Posts Tagged orangtua

Mungkin Karena Zaman?

mother_and_son_mothers_day_card-p137908273813856643tdtq_400

Dua hari berturut-turut, hari ini dan kemarin, saya sebis dengan seorang anak laki-laki yang didampingi wanita muda berjilbab. Laki-laki yang kira-kira berusia 10 tahunan ini jelas kelihatan adalah anak berada; kulitnya bersih, sepatu bermerek (Puma), baju-bajunya ‘beradab’, berkacamata trendi (berbingkai putih), dan sebuah ponsel menggelantung dengan tali di lehernya. Dan, dari sudut pandang saya, anak ini cukup ganteng. Agak sipit, tapi menarik.

Dia jadi menarik perhatian saya karena wanita yang mendampinginya. Karena tadi bis agak penuh, si wanita pendamping duduk di sebelah saya, sedangkan si anak laki-laki tak jauh darinya. Wanita yang bersamanya adalah wanita muda berjilbab, agak pendek, dan penampilannya seolah ada di kasta lebih rendah dari si anak. Dan, benar saja, saya sempat mendengar si anak memanggil dia “Mbak”. Langsung saya bisa berkesimpulan, wanita ini adalah baby sitter-nya, pengasuh, orang yang menjaga si anak ketika orangtuanya tak ada.

Nah, hal terakhir itu yang menarik saya. Kemanakah orangtuanya? Tunggu, jangan dijawab. Ini hanya pertanyaan retorits. Sebab, saya sudah punya pendapat sendiri. Anak ini adalah salah satu “anak masa kini” yang orangtuanya sibuk berkarier dan tak sempat lagi mengurus anak sendiri. Memang baru asumsi. Tapi, kalaupun yang ini tidak benar, banyak anak lain yang sungguh-sungguh mengalami ini. Bisa jadi beruntung kalau baby sitter si anak memang orang baik-baik. Tapi, bisa jadi buntung kalau orang yang selalu mendampingi si anak adalah “orang tak begitu baik”. Apa yang bisa orangtua lakukan kalau sudah kena asamnya? Tidak ada. Menyesal? Pasti. Setelah itu apa? Tauk. Hehe..

Foto: sini.

Add comment April 29, 2009

Tak Ada yang Lebih Membahagiakan Selain Ini

mother-and-son

Di bis dalam perjalanan Ragunan-Lebak Bulus.

Setiap orang pasti punya orangtua. Pasti punya ibu yang macam-macam jenisnya. Begitupun saya. Bagi saya, ibu adalah wanita demokratis yang teguh. Dia tak pernah memaksakan apa pun pada saya. Dia tak pernah mengatur saya dan akhirnya malah membuat saya tersiksa. Dia memang mau tahu apa saja yang terjadi di setiap menit kehidupan saya. Tapi, yang terkesan bukan sikap otoriter. Justru pantauan yang ‘halus’. Dan, saya tak pernah berkeberatan atas itu.

Jujur, kini, saya sudah berhenti mencium tangan ibu saya setiap akan keluar rumah sejak saya lulus kuliah–kira-kira dua tahun lalu. Bukan karena saya tidak mau, tapi lebih karena ibu tak pernah membiarkan tangannya menganggur setiap kali saya akan berangkat. Atau, kadang-kadang, ibu saya malah sudah beranjak pergi sebelum saya bangun tidur dan sempat mencium tangannya.

Dua tahun sudah. Dan, ibu sudah semakin tahu batas-batas untuk mengawasi saya. Dia sudah tahu kalau pekerjaan mulai merenggut saya darinya. Dia juga sadar kalau saya sudah bisa berjalan sendiri–berkat didikannya juga yang benar-benar menanamkan konsep baik-buruk di hidup saya. Saya pun semakin jauh darinya. Ibu juga sepertinya mengerti. Anak bungsunya bukan lagi anak kecil. Jauhnya jarak ini jadi biasa untuk saya. Sampai hari ini saya melihat potret masa kecil saya pada diri anak kecil lain.

Dalam bis ini, naiklah seorang ibu tak begitu muda-tak begitu tua bersama anak laki-lakinya yang berseragam SD; besarnya sekitar usia-usia kelas 5-6 SD. Anak yang tampan menurut saya. Bibirnya merah dan senyumnya manis sekali. Saya sudah banyak melihat potret ibu-anak dalam hidup sehari-hari saya. Tapi, baru kali ini saya merasa hangat. Bukan karena si ibu yang selalu tertawa pada anak laki-lakinya. Bukan karena si ibu yang selalu menggandeng tangan anaknya ketika berjalan bersama–sesaat sebelum naik dan turun bis. Bukan karena usapan si ibu di kepala sang anak. Tapi, karena anak laki-lakinyalah saya merasa haru. Ia dengan senang hati menerima gandengan tangan ibunya. Ia dengan mata cerah bercerita kepada ibunya dan tertawa bersamanya. Ia dengan tepat menyandarkan kepala ke lengan ibunya ketika sang ibu merangkulnya. Entah kenapa semuanya begitu murni. Pas. Padahal dia anak laki-laki. Laki-laki. Yang biasanya jaga gengsi. Yang biasanya keras hati.

Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat potret mereka hari ini ^^

Foto: http://africanstreetkid.com/images/

Add comment April 16, 2009


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre
mio on Cinta Itu Adalah Menunggu

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas belief cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Meta