Posts Tagged struggle
Kondektur Cilik
Hari ini berangkat kerja seperti biasa. Cuma agak lebih pagi. Yang biasanya jam 8.45 baru jalan, hari ini jam 8.20 udah keluar dari rumah.
Naik Kopaja P20 seperti biasa. Tadi naik kopaja ini di perempatan Ragunan dekat Gedung Departemen Pertanian. Pas si Kopaja lagi bergeming di lampu merah.
Waktu naik itu, sempet bingung. Kodekturnya mana, ya? Kok tidak seperti biasa, tidak ada yang “Bulus, Bulus, Bulus” gitu. Begitu duduk di tempat ter-PW dekat pintu depan sebelah kiri, ada anak kecil yang minta ongkos. Heh! Kondekturnya anak kecil, kata saya dalam hati. Betapppaaa…
Dari logatnya sih, saya tidak tahu suku mana anak itu. Yang pasti sesuku dengan si sopir. Mungkin masih ada hubungan kekeluargaan. Mungkin malah sopir itu ayahnya si anak kecil kondektur ini.
Awalnya, saya agak meragukan kapabilitas anak ini dalam hal perkondekturan. Masa iya anak kecil bisa segitu gapenya jadi kondektur, dalam hati saya berkata lagi. Tapi, baru beberapa menit duduk di spot PW saya, ternyata keraguan saya mau tidak mau harus hilang. Anak kecil itu jago betul!
Suaranya tidak kalah dari suara melengking kondektur orang dewasa. Dan, sepertinya dia sudah hapal sekali apa yang harus dia lakukan sebagai seorang kondektur. Meminta ongkos, memberi tanda kalau ada penumpang yang mau naik atau turun, dan dia bahkan tepat menutup pintu kopaja saat si kopaja masuk tol—tepat di pintu tol! Hebat!
Alah bisa karena biasa. Karena satu hal bernama PENGALAMAN.
Add comment June 17, 2008