Posts Tagged hati

Beloved Onya, Bobbi, Inez, dan Beberapa Lagi yang Lain

Perasaan memang sulit dimengerti. Rasa nggak enak datang begitu saja. Rasa nyaman juga sering muncul tanpa alasan. Rasa nyaman yang nggak beralasan ini beberapa kali saya ‘temukan’. Saya punya teman. Jenis teman yang nggak pernah rutin tukar-tukaran cerita. Teman yang nggak selalu bareng-bareng berdua. Teman yang bahkan nyaris nggak pernah sekalipun jalan-jalan bersama. Tapi, entah dari mana datangnya, saya merasa nyaman. Dan, ada perasaan seperti, saya telah mengenal dia sangat baik; karib/akrab, seumur hidup saya.

bee onya gie

2 comments April 21, 2009

Diamlah Sediam yang Kaubisa

sri di jatilawang

Pernah suatu ketika, seorang lelaki datang dan menyempatkan diri duduk di sampingku. Dalam diam saja. Tak berkata apa-apa. Ia bilang, “Aku temani, ya.

Aku akan sediam mungkin yang aku bisa.” Dan, saat itu, aku yang tak ingin bicara, tak merespons apa-apa; tak mengusirnya, tak juga menerima. Hingga akhirnya aku puas berdiam diri, setelahnya aku langsung pergi seenak hati sendiri meninggalkan si lelaki entah dia itu siapa yang telah dengan rela hati menemani.

Si lelaki tak menuntut apa-apa. Toh, dari awal dia juga sudah bilang, hanya ingin menemani. Ia juga tak memanggil, ketika akhirnya tanpa pamit aku pergi menjauh darinya dipeluk gigilnya angin malam. Beberapa hari kemudian aku baru muncul lagi di tempat itu. Kembali ingin dirubungi diam. Ada sedikit harapan bahwa nanti ketika sampai, aku akan menemukan si lelaki bertopi jerami itu. Ada sedikit harapan juga bahwa nanti ketika aku sampai, dia akan kembali menawarkan diri untuk menemani. Dan, ternyata dia memang ada. Dia sudah menunggu di sana. Sudah siap dengan buku bacaan di tangan kanannya, dan sekaleng bir dingin. Aku pun duduk di sampingnya. Diam. Dia juga diam.

Begitu terus berulang-ulang kali. Hingga akhirnya, kami terbiasa saling menemani dalam diam. Dan, rasanya, kalau saja dia tak ada satu hari saja, hari rasanya jadi muram dan udara jadi tak terlalu segar.

Tapi, ada yang lain hari ini. Aku datang, dan dia tak ada. Yang ada hanya kaleng bir bekasnya menemaniku kemarin. Hari ini ia tak muncul. Sampai hari ada di penghujung, lelaki itu tak juga tampak. Hingga terbersit di benakku sesaat–sesaat saja–bahwa aku merindukannya, merindukan pertemanan diam ini.

Add comment February 5, 2009


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

khakha on Mengejar Senja VII: Kota …
atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan keriting kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Meta