[Fiksi] Ephipany

Duduk di salah satu kursi empuk sebuah patas, aku memandang jalanan Jakarta menuju Pancoran. Pukul setengah dua. Sejak berpuluh menit lalu, aku duduk di patas ini. Gorden biru patas tampak begitu lusuh. Perjalanan kali ini menuju sebuah wisma kawasan perkantoran dekat Patung Pancoran. Sambil mendekap diri sendiri, aku memandang keluar melalui jendela. Perjalanan ini baru setengahnya. Baru saja aku melewati sebuah pasar yang selalu kulewati tiap kali pergi ke Pancoran dari Depok.

Jalanan hari ini padat. Mobil-mobil pribadi mewakili kesombongan tiap pemiliknya yang duduk nyaman, tanpa harus panas, tanpa harus sesak. Angkot-angkot yang penuh, formasi 6-4 dan 2 bangku cadangan, seperti terlihat letih. Tiap hari angkot-angkot tersebut dipaksa memenuhi ego pengendaranya yang mendesak mengejar setoran. Angkot-angkot dikuras tenaganya tanpa dimanjakan di bengkel. Peringkat pertama yang mendominasi adalah sepeda motor. Kulihat sendiri beberapa tingkah egois motor-motor yang belakangan makin banyak di jalan raya. Salip sana, salip sini, ckat ckit suara rem motor mendadak, raungan knalpot modifikasi ataupun biasa saja memenuhi ruang bunyi Jakarta tiap hari. Belum lagi motor 2-tak dan alat transportasi lain yang rajin amal asap monoksida. Hingga seringkali aku berpikir, “Apa kepadatan ini merupakan bagian dari status atau posisi kota Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia?”

Salah satu kandidat calon gubernur DKI Jakarta yang sekarang sudah gugur karena tidak menang tersenyum kepadaku dari pantat Metromini trayek Pasar Minggu—Tanah Abang. Senyum kecut, mungkin. Itu adalah salah satu poster yang tertinggal dari kampanye gila-gilaan pemilihan calon gubernur DKI Jakarta tempo lalu. Seperti biasa yang terjadi dalam kampanye-kampanye pemilihan pemimpin, banyak janji yang keluar dari mulut para calon. Manis sekali, memang. Namun, sudah beberapa puluh tahun aku hidup di dunia ini, aku tahu kalau kenyataan kadang tidak sejalan dengan mimpi. Seringnya, kenyataan itu lebih pahit dari angan-angan. Yang artinya, lebih sering rakyat hanya bisa menelan pil pahit karena janji-janji para petinggi nyatanya hanya dapat terealisasikan sebagai janji dan bukan pemenuhan janji. Kasihan kita, selalu kena dibodohi orang berkuasa.

Salah satu kandidat gubernur masih terus tersenyum padaku. Kali ini gubernur yang sudah menjadi sebenar-benarnya Gubernur DKI Jakarta. Foto dalam poster itu memang sangat persuasif. Kumis dan baju safari Betawinya seolah melengkapi impian membangun negeri ajaib di atas gundukan tanah lumpur yang rapuh. Bisa saja bangunan ini amblas jika tanah di bawahnya masih tetap lunak dan rapuh. Namun, bangunan ini juga bisa kuat jika unsur yang melengkapinya dipilih dengan benar setelah sebelumnya menyiasati tanah lunak itu, entah bagaimana caranya.

Ah, masih saja ada yang tersisa dari pemilihan gubernur langsung pertama kali itu. Rupanya, pembersihan ketika beberapa hari sebelum hari pencoblosan tidak menyapu semua sisa kampanye. Pada akhirnya nanti, alat-alat kampanye itu akan menunjukkan kemegahan tradisi pemilihan yang terkenal abis-abisan, atau bisa juga akan menjadi saksi bisu omong kosong dan janji-janji palsu.

Tidak terasa, aku sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah kawasan perkantoran sebelum jalan layang Patung Pancoran. Setelah sekian lama menimang-nimang kegamangan, akhirnya satu keputusan berhasil kuambil dengan berbagai pertimbangan. Hari ini aku memutuskan untuk re-sign dari tempatku bekerja selama dua tahun ini. Memang, mencari pekerjaan tidak mudah di zaman ini. Jadi, butuh waktu agak lama juga untuk dapat keluar dari tempat kerjaku ini, setelah sebelumnya aku mendapat pekerjaan lain sebagai pengganti.

Aku beruntung. Sudah cukup rasanya aku menjadi pengajar. Cukup di sini. Dan, beruntungnya, pekerjaan baru ini di luar dari mengajar, berhubungan dengan media massa. Aku akan meneruskan hidup di Jogja. Aku bosan dengan kehidupan Jakarta. Pernah ada seseorang mengatakan kepadaku, “Jakarta sudah menjadi kota yang tidak manusiawi. Apa-apa mesti diperebutkan: naik bis, antri ke WC, beli tiket, semua berebut. Memang Jakarta gemerlap, tapi tidak manusiawi.” Belakangan ini, aku mulai mengerti maksud orang itu. Keduniawian semakin jadi prioritas di Jakarta. Dan, aku jenuh dengan itu. Kriminalitas, eksploitasi kehidupan selebritis, sinetron pembodohan, iklan-iklan pemicu pola hidup konsumtif, dan lain-lain yang begitu ‘Barat’. Inikah wajah Indonesia sekarang? Seperti tidak memiliki kepribadian sebagai rakyat yang kata orang dahulu gemah ripah loh jinawi.

Sampai akhirnya, aku merasa Jakarta bukan lagi tempat yang ingin kuakrabi keindahannya. Indahnya Jakarta tidak sama dengan konsep indah dalam kepalaku. Indahnya Jakarta begitu semu, bahkan palsu. Banyak penari topeng yang menari berlenggak-lenggok di panggung hiburan berjudul “Jakarta”. Ingin berontak pun sudah tak bisa. Sudah berusaha berbuat, tapi tak bisa mengubah. Jadi, sudahlah, pergi saja.

Mungkin, suatu hari nanti ketika aku kembali ke Jakarta, kampung halamanku, akan kudapati wajah Jakarta yang tidak lagi berantakan, awut-awutan, tidak karuan. Dan, dengan itu, mungkin aku akan dengan bangga mengatakan bahwa Jakarta adalah kampung halamanku tercinta. Aku diam, sibuk dengan pikiran sendiri akan masa depan Jakarta, akan ‘para penari topeng’ Jakarta, akan pemimpin Jakarta yang baru. Semoga ada awal yang indah untuk Jakarta. Sebuah epiphany.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s