Posts Tagged sajak

Hitam

Kau tahu apa ini?
Benda hitam berlubang-lubang
yang ada di tanganku ini?

Inilah derita yang kualami setahun belakangan
Inilah harapan-harapan yang telah menghitam itu
Inilah hatiku yang dengan susah payah kukeluarkan dari badan
Agar aku tak lagi tersengat rindu
Agar aku lupa cintaku

Inilah hatiku…

Add comment February 16, 2009

Mencintai-Mu

Mencintai angin harus menjadi siup
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintai-Mu harus menjelma aku

- Sapardi Djoko Damono

Jadi, sebenarnya, kita tak perlu menjadi orang yang berbeda, atau dalam artian berubah. Kita hanya butuh menyesuaikan…

Add comment February 13, 2009

Rindu Ibu

Satu-satunya orangtuaku itu tak lagi bisa aku genggam,
Atau mungkin ia yang tak lagi bisa meraihku
Karena semakin hari, rasanya aku semakin mengumpulkan jarak
Entah untuk apa.
Dan, kadang, setelah bersirobok dengan matanya yang rindu,
aku hanya bisa terisak,
juga menyesal.
Tapi, tak sanggup kembali…

– Maaf, Ibu.

1 comment November 20, 2008

Lari Luka

Dan, Sang Lelaki terus melanjutkan perkelanaannya.
Mencari siapa-siapa lagi yang lebih berarti dari Perempuannya
yang berhasil lari membawa lukanya sendirian.
Entah ke mana.
Di akhir kelana Perempuan, akan terjawab, bahwa tidak pernah ada cinta yang sia-sia. Ketika Perempuan pergi, Lelaki pun ikut pergi bersamanya.
Walaupun tidak bersama, tetapi akan ada saatnya Lelaki dan Perempuan itu bertemu. Entah kapan.
Mungkin di akhir perkelanaan keduanya.
Di akhir pertahanan.
Di batas pengertian.

Add comment November 20, 2008

-Mu

Merasai-Mu,

Seperti aku berlama-lama di malam berangin.

Jika tak cepat-cepat membalut diri, aku akan kebal rasa

Untuk kemudian mabuk dan tak sadarkan diri.

Add comment November 19, 2008

Setangkai Ilalang, Iwan Fridolin

Setangkai ilalang

bersimpuh di kakilangit mencium kaki bintang

menggapai awan menggapai bulan

merindukan Tuhan

Add comment September 12, 2008

Rumput Ilalang, Wiji Tukul

Sebuah puisi dari Wiji Tukul yang ‘ditemukan’ sama Adhika Irlang. Dia tahu gue, setidaknya dia tahu gue suka berada di tengah-tengah ilalang.

Ini dia puisinya, untuk Wiji Tukul yang kini nggak tahu ada di mana. Semoga dia tetap bahagia di mana pun ia.

hijau hijau

tumbuh lagi

walau kubabat berulang kali

walau kubakar berulang kali

hijau-hijau

tumbuh lagi

sudah seratus kali kaucabut

kausemburkan api kerusuhan

hijau hijau

tumbuh lagi

harapanku

menaklukkan

ketakutan

yang kauternakkan

lewat pidato

dan laras senapan

aku melihat ilalang

o siasialah

kekuasaan memasang

palang penghalang

ilalang

tetap hidup tumbuh

dan menang

walau seratus kali digaru

15 Januari 1997

Add comment September 12, 2008


Goresan Terakhir

Goresan Teratas

Archieve

Komentar

atre on Jadi Nggak Jadi Kasian…
tipol on Jadi Nggak Jadi Kasian…
atre on Ini Terbitnya: Jatilawang
indra nuraeni on Ini Terbitnya: Jatilawang
inno on Kosong
khakha on Kosong
atre on Anomali III
2lisan on Anomali III
mio on Tentang Atre
mio on Cinta Itu Adalah Menunggu

Paling Sering Kamu Lihat

Blogroll

Lembar

Tag

49 alter ego artikel awan bahasa banyumas belief cerpen disentri dongeng anak-anak fashion filosofi futsal green tips hati hiking iksi 2003 jakarta jatilawang jodoh kanker kawan kaya dan miskin kebahagiaan kenangan kesehatan koruptor woanjeng kuliner lara makanan nasionalisme orangtua pengamen piala dunia 2008 pondok gede reuni rooftop sajak sketsa soft drink struggle transportasi turnamen wawancara zaman modern

Kategori

alam friendship hasta karya hidup jakarta kebahagiaan keluarga segalanya kenangan kenyataan membunuh waktu olahraga perjuangan renjana senja tentang gue

Corat-Coret…

Baru pulang dari Puncak. Sekarang bersiap ke Pulau Seribu Juli mendatang.

Spam Blocked

Kategori

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Meta