukisannya Mbak Neya yang juga hidup sekali. Tapi, ini lebih hidup. Lebih ngomong gitu.”

“Ini nggak aku jual kalo kamu mau tau. Jadi, kamu nggak bisa beli,” candaku. Ketika Raya hendak protes, aku segera menambahkan, “Karena lukisan itu khusus aku kasih untuk kamu. Ndak perlu beli.”

Raya tertawa geli dan mencubit lenganku. “Makasih, ya, Mas Aga.” Detik itu juga jantungku langsung berdebar-debar. Ini saatnya. Aku harus setidaknya memberi tanda pada Raya bahwa aku merindu tak ketulungan. Tapi, aku takut. Tapi, ini satu-satunya kesempatan. Tapi… Ah, tak ada “tapi”. Dengan berusaha masa bodo, aku mencondongkan tubuh, berbisik lembut di telinganya, “Ay, aku kangen.”

***

Stay, Ay, stay. Seenggaknya sehari lagi,” kataku mengetahui dia akan pulang besok, H +1 pameran. Sejak tadi berdiam diri di ruang lukis, dia tiba-tiba pamit. Aku tahu dari tatapannya kalau dia tak bisa dibujuk. Hidupku di Jakarta, Mas, dan pekerjaanku menunggu, ucapnya. Dia benar, dan aku bodoh. Banyak hal yang tidak aku pertimbangkan sebelum memintanya tinggal sehari lagi di sini bersamaku. Suasana sunyi lagi. Dia memuntir-muntir rambut sebahunya, sedangkan aku sibuk melihatnya melakukan itu.

Deg. Tiba-tiba aku tersadar. Aku sudah menyayanginya sejak kecil, bahkan sebelum aku tahu apa artinya “sayang”. Bahwa sejak kecil aku selalu menganggapnya perempuan termanis di jagad ini, tanpa sadar aku sudah menyukainya. Ketika aku selalu ingin ke Jakarta tiap kali liburan sekolah dan hanya punya satu tujuan yaitu untuk bertemu Raya, itu karena aku sudah tak bisa melepaskannya. Dan, selama ini, rasa itu hanya terlupa, bukan hilang. Ketika dia datang kembali, semua rasa pun turut muncul.

Tanpa sadar, aku berucap, “Ay, aku sayang kamu.”

Pipi Raya bersemu merah jambu. Sedetik dia memandangi mataku, dan sedetik kemudian dia menunduk, seolah mengontrol dirinya. “Mas…,” dia menggeleng-geleng. “Nggak boleh.”

Aku telah menyayangi dia seumur hidupku, dan sekarang dia bilang aku tidak boleh menyayangi dia lagi? Meskipun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tahu ini tidak bagus. “Kenapa, Ay?” suaraku tak bisa tak terdengar serak.

“Mas, kita nggak boleh,” Raya menggantung pembicaraan dan memilih keluar dari ruang lukis dengan mulus. Dari kejauhan, dia berkata, “Mas, lupain rasa yang kamu punya buat aku sekarang. Belum terlambat.”

Sampai larut malam, aku masih melamun di ruang lukis. Tak melakukan apa-apa, hanya memikirkan ucapan Raya. Segala yang harusnya menjadi awal, malah menjelma menjadi akhir. Di tengah kebingungan, aku tertidur di meja lukis sampai menjelang pagi.

***

Raya sudah pulang ke Jakarta naik bis pagi-pagi sekali, kata Mai. Mungkin tak lama setelah aku tertidur. Dia tak ingin Mai atau Ibu membangunkan aku. Takut mengganggu, katanya. Padahal, dia tak pernah mengganggu aku, bisikku kepada diri sendiri.

“Tapi, Mas Aga, ada titipan dari Mbak Aya nih,” Mai tiba-tiba membawa berita menggembirakan. Sambil meledek, Mai bilang, “Surat cinta kaliiiiiii.” Ibu menatap tajam mataku dan Mai, sampai Mai seketika pucat pasi seolah bersalah.

***

Surat itu tak beramplop. Hanya selembar kertas. Kukenali kertas itu sebagai kertas yang dirobek dari note bengkel lukisku. Terasa hambar, kubaca tiap kata di dalamnya.

Mas Aga,

Aku minta kamu lupain semua rasa kamu ke aku, karena itu nggak mungkin.

Jalan kita sulit.

Nggak ada yang mendukung kita, termasuk Ibu kamu dan Om Dafi.

Ibu kamu pernah menegaskan, nggak mau hubungan kita jadi seperti itu.

Karena kita saudara, Mas.

Meski bukan hubungan darah, tapi kita saudara.

Kamu tahu kenapa ini jadi begitu sulit?

Hingga akhirnya aku nggak berani ngomongin ini sambil natap mata kamu?

Karena aku nggak akan bisa nolak kamu kalau liat wajah kamu.

Karena aku juga sayang kamu.

Tapi, itu nggak berarti lagi sekarang.

Kamu pasti juga mikir begitu.

Karena ada yang lebih utama harus kita perjuangin.

Kebahagiaan orangtua, Ibu kamu.

Keharmonisan keluarga besar kita.

Maaf, Mas.

Setelah ini, jangan pernah bicarain soal ini lagi.

Lupain.

- Raya

Hati ini seperti dihempaskan ke tanah. Dibanting-banting hingga mati rasa. Kuremas surat Raya dan kutelungkupkan kedua tanganku di wajah. Jadi, inilah maksud perkataan Raya yang menggantung semalam. Jadi, inilah arti dari semua tatapan tajam dan kekhawatiran Ibu setiap kali nama Raya kusebut. Inilah kebenaran itu. Dan, di sinilah akhirnya. Aku harus memilih antara orangtua satu-satunya yang di telapak kakinya surga berada dengan perempuan malaikatku yang seumur hidup telah kucintai keindahannya. Ibu, begini berat…

***

Orang tak akan bisa membayangkan betapa pilunya kehilangan seseorang, sebelum ia sendiri pernah kehilangan. Dan, aku harus menahan lirih demi terpenuhinya takdir itu. Pertama kalinya jatuh cinta, dan pertama kalinya pula patah hati dan kehilangan.

1 comment April 21, 2009

Pencinta Kenangan yang Lupa Kenangan

Di sebuah bangku taman di kota Semarang, duduklah Kirana. Sore ini gadis itu duduk sendirian; murung, letih. Tidak terasa sudah dua tahun yang lalu sejak kepergian Lelakinya yang pergi ke Jakarta. Tidak tahu kapan akan kembali, atau tidak akan pernah kembali?

Ilalang yang tumbuh setinggi lutut bergoyang-goyang di taman menarikan tarian untuk Kirana. Kirana duduk saja di taman sejak pukul 3 siang tadi, dan sekarang sudah menjelang senja. Ia hanya membawa buku catatan kecil bersampul kuning, bercorak polkadot glitter dan buku Kepada Cium antologi sajak karya Joko Pinurbo. Pakaiannya pun seadanya, hanya mengenakan kaus oblong hijau tua dan jeans sebetis. Rambut hitam sebahunya pun hanya ia kuntel-kuntel sebisanya dengan menyisakan anak-anak rambut halus di sekitar tengkuk. Kacamata minus 2 berbingkai perak berhasil direnggutnya dari atas meja belajar beberapa detik sebelum ia berangkat ke taman. Dan, akhirnya, di sanalah ia sedari tadi. Duduk, merenung.

* * *

Banyak orang bilang, Kirana adalah perempuan dengan kemampuan mengingat yang begitu jelek. Ia juga heran, apa sebabnya. Ia berpikir, apa ia kurang gizi sehingga otaknya hanya mampu berfungsi sepersekian persen dari yang seharusnya. Masih muda kok pikun sih, Mbak, ungkap salah seorang sepupu ketika Kirana lupa siapa orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya Mei 2006 lalu. Iya, baru juga akan 21 tahun, tetapi kadar ingatan Kirana seperti manula yang sudah renta. Bahkan, nenenk saja tidak sampai sebegini parah.

Ironis. Padahal, Kirana tipikal orang yang mencintai kenangan, orang yang tidak bisa begitu saja lepas dari masa lalu. Ada yang mengatakan kalau masa lalu itu adalah cerminan masa depan. Ia pribadi setuju akan ungkapan itu. Intinya, masa lalu itu berharga. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik untuk hidup?

Hidup terus berjalan. Dan, kini, ia sedang berkutat dengan kepenatan tugas akhir seorang mahasiswa tingkat akhir. Jangan ditanya bagaimana chaos-nya Kirana. Jika daya ingatnya masih lemah seperti ini, apa jadinya hidup Kirana selanjutnya.

* * *

Mentari di belahan langit sana mulai hilang. Jingganya indah. Sebentar lagi gelap, batinnya, sedangkan ia masih saja betah. Ah, mulai banyak nyamuk. Gema pemanggil salat mulai bergetar di tiap rumah Allah di pelosok Semarang. Kirana pikir sebaiknya pulang dulu ke rumah, berganti baju-celana, memberi pertahanan tubuh dari angin malam. Maka, ia pun beranjak dari tempatnya duduk tadi. Pulang. Salat.

Tiap langkah rasanya berat. Beban kenangan masih mengganjal. Perjalanan menuju rumah sedikit lama, seolah tidak menjejak tanah ia berjalan. Sambil diiringi pikiran macam-macam, ia melangkah pulang. Niatnya, setelah ini, ia ingin bergegas kembali untuk menuntaskan renungannya. Kali ini mungkin ditemani bulan yang tidak penuh, dan bintang yang entah ada berapa.

Setelah mandi, salat, dan berganti pakaian, dilihatnya langit. Ternyata, malam cukup cerah, walaupun tetap dingin seperti biasa. Angin malam meniup-niup rambut Kirana yang masih dikuntel-kuntel berantakan. Ia sudah siap dengan celana tidur berwarna biru muda dan jaket putih dengan aksesori angka 7 dari manik-manik juga berwarna biru muda. Ia juga bawa juga air mineral dan dua buku yang tadi siang juga dibawanya. Kali ini ia memutuskan untuk membawa iPod-nya yang berwarna putih.

Malam ini bulan tidak penuh. Bintang pun hanya beberapa. Ia kembali duduk di tempat yang sama dengan sore tadi, tempat yang sama dengan kemarin, tempat yang sama sejak satu tahun yang lalu. Satu tahun yang lalu, sejak Kirana merasa ingatannya akan kenangan semakin payah. Sejak itu ilalang selalu menari menyambut kedatangannya kembali.

Sayangnya, taman kota agak gelap kalau malam. Lampu taman hanya ada enam, berdiri di masing-masing pojok taman dan dua lagi di tengah-tengah taman. Kirana duduk di ayunan kayu warna-warni paling dekat dengan lampu taman tengah. Itu pun tidak terlalu dekat sekali, hingga kalau ingin membaca pun masih agak sulit. Kirana merasa percuma membawa lagi dua bukunya. Ia pun memasang earphone iPod di telinga dan menyalakannya.

* * *

“Suatu hari nanti, kalau kita sudah pisah, apa kamu akan ingat aku?” tanya Kirana suatu hari pada teman sekolahnya. Entah kenapa tiba-tiba pertanyaan ini menusuk masuk ke dalam benaknya, menggelitiknya untuk bertanya. Ia berkata dalam hati lebih dulu, karena mungkin ia akan lupa salah satu dari mereka nantinya. Padahal, sungguh, Kirana begitu mencintai kenangannya. Tapi, kenapa itu tidak mampu dijaganya, ia juga tidak mengerti. Kirana belum juga dapat jawabannya hingga saat ini.

Lantunan suara Iwan Fals menyayat dari bilik iPod Kirana. Belum Ada Judul. Akh, indahnya jika setelah sekian lama berpisah, kita masih akan dapat mengenang tiap detik kenangan kita bersama sahabat lama. Dan, apakah aku akan bisa merasakan itu tanpa satu kali saja aku skip, batin Kirana.

* * *

Hari makin larut. Kirana masih bergeming di antara kumpulan ilalang, masih terus tercenung memikirkan kenangannya yang makin hari makin susut, masih berada di taman. Ia melirik jam tangan cokelat tuanya, lalu setelahnya menghembuskan nafas berat. Sudah hampir tengah malam, pikirnya. Makin dingin, makin sepi.

Lagi-lagi kepalanya pening tidak tertahankan. Tangan kanannya memijit pelipis pelan. Kirana meringis menahan perih. Sial, pening ini pasti datang setiap hari, gumam Kirana dalam hati. Saat akan beranjak pulang, Kirana baru menyadari kalau tubuhnya letih tak terkira. Perutnya menggigil minta diisi. Air mineral yang dibawanya sudah tandas habis.

Dalam langkah yang gontai karena lelah, Kirana menapaki jalan setapak menuju rumahnya. Sunyi. Yang ada di sekelilingnya hanya suara jangkrik malas. Sepi seolah memakan kehidupan. Bunyi piring yang diketuk-ketuk dengan sendok terdengar di kejauhan: suara kehidupan, suara tukang sekoteng. Kirana masih terus berjalan mengingat jalan pulang. Sendirian.

Di depan pintu rumah besar yang dingin, ia melangkah masuk. Dirogoh kunci di dalam jaket putihnya, dan ia masuk. Kirana berbaring dalam kamarnya. Tiap kali ia berangkat tidur, ia berharap rohnya akan dapat kembali ke tubuhnya agar ia dapat merasakan kembali matahari pagi, angin, dan indahnya langit biru, serta kegembiraan ilalang di taman kota, agar ia dapat hidup hari ini.

Dan, malam ini, dengan sebuah pengharapan yang sama, Kirana memejamkan mata disertai bisik dari mulut letihnya, “Besok hari lahirku, Tuhan…”

* * *

Setahun lalu, Mei 2006…

“Kirana kecelakaan, Tante. Sekarang di RS, UGD,” Sekar dalam suatu percakapan telepon dengan Ibu Kirana.

Hari itu, mobil Kirana, Avanza hitam, menabrak sepeda motor di sebuah jalan di Semarang, dekat Simpang Lima. Beruntung pengemudi sepeda motor yang ditabrak baik-baik saja. Hanya saja Kirana mengalami luka agak serius di bagian kepala. Pendarahan. Kirana tidak sadarkan diri. Sekar dan Trio, teman dekat Sekar, yang saat itu berada tepat di belakang mobil Na—mereka berada di mobil yang lain—pucat, disorientasi sesaat. Namun, tidak lama. Trio langsung ‘bangkit’ dan membawa Na ke rumah sakit. Sekar menelepon Ibu Kirana.

Terjadi pendarahan di dalam kepala. Kirana masih terus tidak sadarkan diri sampai lima hari berikutnya. Dokter menangkap adanya masalah serius akibat kecelakaan ini. Ibu Kirana tidak mampu menahan titik yang mendesak jatuh dari matanya. Hari keenam Kirana sadar. Segar, seolah tidak pernah terjadi kecelakaan itu. Namun, ibu Kirana seperti menutupi sesuatu. Gurat keletihan dan ketuaan semakin jelas terlihat di wajahnya ketika itu. Kirana berpikir, mungkin karena ibu menjaganya di rumah sakit seharian penuh tiap harinya. Sekarang mama yang butuh istirahat, Kirana meminta.

Sebelum atau setelah istirahat di rumah, ibu terlihat letih. Bahkan, setelah Kirana kembali ke rumah. Kirana berusaha tak menghiraukan. Ibunya pun tetap tidak mau jujur.

Sejak itu, kenangan-kenangan milik Kirana menjauh pergi, sulit diingat.

* * *

Pagi yang lain datang hari ini. Matahari yang sama terbit sekali lagi, menyapa jiwa-jiwa penuh harapan yang selamanya akan mendamba cahaya si matahari. Langit biru sekali lagi muncul menjadi back drop maha luas hari ini. Namun, ada yang belum bangun di pagi secantik ini. Sampai menjelang siang.

Kirana masih bersembunyi di balik selimut biru langitnya. Masih terpejam, pucat. Sebentar lagi mungkin ia akan bangun, dan menyapa pagi. Semoga ia tidak ditinggal Pagi hari ini. Sebentar lagi Kirana akan membuka mata, tersenyum karena harapannya untuk sekali lagi merasakan cahaya matahari, menikmati pagi, angin, dan langit biru yang indah terkabul. Sebentar lagi.

* * *

“Pendarahan di dalam kepala Kirana semakin parah, Bu. Dan, ini menyebabkan penggumpalan yang bisa membahayakan hidupnya,” dokter seperti menyesal.

* * *

Hari ini ulang tahun Kirana ke-21, 7 Juli 2007. Dan, Kirana malah memilih untuk tidak lagi membuka matanya selamanya. Pagi yang diharapkannya kembali ia jumpai, sudah lama pergi untuk kembali lagi besok. Cahaya matahari yang dirindukannya tiap malam sedang tertawa secantik-cantiknya saat ini. Dan, Kirana tidak lagi melihat itu semua. Kirana memilih memejamkan matanya entah sampai kapan. Kirana lebih memilih untuk lupa. Lupa atas semua yang ia tahu. Lupa semua, bahkan cintanya pada Pagi. Ia bahkan belum sempat mengucapkan perpisahan pada ilalang yang telah menemaninya setahun belakangan. Hanya saja, Tuhan mengizinkannya pergi. Dan, Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik.

Setelah ini, ia tidak perlu lagi khawatir akan kenangan yang terlupa. Tidak akan ada lagi kenangan yang hilang karena ia kini sudah abadi, berikut kenangannya. Pencinta kenangan yang melupakan kenangan itu pergi selamanya.

* * *

Tidak ada tangis yang paling memilukan, selain tangis seorang ibu yang kehilangan anak untuk selamanya. Dan, nyanyian pilu terdengar letih hari ini. Panjang, dan menyayat.

rasanya tak perlu takut akan Mati

toh ia layaknya

ambang pintu duri.

Yang kutakut hanya awal

ketika napasku habis

: takut

tinggalkan semua

- sendiri

Kertas ini jatuh dari tangan ibu Kirana yang mendadak pingsan. Kirana menuliskan sajak ini di buku kecilnya semalam. Tanpa sadar, Kirana sudah berfirasat, bahwa maut sudah mengintip di balik jendelanya.

* * *

Jakarta, 15 Mei 2007

Add comment November 20, 2008

Satu Datang, Satu Hilang…

Nenek dan kakak ibu datang ke rumahku setelah ibu pergi dari rumah selama beberapa minggu. Nenek bilang, ibu sudah ada di rumah nenek, setelah pergi menenangkan diri dan bersembunyi dari ayah ke luar kota. Di awal Ramadhan, aku yang baru berusia 11 tahun belum mengerti benar apa yang terjadi.

Setiap aku pulang sekolah dan menunggu saat berbuka puasa dengan membaca komik di ruang tamu, pasti ada saja tetanggaku yang datang dengan muka aneh. Mereka selalu bilang hal yang sama, “Yang sabar, ya, Nda.” Aku hanya senyum-senyum dan kembali membaca tanpa mau peduli apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya tahu, ibuku sedang pergi. Tapi, aku tahu, ibu pasti kembali.

Nenek dan tante datang ke rumahku setelah tahu ayah tak perhatian padaku dan abang. Aku bersama kakak laki-lakiku yang lima tahun lebih tua selalu ditinggal bekerja tanpa persediaan makanan. Ayah yang seharusnya memberi makanan kerap mengabaikan kami dan pulang sangat larut. Hingga untuk berbuka puasa pun kami hanya bisa membatalkan dengan minum air putih dan sesudah itu langsung tarawih. Lalu, tidur.

Aku ingat, sekitar dua hari pertama Ramadhan, aku dan abang tak sahur. Tapi, anehnya, aku yang masih kecil itu tak pernah komentar. Abang juga tak bicara macam-macam. Hebatnya lagi, kami tetap puasa. Entah kekuatan dari mana. Ayah selalu pulang ketika kami sudah tidur. Kami tak pernah bangun sahur karena sadar tak ada makanan juga yang bisa kami makan untuk santapan sahur. Aku rindu ibu. Tapi, aku tak paham ibu ke mana.

Nenek dan tante datang ke rumahku setelah tahu aku dan abang tak pernah sahur dan tak pernah berbuka dengan makanan layak selama Ramadhan dimulai. Mereka datang satu jam sebelum waktu sahur, berharap ayah belum pulang dan bisa membawaku serta abang pergi dari rumah. Tapi, ternyata ayah sudah pulang. Pintu diketuk, dan terjadi pembicaraan kasar di ruang tamu. Nenek bersikeras ingin membawaku dan abang pergi. Ayah juga bersikeras ingin menjaga anak-anaknya di rumahnya sendiri. Aku dan abang hanya melongo di pintu kamar tidur. Sampai akhirnya, ketika mug coklat melamin kebesaran ayah dilempar nenek ke jidat ayah, kedataran kami berubah; emosi pada abang dan sedih padaku. Abang emosi bukan karena marah pada nenek. Tapi, justru pada ayah yang tak mengizinkan kami pergi. Dan, aku menangis kencang sampai para tetangga datang dan mengunciku serta abang dalam kamar agar tak lagi melihat adegan selanjutnya. Aku menangis bukan lantaran kasihan pada ayah. Tapi, lebih karena aku tak bisa mengerti kenapa ibunya ibuku sebegitu marah pada ayahku sampai-sampai melempar mug dan mengenai jidat ayah hingga berdarah? Aku menangis kencang karena aku tak paham apa yang terjadi. Dan, saat itu aku benci menjadi anak kecil.

Malam itu, aku dan abang tetap tak sahur. Ayah juga. Tapi, ayah memang tak puasa. Itu juga aku tak mengerti. Kenapa orang dewasa malah justru tak puasa? Padahal, kami yang masih kecil mati-matian menahan lapar.

Aku pikir kejadian dini hari itu tak akan ada pengaruhnya. Aku pun bersiap (lagi-lagi) berbuka puasa hanya dengan air putih. Dan, memang, air putih saja cukup membuatku bahagia. Aku dan abang seringkali tersenyum sambil berpandangan ketika melafalkan doa berbuka puasa dan meminum air putih dingin dari kulkas. Tersenyum karena segar dan nikmatnya air. Alhamdulillah, begitu biasanya kami refleks berucap. Tapi, hari itu berbeda. Tetangga sebelah, yang adalah adik ayah, mengundang kami berbuka puasa di rumah mereka. Aku ingat, kali itu aku menjawab sungkan, “Nggak apa-apa, Nci. Aku buka puasa di rumah aja.” Tapi, setelah dipaksa, kami pergi juga ke rumah mereka. Aku dan abangku hanya pandang-pandangan ketika makan kolak dan nasi lengkap dengan lauk-pauk. Dadaku dan mungkin juga dada abang seperti ingin meledak, menangis sedih tapi juga bahagia. Dan, lagi-lagi, aku rindu ibu.

Buka puasa hari itu tak akan aku lupakan. Aku dan abang dihadiahi satu mangkuk besar kolak dan nasi serta lauk-pauk untuk makan sahur malam itu. Sambil memberikan mangkuk kolak itu, Nci bilang kalau selama ini keluarga mereka tak tahu kalau aku dan abang tak punya makanan. Mereka pikir kami baik-baik saja. Baru setelah nenek dan kakak ibuku datang, mereka tahu ada masalah. Aku tak begitu perhatian pada kata-kata Nci. Aku hanya melihat ke mangkuk kolak dengan perasaan sungguh bahagia.

Beberapa hari setelah kejadian mug terbang itu, jidat ayah masih diperban. Mata ayah semakin menyala. Tak ada lagi titik teduh pada matanya. Ia berulang kali bilang, “Jangan pergi dari rumah. Ibu pasti pulang sebentar lagi.” Aku dan abang hanya mengangguk. Entah karena percaya atau takut. Dan, setelah insiden nenek itu pula, aku dan abang jadi selalu diajak buka puasa di rumah Nci. Malu rasanya setiap hari merepotkan keluarga mereka. Tapi, apa boleh buat. Kalau tidak begitu aku dan abang akan kelaparan.

Ibu kapan pulang ya, Nda,” kata abang. Aku hanya menggeleng lesu.

Hingga tibalah hari kedua puluh Ramadhan, hari ‘penjemputan’ aku dan abang oleh tante. Kali ini, tante datang siang hari ketika ia yakin ayah tidak ada di rumah. Tante bicara cepat, “Ibu sudah ingin sekali ketemu kalian. Cepat, bawa baju-baju dan alat-alat sekolah seperlunya. Kita pergi dari sini.” Aku dan abang bergegas, menuruti perintah tante. Tante menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Tak berapa lama, kami bertiga pun pergi. Seperti ada kesedihan luar biasa saat harus ke luar rumah dengan cara seperti ini. Aku merasa tidak akan pernah menjejakkan kaki di rumah ini lagi. Aku hanya menggandeng tangan tante dan menjadi sangat diam. Abang juga. Hingga suara langkah kami yang terburu-buru menjadi sangat terdengar. Tante juga sama bisunya seperti kami. Hingga akhirnya aku ingin bicara dan bertanya, “Ayah gimana? Apa nggak marah?” Tante hanya menjawab sedikit, “Nggak akan marah.” Sudah, titik. “Ibu?” kali ini abang yang bertanya. “Ibu di rumah nenek. Kita ke sana sekarang,” jawab tante lagi.

Sekitar setengah jam kemudian, aku, abang, dan tante sampai di rumah nenek. Nenek menyambut di depan pintu rumah dan setengah berbisik pada tante mengatakan, “Gimana? Ada dia?” Tante juga menjawab dengan berbisik, “Nggak ada.” Aku dan abang memberi salam dan mencium tangan nenek, lalu masuk rumah. Kami bingung karena rumah ramai. Keluarga ibu berkumpul. Satu-persatu dari mereka memeluk aku dan abang bergantian. Beberapa dari mereka malah ada yang berkaca-kaca atau meneteskan air mata. Aku bingung, abang gelisah.

Ibu lagi mandi,” kata nenek setelah menyeret kami ke dapur dekat dengan kamar mandi. “Kalian sehat-sehat?” katanya lagi.

Sehat, Nek. Puasa kami belum kalah!” ujar kami bangga sekali.

Dan, nenek memeluk kami sambil sesenggukan, “Iya, bagus, cucu nenek.” Aku lihat ada beberapa om dan tante kami mendekap mulutnya, seperti menahan sesuatu. Ada juga yang tak ingin melihat kami, dan akhirnya pergi ke luar rumah. “Ibu di sini, Nek? Kok ibu nggak pulang-pulang?” kataku menuntut. Dan, tiba-tiba, dari arah kamar mandi, ada suara ibu yang bilang, “Kita sudah nggak perlu lagi pulang ke rumah itu. Itu bukan rumah kita lagi.” Aku dan abang berbalik ke arah suara, dan aku dapati ibu berdiri di sudut dapur mengenakan handuk berwarna biru.

Melihat ibu, abang yang saat itu sudah kelas tiga SMP langsung memukul tembok yang ada di belakangnya lalu duduk di lantai terkulai lemas. Sedangkan aku, lemas tapi masih sempat menghambur ke pelukan ibu dan menangis kencang. Ibu pun menangis sambil membelai rambutku. Selama beberapa menit, aku tak bisa bicara apa-apa. Hanya menangis dan menangis di pelukan ibu. Ibu juga diam.

Aku masih melihat abang pergi meninggalkan dapur diikuti beberapa om. Entah ke mana. Dan, aku yang masih di pelukan ibu, ingin bertanya tapi tak sanggup. Tapi, setidaknya kini aku mulai mengerti apa yang terjadi. Dan, betapa bodohnya aku selama ini tak paham apa yang terjadi. Kesedihan semakin menyayat tiap kali melihat wajah ibu. Ibu pun tak henti-hentinya membelai rambutku dan mendekapku seakan mengerti kalau aku rindu.

Ketika air mata sudah berhenti menguar, dengan sekuat tenaga aku bertanya pada ibu, meminta kejelasan untuk diriku sendiri. Aku tetap ingin tahu dari mulut ibu meskipun rasanya sudah tahu jawabannya. Dan, aku tetap saja bertanya hal yang akan mengubah masa depanku dimulai dari jawaban ibu yang resmi meluncur dari mulutnya. “Kenapa mata kanan dan pipi ibu lebam-lebam?”

Aku memeluk ibu lagi, tak tahan ingin meneruskan tangisan. Ibu juga ikut menangis. Dan, aku sadar betul, ini akan mengubah hidupku selamanya. Kini, ibu sudah kembali. Tapi, sekarang, ayah-lah yang hilang.

Add comment November 20, 2008

Merelakan Senja

Rasanya aku ingin segera berangkat ke stasiun terdekat dari rumahku sekarang dan beperjalanan menuju kotamu malam ini juga. Tak peduli jam sudah menunjukkan pukul 00.07. Tak peduli uang di dompet hanya tinggal Rp60.000. Setelah melihat video yang merekam dirimu tertawa, rindu ini seperti menderas hingga ke pembuluh jantung dan akhirnya membuat degupnya semakin cepat. Baru kali ini aku menyadari, aku didera rindu yang luar biasa.

Kututup mataku sejenak. Mengatasi perih yang sulit untuk dilalui, walau sudah lewat tiga tahun. Aku tak bisa memilikimu. Bukan karena kamu tak mencintaiku. Bukan juga karena jarak yang sebegitu jauh yang jelas membatasi gerik kita. Tapi, lebih karena kita tak pernah mau berusaha. Lebih karena kamu tak sedikit saja berusaha mencintaiku dengan terbuka. Aku maklum. Mau tak mau harus mengerti bahwa kenyataannya budaya nrimo kota asalmu itu mendarah daging dalam dirimu yang notabene lahir, besar, dan memang asli Jawa.

00

Aku sayang kamu. Kata itu nekat aku ucapkan setahun yang lalu, saat terakhir kita bertemu. Kali itu, aku datang ke kotamu untuk menghadiri pernikahan kakakmu satu-satunya yang perempuan. Tak ada genggaman tangan, tak ada pelukan, tak ada tatapan mata, hanya duduk berdampingan saja di tepi pantai. Tapi, itu luar biasa menggetarkan. Aku sayang kamu. Ulangku sekali lagi yang dijawab diammu. Hingga akhirnya aku turut diam, dan semua membeku. Aku pikir, tak ada celah untukku.

Aku memang wanita. Lalu, apa salah jika aku yang lebih dulu menyatakan perasaan padamu? Tak ada yang salah dalam cinta, begitu kata pujangga. Dan, kamu pun seharusnya tahu. Aku tak salah jika membuatmu ternoda karena telah meluluhkan kesucian religiusmu yang selama ini tak tersentuh cinta. Kamu pun tak bersalah jika memang pilihan yang kamu ambil adalah diam. Sampai hari itu habis, matahari sudah menjingga, dan beberapa nelayan pun terlihat berangkat melaut, kamu tak kunjung bicara. Hingga akhirnya aku sudah harus pulang keesokan harinya, kamu masih juga tak memberikan petunjuk padaku tentang apa yang kamu rasakan padaku. Aku masih tetap hanya aku, dan kamu juga begitu. Tidak ada kita.

00

Masih di sudut kamarku di Jakarta, kubuka mataku mendapati sebuah foto berada di depan dua biji mataku sedang tersenyum. Foto itu berisi dua orang; wanita dan laki-laki. Yang wanita, kukenali sebagai diriku. Di sebelahku, kulihat seorang lelaki berambut pendek agak ikal yang senyumnya membuatku selalu gemas: Landung. Kumasih ingat celotehnya kala foto ini diambil. “Aku heran toh. Kamu setiap kali difoto mbok ya kenapa bisa selalu bagus? Gimana cara?” Aku hanya tersenyum mendengar kepolosannya. Dalam serabut otakku, aku berpikir betapa beruntungnya bisa dekat dengan orang setulus ini. Dan, kini, untuk yang keseribu kalinya, aku tersenyum bahagia melihat dan merasakan kenangan yang kugenggam ini. Walau hati Landung sudah entah di mana, dan kami tak pernah bisa bersama.

00

Sehari setelah kepulanganku dari kotamu tahun lalu, tempat asal Jenderal Sudirman, pahlawan besar Indonesia itu berasal, aku menerima telepon dari nomor provider yang sama denganku. Tengah malam. Walau mengantuk, aku tetap mengangkatnya. Landung. Kantukku langsung lenyap, berganti jompakan yang sulit dijelaskan.

Assalamu’alaikum…,” katanya dari seberan sana.

Wa’alaikum salam,” kataku tenang mendengar suaranya yang meneduhkan.

Basa-basi menjadi awal perbincangan kita. Nomor ini hanya nomor perdana yang dibelinya khusus untuk bicara denganku. Sebab, aslinya, nomor dia adalah nomor dari provider lain. Aku tersenyum lagi. Ini sudah lumayan, dia sudah mulai bergerak, pikirku dalam hati. Soalnya, kalau dipikir-pikir, Landung sangat tidak mau berusaha. Inilah hal yang paling aku benci darinya. Dan, ketika dia bergerak untuk membeli SIM card perdana dengan provider yang sama, ini setara dengan pengorbanan Patih Gadjah Mada untuk tidak makan buah palapa sebelum ia berhasil mempersatukan Nusantara. Berlebihan mungkin, tapi memang begitulah adanya.

Suaranya membuatku kangen setengah mati. Bahkan, basa-basinya terdengar sangat penting bagiku. Seolah kita sedang merencanakan masa depan bersama. Tak ada yang boleh terlewatkan. Bahkan, ketika ia hanya bilang, “Kamu bisa aja toh” itu seperti bos di kantor mengatakan “Baiklah, proposal kamu diterima.” Wuih, senangnya!

Selesailah basa-basi berpuluh-puluh menit itu. Dan, tibalah kita pada hidangan utama percakapan ini. Aku berdebar menunggu apa yang akan ia putuskan padaku. Sebab, jujur saja, ini benar-benar akan mengubah hidupku. Entah itu jawaban “ya” atau bahkan “tidak”. Keduanya sama-sama berpotensi untuk mengubah haluan kapal hidupku menjadi terarah atau bisa juga menjadi limbung tak tentu arah. Dengan nada suara yang direndahkan, ia mengatakan prolog yang belum-belum sudah melinukan segala persendian yang ada di tubuhku. “Aku ndak bisa, Ray.” Setelah kata-kata ini, aku seolah memutuskan tak lagi menjadi pendengar yang baik. Aku tuli, tak mau dengar apa-apa lagi. Karena pada akhirnya, apa pun semangat dan kekuatan yang kukatakan tak akan bisa membikin Landung lompat menggenggam tanganku dan berusaha. Ia terlalu takut akan silsilah keluarga kami yang dianggapnya terlalu dekat. Ia terlalu cepat mematikan citraan yang ada di benaknya tentang masa depan kami. Katanya, “Ibu dan Bapak akan menjadi orang pertama yang merobek-robek cita-cita kita. Dan, kalau sudah menyangkut Ibu dan Bapak, aku ndak bisa, Ray. Mereka sudah kasih liat ke aku, bahwa mereka ndak setuju dengan hubungan ini. Mereka memang tidak bicara, tapi itu cukup jelas buatku.”

Setelahnya, masih dalam percakapan yang sama, berulang-ulang kata-kata penyemangat dan “coba dulu” aku ucapkan hingga putus asa, ia tetap bergeming. Tak ada pilihan, katanya. Tiba-tiba, lidahku pahit. Kami harus mengakhiri semuanya bahkan sebelum ini dimulai. Padahal, kalaupun Landung mau berusaha sedikit saja, hanya dengan bangga mempertahankan hubungan ini, aku sudah mempersiapkan gubuk kesetiaan untuk ia diami selama hidupnya. Tapi, jeritanku tak terdengar hingga menyeberangi perbatasan dua provinsi. Terlalu jauh. Hingga yang terdengar olehku tak lagi suaranya yang teduh, tapi jeritanku sendiri yang menyayat malam. “Selamat datang, Akhir,” kataku seraya menutup telepon interlokal itu.

00

Hampir setahun sudah berlalu. Tapi, percakapan itu masih jelas kedengarannya. Penolakan yang manis, tapi merajam. Kesedihan yang menghancurkan, tapi tak ada dendam. Dan, kini, aku belajar merelakan. Merelakan bahwa Landung tak bisa bersamaku. Merelakan rasa ingin memiliki yang tak kunjung kesampaian. Mungkin memang harus disudahi. Dan, yang paling sulit dari proses rela-merelakan ini adalah aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya. Bahkan, ketika ada laki-laki yang sudah begitu mencintaiku datang dan merelakan semua kasih sayangnya untukku, aku tetap tak bisa membunuh cintaku untuk Landung.

Sore hari yang lain kuhabiskan di sebuah pantai berbeda. Angin yang datang pun sudah tak lagi membelai. Ia menampar. Anehnya, pembunuhan yang sudah kurencanakan atas cintaku pada Landung tak juga bisa kulaksanakan. Eksekusi sudah dijatuhkan, tapi kenapa tetap tak mati? Obatku hanya ini; pantai dan senja. Mungkin memang harus begini akhirnya. Tuhan tidak menyuruhku untuk melupakan. Merelakan saja cukup. Dan, ternyata itu pun belum sepenuhnya bisa kulakukan. Dan, senja seolah berbisik bahwa ia tahu kalau ini sulit. Seperti sore-sore yang lain, aku habis didekap pemakluman dari sang senja. Setelahnya, yang ada adalah aku luruh di pasir-pasir yang mulai gelap. Sendirian.

00

Tak ada lagi keinginan untuk susah payah berangkat ke kotamu. Sebab, aku sudah tahu itu percuma. Sia-sia. Tak akan ada yang berubah pula. Hingga sampailah aku pada titik di mana aku tahu, untuk merelakan Landung, ternyata aku juga harus merelakan senja—teman yang setiap saat mengobati rinduku pada Landung. Selamat tinggal.

Add comment November 18, 2008

Hidup Mampir Minum

BBM positif naik. Para mahasiswa turun ke jalan dan berharap pemerintah mau menarik kembali titahnya yang suci itu. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin juga keputusan itu bisa ditarik? Sudah banyak juga bukti-bukti sebelumnya bahwa penarikan keputusan tidak akan pernah terjadi. Contohnya, masih soal kenaikan BBM pada 2005, premium yang tadinya Rp2.500 naik jadi Rp4.500. Mahasiswa-mahasiswa kala itu (seperti juga kali ini) juga demo besar-besaran menuntut penarikan keputusan. Tapi, toh, hasilnya apa? Tetap saja harga BBM ‘tenang-tenang’ saja bercokol di angka 4.500. Tidak ada pengaruhnya. Atau, ketika Lapindo milik pengusaha berjanggut panjang di Sidoarjo memuncratkan lumpur panas. Katanya akan ada relokasi pemukiman penduduk yang rumahnya ditelan lumpur. Sampai sekarang mana buktinya? Desa tenggelam, rumah tak punya, dan ganti rugi pun tak semua penduduk dapat. Miris betul melihatnya. Dan, si janggut panjang seolah tak peduli akan masalah itu. Ia dengan leganya tertawa-tawa di gedung ‘kantor’-nya dan berbicara soal 100 tahun Kebangkitan Nasional di televisi bersama Jubir presiden berkumis tebal. Dan, penduduk Sidoarjo masih tetap tidak berumah.

Ahhh, repot juga kalau BBM naik begini. Pekerjaanku yang ke mana-mana jadi makin menggerogoti kantongku yang tidak pernah penuh. Padahal, gaji seorang kolektor kan tidak seberapa. Belum lagi, bahan bakar harus beli sendiri, tidak dibelikan oleh perusahaan. Maklum, perusahaan kecil. Tapi, yah, bisa dimengerti juga kenapa akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM ini. Dan, aku pun termasuk orang yang mengerti soal perubahan yang ‘merugikan’ ini. Bisa-bisa keinginanku untuk menikah tahun ini tidak akan terjadi. Ya, gajiku yang tidak seberapa ditambah belum punya rumah sendiri, dan BBM yang naik, hummm, rasanya harus berpikir beberapa kali lagi untuk menikah. Kadang-kadang aku bingung juga, kenapa kalau BBM naik, kebutuhan pokok juga harus ikut naik? Di mana hubungannya? Apa karena masalah distribusi si agen sembako yang harus bolak-balik angkut sembako itu dari suatu daerah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menaikkan harga sembako? Atau ada hal yang lebih kompleks lagi dari ini? Aku pusing jadinya. Memikirkan hidup sendiri saja sudah pusing. Semakin pusing ketika aku sok-sok ingin tahu masalah negara.

“Ya sudahlah, Ke. Kita ini cuma orang kecil. Nggak usahlah kepengen tau masalah penggede gitu,” ujar Emak suatu hari.

“Tapi, Mak. Aku penasaran, apa penggede kita itu bener-bener mikirin rakyat kecil seperti kita? Kok selama ini mereka keliatan nggak peduli gitu, Mak? Kemaren aku baca di koran. Fasilitas dinas para penggede kita itu mewah sekali ternyata. Mobil. Mereknya pun elit. Ck ck ck…”

“Ya sudah. Kamu cukup tahu saja. Nggak usah terlalu dipikirin. Jangan kamu berkhayal bisa ngubah borok-borok penggede kita. Kayak kamu itu siapa aja sih. Inget, kita ini cuma orang kecil. Mikirin hidup sendiri aja udah pusing.”

“Iya, Mak. Makanya, orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya, ya Mak.”

Pagi ini, masih dengan rambut yang berantakan, aku berangkat kerja tetap kekeuh mengendarai motorku yang butut. Kulihat agendaku dari atas motor. Hari ini harus menagih ke daerah Pondok Indah, Dewi Sartika, Sudirman, lalu ke Pancoran, berlanjut ke Kuningan, dan terakhir ke Cikini. Lumayan berputar-putar hari ini, batinku lemas.

Bruummm brummm…

Panasnya Jakarta semakin panas dengan adanya aksi-aksi mahasiswa di pelataran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saat ingin pergi ke Dewi Sartika, kulihat lautan mahasiswa beralmamater hitam membakar-bakar entah apa itu di aspal jalanan. Yang terlihat hanya bekas yang kehitaman dengan asap yang menggumpal. Masyarakat umum menonton kejadian itu. Beberapa kameraman entah dari stasiun televisi mana hilir mudik membidik peristiwa itu. Ramainya situasi menggodaku untuk melihat kejadian itu sebentar. Aku berhenti dekat jembatan penyebrangan di depan pintu masuk UKI. Mencoba memahami apa yang mereka tuntut dan berusaha menyimak apa yang mereka inginkan dari pemerintah. Ternyata, demonstrasi itu masih berkutat tentang kenaikan BBM. Hummm… Ini sudah tidak menarik lagi bagiku. Sebab, aku sudah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku sepertinya sudah tahu akhir cerita ini.

Dengan malas, aku beranjak lagi ke Dewi Sartika. Heran, dari beratus atau bahkan beribu orang yang ada di sana, apakah tidak ada yang menyadari bahwa hidup ini hanyalah sekadar mampir minum. Tak ada yang perlu terlalu dipikirkan. Toh, hidup kita ini pada akhirnya akan berakhir. Dari tanah kembali ke tanah. Jadi, sebenarnya untuk apa ada perkelahian di antara sesama? Untuk apa segala kengototan ini?

Ingat, hidup ini hanya sekadar mampir minum, kataku sambil melenggang pergi di atas motorku yang tetap butut.

Add comment November 18, 2008

Ephipany

Duduk di salah satu kursi empuk sebuah patas, aku memandang jalanan Jakarta menuju Pancoran. Pukul setengah dua. Sejak berpuluh menit lalu, aku duduk di patas ini. Gorden biru patas tampak begitu lusuh. Perjalanan kali ini menuju sebuah wisma kawasan perkantoran dekat Patung Pancoran. Sambil mendekap diri sendiri, aku memandang keluar melalui jendela. Perjalanan ini baru setengahnya. Baru saja aku melewati sebuah pasar yang selalu kulewati tiap kali pergi ke Pancoran dari Depok.

Jalanan hari ini padat. Mobil-mobil pribadi mewakili kesombongan tiap pemiliknya yang duduk nyaman, tanpa harus panas, tanpa harus sesak. Angkot-angkot yang penuh, formasi 6-4 dan 2 bangku cadangan, seperti terlihat letih. Tiap hari angkot-angkot tersebut dipaksa memenuhi ego pengendaranya yang mendesak mengejar setoran. Angkot-angkot dikuras tenaganya tanpa dimanjakan di bengkel. Peringkat pertama yang mendominasi adalah sepeda motor. Kulihat sendiri beberapa tingkah egois motor-motor yang belakangan makin banyak di jalan raya. Salip sana, salip sini, ckat ckit suara rem motor mendadak, raungan knalpot modifikasi ataupun biasa saja memenuhi ruang bunyi Jakarta tiap hari. Belum lagi motor 2-tak dan alat transportasi lain yang rajin amal asap monoksida. Hingga seringkali aku berpikir, “Apa kepadatan ini merupakan bagian dari status atau posisi kota Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia?”

Salah satu kandidat calon gubernur DKI Jakarta yang sekarang sudah gugur karena tidak menang tersenyum kepadaku dari pantat Metromini trayek Pasar Minggu—Tanah Abang. Senyum kecut, mungkin. Itu adalah salah satu poster yang tertinggal dari kampanye gila-gilaan pemilihan calon gubernur DKI Jakarta tempo lalu. Seperti biasa yang terjadi dalam kampanye-kampanye pemilihan pemimpin, banyak janji yang keluar dari mulut para calon. Manis sekali, memang. Namun, sudah beberapa puluh tahun aku hidup di dunia ini, aku tahu kalau kenyataan kadang tidak sejalan dengan mimpi. Seringnya, kenyataan itu lebih pahit dari angan-angan. Yang artinya, lebih sering rakyat hanya bisa menelan pil pahit karena janji-janji para petinggi nyatanya hanya dapat terealisasikan sebagai janji dan bukan pemenuhan janji. Kasihan kita, selalu kena dibodohi orang berkuasa.

Salah satu kandidat gubernur masih terus tersenyum padaku. Kali ini gubernur yang sudah menjadi sebenar-benarnya Gubernur DKI Jakarta. Foto dalam poster itu memang sangat persuasif. Kumis dan baju safari Betawinya seolah melengkapi impian membangun negeri ajaib di atas gundukan tanah lumpur yang rapuh. Bisa saja bangunan ini amblas jika tanah di bawahnya masih tetap lunak dan rapuh. Namun, bangunan ini juga bisa kuat jika unsur yang melengkapinya dipilih dengan benar setelah sebelumnya menyiasati tanah lunak itu, entah bagaimana caranya.

Ah, masih saja ada yang tersisa dari pemilihan gubernur langsung pertama kali itu. Rupanya, pembersihan ketika beberapa hari sebelum hari pencoblosan tidak menyapu semua sisa kampanye. Pada akhirnya nanti, alat-alat kampanye itu akan menunjukkan kemegahan tradisi pemilihan yang terkenal abis-abisan, atau bisa juga akan menjadi saksi bisu omong kosong dan janji-janji palsu.

Tidak terasa, aku sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah kawasan perkantoran sebelum jalan layang Patung Pancoran. Setelah sekian lama menimang-nimang kegamangan, akhirnya satu keputusan berhasil kuambil dengan berbagai pertimbangan. Hari ini aku memutuskan untuk re-sign dari tempatku bekerja selama dua tahun ini. Memang, mencari pekerjaan tidak mudah di zaman ini. Jadi, butuh waktu agak lama juga untuk dapat keluar dari tempat kerjaku ini, setelah sebelumnya aku mendapat pekerjaan lain sebagai pengganti.

Aku beruntung. Sudah cukup rasanya aku menjadi pengajar. Cukup di sini. Dan, beruntungnya, pekerjaan baru ini di luar dari mengajar, berhubungan dengan media massa. Aku akan meneruskan hidup di Jogja. Aku bosan dengan kehidupan Jakarta. Pernah ada seseorang mengatakan kepadaku, “Jakarta sudah menjadi kota yang tidak manusiawi. Apa-apa mesti diperebutkan: naik bis, antri ke WC, beli tiket, semua berebut. Memang Jakarta gemerlap, tapi tidak manusiawi.” Belakangan ini, aku mulai mengerti maksud orang itu. Keduniawian semakin jadi prioritas di Jakarta. Dan, aku jenuh dengan itu. Kriminalitas, eksploitasi kehidupan selebritis, sinetron pembodohan, iklan-iklan pemicu pola hidup konsumtif, dan lain-lain yang begitu ‘Barat’. Inikah wajah Indonesia sekarang? Seperti tidak memiliki kepribadian sebagai rakyat yang kata orang dahulu gemah ripah loh jinawi.

Sampai akhirnya, aku merasa Jakarta bukan lagi tempat yang ingin kuakrabi keindahannya. Indahnya Jakarta tidak sama dengan konsep indah dalam kepalaku. Indahnya Jakarta begitu semu, bahkan palsu. Banyak penari topeng yang menari berlenggak-lenggok di panggung hiburan berjudul “Jakarta”. Ingin berontak pun sudah tak bisa. Sudah berusaha berbuat, tapi tak bisa mengubah. Jadi, sudahlah, pergi saja.

Mungkin, suatu hari nanti ketika aku kembali ke Jakarta, kampung halamanku, akan kudapati wajah Jakarta yang tidak lagi berantakan, awut-awutan, tidak karuan. Dan, dengan itu, mungkin aku akan dengan bangga mengatakan bahwa Jakarta adalah kampung halamanku tercinta. Aku diam, sibuk dengan pikiran sendiri akan masa depan Jakarta, akan ‘para penari topeng’ Jakarta, akan pemimpin Jakarta yang baru. Semoga ada awal yang indah untuk Jakarta. Sebuah epiphany.

Add comment November 18, 2008

Matahari, Ajak Aku Jatuh Cinta

19 Mei 2007

Jakarta siang ini mendung. Akhir pekan yang cukup panjang—sejak Kamis—menyebabkan jalanan ibukota lengang. Sebagian manusia yang biasanya sibuk dengan pekerjaan lari, bersembunyi sebentar, istirahat. Liburan. Lari dari rutinitas, lari dari aktivitas kerja yang menjenuhkan.

Mendung ternyata tidak menjadi hujan. Ia tetap mendung hingga sore. Langit gelap berwarna abu-abu. Matahari mengintip dari balik sana, seperti malu-malu. Atau, sedang malas, tak tahu juga. Aku tersenyum memikirkan malasnya Matahari dari balkon kamar apartemen nomor 373. Televisi 29” dan DVD Player, serta laptop Macbook hitam tergeletak di meja tepat depan ranjang ukuran king size. Sofa beludru hitam diam di sudut kanan ranjang. Bisu, jarang ditempati. Kamar mandi di sudut kiri ranjang dibiarkan dengan pintu terbuka dan lampu menyala.

Angin kecil mengibas rambutku yang tebal sebahu. Hot pants hitam dan kaos oblong ketat berwarna maroon bertuliskan SEXY LADY di bagian dada masih lekat di tubuhku sejak semalam. Ranjang bersprei hitam yang berantakan seperti menggambarkan suasana hatiku belakangan ini. Berantakan. Angin membelai lagi, kali ini lebih lembut. Kucoba mendongak ke arah langit, mencoba mencari hawa segar di tengah Jakarta yang sepi.

* * *

April 2003

Aku. Kinanti Kusuma. 25 tahun. Bekerja di sebuah perusahaan bidang teknologi komputer. Ia. Raden Mas Bayu Satriawan. 33 tahun. Direktur sebuah bank nasional Indonesia.

Ketika suatu hari aku memberitahunya aku dikirim studi ke Amerika Serikat selama dua tahun, Mas Bayu diam. Ini kesempatan bagus, pikirku. Mungkin juga pikir Mas Bayu. Tapi, konsekuensinya, aku harus menunda rencana menikah akhir tahun ini. Mas Bayu terus diam dan mempererat dekapannya. Aku tahu ia berpikir keras, mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan, akhirnya, disertai senyum lembut, ia berbisik, “Aku akan menunggu, Hon, bahkan sampai ribuan tahun sekalipun.” Kemudian, sepanjang sore, sambil menikmati senja dari balkon apartemenku, kami berpelukan. Sibuk dengan pikiran masing-masing, tapi tetap erat.

Aku ke Toronto bulan berikutnya. Mas Bayu, beberapa keluarga, dan teman dekat mengantar ke bandara. Dua tahun lagi aku akan pulang. Dalam bayanganku, aku akan pulang dengan bahagianya karena sudah menyelesaikan studi, bertemu calon suamiku, dan yang pasti pulang untuk menikah! Ada debur kegembiraan saat membayangkan hal yang terakhir.

Sebenarnya, ada sedikit rasa kecut melepas Mas Bayu untuk sementara. Ada satu ketakutan yang diikuti ketakutan-ketakutan lain yang lebih membuat hati kalang-kabut. Namun, ketika lepas landas, seperti ada kekuatan besar dari dalam diriku, aku harus percaya padanya. Dan, itu memang harus.

* * *

Senja kemerahan muncul dari balik gelap. Mendung masih menemaniku, tapi dengan baik hati ia menyajikan senja yang indah hari ini. Matahari yang hari ini begitu pemalu sudah ingin istirahat di balik selimut bulan. Senja sore ini mengingatkan aku pada senja hari itu. Apakah ini senja yang sama dengan senja yang kunikmati bersama Mas Bayu? Mungkin. Tapi, Mas Bayu toh sudah tidak lagi tertarik menikmati senja. Kalaupun masih, ia sudah memiliki senjanya sendiri yang mungkin menurutnya jauh lebih indah.

Angin lagi-lagi nakal berhembus, tapi kali ini bukan membelai, ia menampar. Malam sudah di ambang pintu. Aku masuk setelah sinar jingga terakhir menghilang. Pintu balkon kututup, tanpa menutup gordennya. Dengan langkah gontai, aku melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Aku sadar hari ini sudah lewat sia-sia. Hanya kedinginan dan ketakutan menghantuiku bergantian, dan itu melelahkan. Lebih parah lagi, aku masih tetap diam di sini, memanjakan sakit hati.

* * *

Juli 2005

Aku rela menunggumu sampai jutaan ribu tahun sekalipun, Hon. Tapi, keluargaku tidak. Dan, kali ini, aku hanya seorang anak yang patuh. Untuk hal ini, aku bukan Mas Bayu-mu yang tegas. Untuk kali ini, aku hanya seorang anak dari Raden Mas Koesdiat dan Raden Ayu Purwanti. Kamu mengerti?” suara Mas Bayu goyang.

Bibirku yang sejak awal pembicaraan ini sudah bergetar, berguncang semakin hebat. Rasa tak percaya, sedih, amarah, pasrah, menyatu di alam sadarku. Tatapanku hanya mengarah pada lantai. Statis, dan diam-diam mulai ambruk.

“Kamu tidak mengerti,” nada Mas Bayu putus asa.

Apa yang aku tidak mengerti, jeritku dalam hati. Bahwa dalam sepersekian jam, dalam satu hari, semua harapan yang kupikir sudah kubangun bersama orang yang tepat hancur begitu saja? Bahwa hanya dalam waktu secepat itu orang yang kucintai membakar blue print masa depanku bersamanya? Bahwa ia telah begitu mudahnya mengambil keputusan untuk melepaskan aku karena alasan yang menurutku bisa diperjuangkan? Bahwa aku harus kehilangan Mas Bayu? Mungkin aku memang tidak mengerti.

“Ya, kamu tidak mengerti,” Mas Bayu yang kali ini bicara kepada dirinya sendiri.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa, dengan kehancuran yang tiba-tiba harus dipanggul, aku bicara. “Aku memang tidak mengerti, tapi mungkin suatu hari aku akan mengerti ini. Dan, ketika itu terjadi, aku yakin semua sudah tidak ada artinya. Untuk hal ini, aku mungkin hanya manusia egois yang tidak mau mengerti, Mas. This is too much, Mas, too much,” kataku yang lemas terduduk di ranjang apartemenku.

Itulah kali terakhir aku bicara dan melihat Mas Bayu.

* * *

Januari 2006

Mas Bayu menikah dengan perempuan ningrat pilihan orangtuanya ketika aku baru setahun tinggal di Toronto. Berita ini kudengar dari seorang sahabat. Benar, ia hanya seorang anak, hingga kebahagiaannya pun ditawar-tawar oleh orang tuanya. Ia jelas sekali mewaspadai semua orang yang sekiranya akan memberitahuku di Toronto. Aku sudah curiga ada sesuatu ketika setelah setahun aku di sana, Mas Bayu hanya mengabari dan membalas kabarku seadanya. Aku merasa bodoh karena nyatanya aku tidak tahu apa-apa, padahal di Jakarta sedang ada perayaan besar yang akan meruntuhkan impianku bersamanya.

* * *

Sisa kesegaran air membawaku kembali hanyut dalam lamunanku sendiri. Aku harus merelakan Mas Bayu. Toh, Mas Bayu sudah nyaman di tempatnya berada sekarang. Entah itu di mana. Kubuka lagi pintu balkon. Angin malam terus mencoba menamparku. Untung saja, jaket tebal bulu berwarna hitam mengusir dingin itu. Dari setiap pertemuan, akan ada perpisahan. Dari setiap perjalanan pergi, pasti ada perjalanan pulang. Dan, setiap ada awal selalu ada akhir. Ini mungkin akhirnya. Akhir aku dan Mas Bayu yang sama sekali tidak indah.

Untuk menutup malam ini, kubiarkan angin malam menampar habis-habisan sampai lebam, sampai luka. Untuk yang terakhir kalinya. Esok, aku harap semua akan baik-baik saja. Mas Bayu hanya akan menjadi bagian dari kenangan yang cukup diingat saja, tidak untuk ditangisi terus-menerus. Esok pasti masih ada kehidupan. Esok pasti masih ada cinta.

Untuk pertama kalinya aku merasa, aku berhak untuk bahagia. Untuk pertama kalinya aku yakin, aku bisa bahagia tanpa Mas Bayu. Tapi, kali ini mungkin ditemani matahari yang akan mengajakku jatuh cinta bersamanya.

“Matahari, ajak aku untuk jatuh cinta,” bisikku seraya memejamkan mata.

Add comment November 18, 2008


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre
mio on Cinta Itu Adalah Menunggu

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas belief cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Meta