Posts Tagged reuni
First Date, 06-07/06/09

Teman adalah kebersamaan. Persahabatan adalah merajut kenangan. Saya percaya kedua kalimat itu. Saya juga percaya, selama apa pun kita nggak ketemu teman-teman, yang namanya “teman”, pasti selalu bisa terhubung saat ketemu lagi.
Seperti ini. Acara reuni kecil-kecilan angkatan 2003 SMA 49. Ketika sama-sama ada waktu dan ada kemauan, kami pergi dua hari (saja) ke Puncak, menyewa vila dan menginap, bakar jagung, panggang ayam, cekakak-cekikik. Tapi, ya, nggak banyak yang bisa diharapkan. Maksudnya, dari sekian banyak jumlah siswa yang seangkatan, nggak ada setengahnya yang bisa ikut-serta dalam ajang “memunculkan memori” ini. Kecewa? Nggak juga. Karena, kami berhasil memaksimalkan yang ada. Sedikit pun cukup, asal berkualitas.
Namanya juga reuni, ini saatnya hubungan yang sempat terputus disambung lagi dan hubungan yang masih terikat dijadikan lebih erat lagi. Jujur, seperti saya. Semasa sekolah, saya nggak pernah yang namanya bicara dengan Doni Aditya. Tapi, First Date ini berhasil membuat kami bisa becanda dalam satu bahasa. Kami juga akhirnya tahu, kalau ada “anggota istimewa Dz49ers 2003″ lain hari itu, karena Upay memperkenalkan sang pacar.
Segala perubahan yang terjadi dalam diri kami masing-masing selama jeda kami sama-sama ‘menghilang’ juga jadi bahasan yang renyah. Roro, Pandu, dan Daniel yang membesar, misalnya (walaupun Daniel dari awal juga sudah besar :p). Memang hal kecil, tapi menyegarkan. Semacam pekerjaan atau perkuliahan. Semacam pacar-pacaran; mantan versus mantan, gebetan versus gebetan, atau sebangsanya. Semacam cerita-cerita kekonyolan masa ‘muda’ dulu. Hhhhh, it’s totally fun! Dan, berhasil mengisi kembali baterai ‘kenangan’ kami yang mulai kedip-kedip. Setidaknya, itu menurut saya.
First Date kami kelar sudah. Semoga ada lagi yang selanjutnya. Sahabat selamanyaaaaa! ^^
2 comments June 10, 2009
Karaoke Rasa Rindu

Pernahkan merasa nggak sabaran menanti untuk suatu rencana yang akan datang? Saya baru saja mengalaminya. Jadi, anak-anak 2003 IKSI (Jurusan Sastra Indonesia UI, tempat saya kuliah), hendak bakumpul di Plaza Semanggi. Rencananya sih karaoke di Inul Vista. Hari bertemu jatuh pada Jumat, 17 April 2009. Untungnya, saya baru saja selesai deadline sehari sebelumnya. Kalau tidak begitu, sama seperti kejadian kumpul-kumpul di Mal Ambassador dan Pelangi Part. I, saya lagi-lagi nggak bisa datang. Bahkan, beberapa hari sebelumnya, saya sudah nggak sabaran untuk bertemu kawan-kawan saya itu.
Hingga sampailah saya di Pelangi, diantar Keriting. Bertemu Arnellis, Nelly, Ino, dan Rime di Chicken Story, disusul Harry, Amel, Nie, Ika, dan Ndi, keriaan pun dimulai. Inul Vista ruang large jadi saksi kegilaan kami. Awal masuk ruang, sekitar pukul 20.00, situasi masih terkendali. Masing-masing memesan lagu yang “gue banget” untuk dinyanyikan.
Saya banyak memesan. Tapi, lebih condong memesan lagu-lagu yang bisa dinyanyikan bersama dan dijompak-jompak. Semacam “Stranger by the Day” Shades Appart, “Melompat Lebih Tinggi” dan “Sahabat Sejati” Sheila on 7. Tapi, lain lagi Ino yang menjadikan karaoke kali ini jadi ajang curhat. Ha-ha-ha. Dia selalu memilih lagu-lagu nyusruk yang memang bener-bener “dia banget”. Seperti, “Masih Mencintaimu” Gruvi, lagu Lyla (saya lupa judulnya, saking berasa asing di telinga saya), dan sebangsanya. Lain juga dengan Rime yang notabene The Master (mengingat suara dia bagusnya nggak ketulungan). Curhat dan bermain teknik sekaligus. Mantap! Ika pasti memesan Gigi. Nindi? Dia pasrah dan terserah. Apa pun jadilah. He-he-he. Nelly juga sedikit curhat. “Kecewa” BCL jadi syahdu banget dia nyanyikan. Harry? Dia kebagian lagu-lagu jadul (dia yang milih sendiri juga sih), seperti “Kalau Bulan Bisa Ngomong” Farid Hardja. Nie sih selalu excited melihat yang lain nyanyi. Nah, Amel, dia ratu sejagad karaoke kali ini. Semua ikut dinyanyikan. Yang paling gila–dan akhirnya brainwash di kepala masing-masing dari kami–adalah lagu Nicky Astria “Mengapa”. So yesterday, tapi gokiiilll. Nggak peduli nada ke mana, suara ke mana, dia tetap jalan terus. Sayang, Arne pulang terlalu cepat; pukul 21.00. Sementara, kita di Inul hingga pukul 22.30. Tapi, kemeriahan tetap ada. Lebih dari cukup untuk mengisi baterai kerinduan yang sempat kosong. Hhhh, bahagianya…
Walaupun tidak dalam formasi yang lengkap, tapi ini cukup.
Add comment April 20, 2009