Posts Tagged fashion
Fashion Harus Mahal?
Di zaman yang seperti sekarang ini, terutama di Indonesia, coba lihat-lihat lagi, apakah memilih dan menggunakan barang-barang atau pakaian bermerek itu diharuskan? Kalau pertanyaan ini wajib dijawab oleh para fashion freak Indonesia, mungkin mereka akan langsung menjawab dengan nada koor, “Iya.” Untuk orang-orang yang tingkat ekonomi menengah mungkin akan menjawab, “Ya, tergantung. Lagi lebih atau nggak.” Nah, lain lagi kalau kalangan bawah yang menjawab, “Pikirin makan aja sulit, Mbak.”
Kita sudah bisa menangkap adanya ketakseimbangan dari jawaban-jawaban mereka, ‘kan? Lalu, apakah golongan atas masih tetap ingin dan wajib berhura-hura menghabiskan uang untuk satu kebutuhan bernama Sandang, padahal ada orang yang untuk makan saja masih harus mikir?
Coba lihat yang dilakukan Sarah Jessica Parker. Ia membawa fashion ke level baru. Pasti sudah dengar beritanya, ‘kan, saat ia meluncurkan fashion line-nya sendiri, BITTEN. Hebatnya, semua item di koleksinya seharga kurang dari 20 dolar. Inilah mengapa saya tadi menyebut bahwa Parker membawa fashion ke level baru.
Saat peluncurannya, Parker bilang, semua ini dilakukannya agar fashion tak lagi jadi satu hal yang eksklusif. Lebih baik merelokasi uang yang awalnya untuk membeli baju-baju branded beralih ke kebutuhan agar hidup Anda bisa lebih makmur. Seperti misalnya, paduan baju yang ada di sebelah kiri ini. Gaun pendek warna hitam cantik ini hanya dihargai 19.98 dolar—sekitar kurang dari Rp200.000. Gaun ini dipadu kaos garis-garis untuk kesan kasual. Dan, harga kaos ini—kata Parker—juga murah, seharga 7.98 dolar; sekitar Rp70.000. lha, kalau saya bilang sih, golongan bawah pasti masih mikir-mikir beli kaos harga Rp70.000 ini.
Itu di luar negeri. Kalau di dalam negeri, ada Senayan City yang baru-baru ini membuka gerai Fashion First yang diisi koleksi-koleksi perancang muda Indonesia (Barly Asmara, Priyo Octaviano, Ade Sagi, Ichwan Thoha, dan Rusly Tjohnardi) dan beberapa (lagi-lagi) brand luar negeri.
Katanya, sih, harga baju-baju di gerai ini dibuat terjangkau, agar orang Indonesia tertarik. Tapi, seberapa terjangkau koleksi itu, saya sendiri kurang paham. Dan, terjangkau atau tidak, itu juga satu hal yang relatif. Yang menurut orang kaya murah, belum tentu orang golongan bawah juga bilang murah. Bukan begitu?
Tapi, bukan berarti golongan bawah tidak bisa tampil gaya. Memang, mungkin bukan barang-barang branded seperti masyarakat golongan atas. Tapi, tenang. Ada solusinya. Masih ada trade centre-trade centre di Indonesia yang (biasa) menjual barang-barang murah, tapi tak kalah cantik. Yang penting nyaman. Dan, kenapa juga harus malu atau menutup-nutupi kalau baju yang kita pakai beli, misalnya, di ITC. Toh, kita nggak nyuri juga.
Apa ungkapan menghambur-hamburkan uang “hanya” untuk belanja kebutuhan-kebutuahan tersier masih bisa berlaku? Bukankah akan lebih bahagia kalau uang yang sangat berlebih itu diberikan kepada orang-orang yang untuk makan hari ini saja masih harus mikir, daripada sekadar memakai baju-baju branded yang—memang sih indah dan prestise—hanya semu? Ya, cukup dijawab saja di dalam hati masing-masing.
Cukup satu saja yang harus dijawab secara lantang; apa kalian—para orang kaya—bisa tega melihat saudaranya sendiri harus makan dari nasi bungkus sisa yang ada di tong sampah? Nurani, jawab!
Foto: ini.
1 comment July 1, 2008