Posts Tagged dongeng anak-anak

Dongeng Anak-anak: Desa yang Kalinya Hitam

Pada suatu siang yang mendung, seorang anak laki-laki hilir-mudik di sebuah desa. Desa Hitamair namanya. Tubuh anak itu agak gemuk. Dan, karena bolak-balik tak tentu arah, ia berkeringat. Kaus hijau dan celana pendeknya ikut kotor karena keringat dan debu. Mukanya memerah karena keletihan dan mungkin juga kelaparan. Ia seperti kebingungan. Sudah beberapa jam, ia hanya berjalan di tempat yang itu-itu saja, yaitu di jembatan yang di bawahnya terdapat kali kecil.

Setiap orang yang lewat di jembatan memperhatikan anak itu sekilas. Bingung juga ada anak kecil yang terus-menerus melihat ke arah kali dan mondar-mandir seperti itu. Apalagi, ia memperhatikan kali di Desa Hitamair, kali satu-satunya di desa ini yang airnya berwarna hitam dan kental hampir seperti lumpur. Warga Hitamair sendiri sudah tidak tertarik berlama-lama di sana. Karena, kali itu mengeluarkan bau seperti pasar. Makanya, warga Hitamair pun terheran-heran atas apa yang dilakukan bocah laki-laki ini.

Menjelang sore, si anak laki-laki ini berhenti mondar-mandir. Ia tidak meninggalkan kali itu, tapi malah memutuskan duduk sambil tetap memandang ke arah kali. Ia terus menunggu dan menunggu. Hingga akhirnya, ada seorang warga Hitamair menghampiri. Rupanya, bapak berjenggot putih dan berpakaian serba putih ini sudah mengamati si bocah sejak sejam lalu. Bingung juga apa yang sebenarnya anak ini cari. Didorong rasa penasaran, si bapak pun hendak bertanya langsung kepada anak itu.

Nak, sedang apa?” kata si bapak yang disambut pandang polos si anak.

Dengan gugup, si anak menjawab, “Maaf, Pak, saya sedang mengamati kali.”

Ada apa dengan kali itu? Kamu tidak terganggu akan baunya yang menyengat, Nak?” tanya si bapak sambil ikut duduk di sebelah anak laki-laki itu.

Sama sekali tidak, Pak. Keheranan saya mengalahkan bau busuk kali ini,” ucapnya seraya melihat mata si bapak.

Selanjutnya, anak laki-laki yang diketahui bernama Bayu itu menceritakan semuanya: asal-usul dan alasan keheranannya. Ia adalah warga dari desa sebelah, Desa Rimbarimbun. Hari itu, ia sengaja berjalan-jalan ke Desa Hitamair untuk bermain dan menikmati pemandangan desa ini. Ayah dan ibu sudah mengizinkannya untuk pergi asal ia berjanji sudah kembali sebelum sore. Memasuki desa ini, Bayu disambut pemandangan-pemandangan aneh. Ia melihat rumput-rumput berwarna kuning dan kering. Tidak seperti di desanya yang hijau dan segar. Tak berapa lama, bocah ini berhenti berlari. Ia bingung langit sudah hitam padahal hari masih pagi. Ia lalu sibuk memandangi langit-langit hitam yang seolah mendung ini. Bayu jadi rindu desanya sendiri yang setiap hari selalu cerah: awannya putih dan langitnya benar-benar biru.

Sejak detik itu, tak ada lagi keinginan untuk menikmati keindahan Desa Hitamair. Bayu tak ingin lagi bersenandung. Ia jadi tak bersemangat. Tapi, ia tetap jalan-jalan di Desa Hitamair. Hingga sampailah ia di Kali Hitamair. Inilah puncak keheranannya. Air di kali ini tidak jernih seperti di desaku, ucap Bayu dalam hati. Airnya hitam. Bayu lalu bertanya pada dirinya, “Mengapa air di kali ini bisa hitam begini?” Tak sadar, Bayu mondar-mandir di atas jembatan itu untuk mencari jawaban. Hingga ia berkeringat, hingga perutnya terasa kruyuk-kruyuk lapar, hingga ia tidak ingat ucapan orangtuanya yang mengharuskannya pulang sebelum sore. Ia terus terpaku di kali itu. Rumput, langit, dan kini air kali. Ada apa dengan desa ini?

Bapak berjenggot pun mengangguk-angguk mengerti, “Ya, memang, keadaan di sini jauh berbeda dengan di Desa Rimbarimbun. Di sini seolah serba kebalikannya.”

Bayu mengangguk-angguk kecil mengiyakan. Matanya tetap tak lepas dari kali.

Memang, desa kami tak seindah desa Nak Bayu. Dan, kami sadar, ini semua karena kesalahan kami, warga Desa Hitamair,” bapak jenggot putih menerawang.

Sejak dulu, nenek moyang warga desa ini dikenal suka ceroboh. Membuang sampah sembarangan, menebang pohon sembarangan, dan tidak pernah merawat tanah yang tadinya subur. Sampah-sampah yang seharusnya dikumpulkan malah dibuang ke Kali Hitamair. Sisa-sisa pohon yang tidak dipakai lalu dibakar. Membuat langit-langit desa ini jadi hitam. Dan, ini berlangsung terus-menerus setiap hari. Akibatnya, kini, kami hanya kebagian hancurnya saja,” ucap pak jenggot yang mukanya berubah sedih. “Semua serba hitam dan kami tidak bisa mengobati desa kami yang sudah sakit parah.”

Bayu bengong mendengar penjelasan pak jenggot yang ternyata Kepala Desa Hitamair. Kasihan. Bayu kembali ingat pada desanya. Ia tak ingin desanya rusak seperti desa ini. Dalam hati ia bertekad, tak akan membiarkan desanya tercemar dan dirusak. Ia akan menceritakan bencana di Desa Hitamair ini kepada warga di Desa Rimbarimbun. Agar, warga Rimbarimbun mengerti pentingnya menjaga lingkungan.

Setelah puas akan jawaban pak jenggot, Bayu pun pamit pulang ke desanya. Sekali lagi ia berniat ingin segera membagi cerita ini kepada ayah dan ibunya. Desaku tak akan kubiarkan menjadi seperti ini, janjinya dalam hati.

Add comment November 19, 2008


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

khakha on Mengejar Senja VII: Kota …
atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan keriting kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Meta