[Fiksi] Hidup Mampir Minum

BBM positif naik. Para mahasiswa turun ke jalan dan berharap pemerintah mau menarik kembali titahnya yang suci itu. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin juga keputusan itu bisa ditarik? Sudah banyak juga bukti-bukti sebelumnya bahwa penarikan keputusan tidak akan pernah terjadi. Contohnya, masih soal kenaikan BBM pada 2005, premium yang tadinya Rp2.500 naik jadi Rp4.500.

Mahasiswa-mahasiswa kala itu (seperti juga kali ini) juga demo besar-besaran menuntut penarikan keputusan. Tapi, toh, hasilnya apa? Tetap saja harga BBM ‘tenang-tenang’ saja bercokol di angka 4.500. Tidak ada pengaruhnya. Atau, ketika Lapindo milik pengusaha berjanggut panjang di Sidoarjo memuncratkan lumpur panas. Katanya akan ada relokasi pemukiman penduduk yang rumahnya ditelan lumpur. Sampai sekarang mana buktinya? Desa tenggelam, rumah tak punya, dan ganti rugi pun tak semua penduduk dapat. Miris betul melihatnya. Dan, si janggut panjang seolah tak peduli akan masalah itu. Ia dengan leganya tertawa-tawa di gedung ‘kantor’-nya dan berbicara soal 100 tahun Kebangkitan Nasional di televisi bersama Jubir presiden berkumis tebal. Dan, penduduk Sidoarjo masih tetap tidak berumah.

Ahhh, repot juga kalau BBM naik begini. Pekerjaanku yang ke mana-mana jadi makin menggerogoti kantongku yang tidak pernah penuh. Padahal, gaji seorang kolektor kan tidak seberapa. Belum lagi, bahan bakar harus beli sendiri, tidak dibelikan oleh perusahaan. Maklum, perusahaan kecil. Tapi, yah, bisa dimengerti juga kenapa akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM ini. Dan, aku pun termasuk orang yang mengerti soal perubahan yang ‘merugikan’ ini. Bisa-bisa keinginanku untuk menikah tahun ini tidak akan terjadi. Ya, gajiku yang tidak seberapa ditambah belum punya rumah sendiri, dan BBM yang naik, hummm, rasanya harus berpikir beberapa kali lagi untuk menikah. Aku pusing jadinya. Memikirkan hidup sendiri saja sudah pusing. Semakin pusing ketika aku sok-sok ingin tahu masalah negara.

“Ya sudahlah, Ke. Kita ini cuma orang kecil. Nggak usahlah kepengen tau masalah penggede gitu,” ujar Emak suatu hari.

“Tapi, Mak. Aku penasaran, apa penggede kita itu bener-bener mikirin rakyat kecil seperti kita? Kok selama ini mereka keliatan nggak peduli gitu, Mak? Kemaren aku baca di koran. Fasilitas dinas para penggede kita itu mewah sekali ternyata. Mobil. Mereknya pun elit. Ck ck ck…”

“Ya sudah. Kamu cukup tahu saja. Nggak usah terlalu dipikirin. Jangan kamu berkhayal bisa ngubah borok-borok penggede kita. Kayak kamu itu siapa aja sih. Inget, kita ini cuma orang kecil. Mikirin hidup sendiri aja udah pusing.”

“Iya, Mak. Makanya, orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya, ya Mak.”

Pagi ini, masih dengan rambut yang berantakan, aku berangkat kerja tetap kekeuh mengendarai motorku yang butut. Kulihat agendaku dari atas motor. Hari ini harus menagih ke daerah Pondok Indah, Dewi Sartika, Sudirman, lalu ke Pancoran, berlanjut ke Kuningan, dan terakhir ke Cikini. Lumayan berputar-putar hari ini, batinku lemas.

Bruummm brummm…

Panasnya Jakarta semakin panas dengan adanya aksi-aksi mahasiswa di pelataran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saat ingin pergi ke Dewi Sartika, kulihat lautan mahasiswa beralmamater hitam membakar-bakar entah apa itu di aspal jalanan. Yang terlihat hanya bekas yang kehitaman dengan asap yang menggumpal. Masyarakat umum menonton kejadian itu. Beberapa kameraman entah dari stasiun televisi mana hilir mudik membidik peristiwa itu. Ramainya situasi menggodaku untuk melihat kejadian itu sebentar. Aku berhenti dekat jembatan penyebrangan di depan pintu masuk UKI. Mencoba memahami apa yang mereka tuntut dan berusaha menyimak apa yang mereka inginkan dari pemerintah. Ternyata, demonstrasi itu masih berkutat tentang kenaikan BBM. Hummm… Ini sudah tidak menarik lagi bagiku. Sebab, aku sudah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku sepertinya sudah tahu akhir cerita ini.

Dengan malas, aku beranjak lagi ke Dewi Sartika. Heran, dari beratus atau bahkan beribu orang yang ada di sana, apakah tidak ada yang menyadari bahwa hidup ini hanyalah sekadar mampir minum. Tak ada yang perlu terlalu dipikirkan. Toh, hidup kita ini pada akhirnya akan berakhir. Dari tanah kembali ke tanah. Jadi, sebenarnya untuk apa ada perkelahian di antara sesama? Untuk apa segala kengototan ini?

Ingat, hidup ini hanya sekadar mampir minum, kataku sambil melenggang pergi di atas motorku yang tetap butut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s