[Fiksi] Matahari, Ajak Aku Jatuh Cinta

19 Mei 2007

Jakarta siang ini mendung. Akhir pekan yang cukup panjang—sejak Kamis—menyebabkan jalanan ibukota lengang. Sebagian manusia yang biasanya sibuk dengan pekerjaan lari, bersembunyi sebentar, istirahat. Liburan. Lari dari rutinitas, lari dari aktivitas kerja yang menjenuhkan.

Mendung ternyata tidak menjadi hujan. Ia tetap mendung hingga sore. Langit gelap berwarna abu-abu. Matahari mengintip dari balik sana, seperti malu-malu. Atau, sedang malas, tak tahu juga. Aku tersenyum memikirkan malasnya Matahari dari balkon kamar apartemen nomor 373. Televisi 29” dan DVD Player, serta laptop Macbook hitam tergeletak di meja tepat depan ranjang ukuran king size. Sofa beludru hitam diam di sudut kanan ranjang. Bisu, jarang ditempati. Kamar mandi di sudut kiri ranjang dibiarkan dengan pintu terbuka dan lampu menyala.

Angin kecil mengibas rambutku yang tebal sebahu. Hot pants hitam dan kaos oblong ketat berwarna maroon bertuliskan SEXY LADY di bagian dada masih lekat di tubuhku sejak semalam. Ranjang bersprei hitam yang berantakan seperti menggambarkan suasana hatiku belakangan ini. Berantakan. Angin membelai lagi, kali ini lebih lembut. Kucoba mendongak ke arah langit, mencoba mencari hawa segar di tengah Jakarta yang sepi.

* * *

April 2003

Aku. Kinanti Kusuma. 25 tahun. Bekerja di sebuah perusahaan bidang teknologi komputer. Ia. Raden Mas Bayu Satriawan. 33 tahun. Direktur sebuah bank nasional Indonesia.

Ketika suatu hari aku memberitahunya aku dikirim studi ke Amerika Serikat selama dua tahun, Mas Bayu diam. Ini kesempatan bagus, pikirku. Mungkin juga pikir Mas Bayu. Tapi, konsekuensinya, aku harus menunda rencana menikah akhir tahun ini. Mas Bayu terus diam dan mempererat dekapannya. Aku tahu ia berpikir keras, mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan, akhirnya, disertai senyum lembut, ia berbisik, “Aku akan menunggu, Hon, bahkan sampai ribuan tahun sekalipun.” Kemudian, sepanjang sore, sambil menikmati senja dari balkon apartemenku, kami berpelukan. Sibuk dengan pikiran masing-masing, tapi tetap erat.

Aku ke Toronto bulan berikutnya. Mas Bayu, beberapa keluarga, dan teman dekat mengantar ke bandara. Dua tahun lagi aku akan pulang. Dalam bayanganku, aku akan pulang dengan bahagianya karena sudah menyelesaikan studi, bertemu calon suamiku, dan yang pasti pulang untuk menikah! Ada debur kegembiraan saat membayangkan hal yang terakhir.

Sebenarnya, ada sedikit rasa kecut melepas Mas Bayu untuk sementara. Ada satu ketakutan yang diikuti ketakutan-ketakutan lain yang lebih membuat hati kalang-kabut. Namun, ketika lepas landas, seperti ada kekuatan besar dari dalam diriku, aku harus percaya padanya. Dan, itu memang harus.

* * *

Senja kemerahan muncul dari balik gelap. Mendung masih menemaniku, tapi dengan baik hati ia menyajikan senja yang indah hari ini. Matahari yang hari ini begitu pemalu sudah ingin istirahat di balik selimut bulan. Senja sore ini mengingatkan aku pada senja hari itu. Apakah ini senja yang sama dengan senja yang kunikmati bersama Mas Bayu? Mungkin. Tapi, Mas Bayu toh sudah tidak lagi tertarik menikmati senja. Kalaupun masih, ia sudah memiliki senjanya sendiri yang mungkin menurutnya jauh lebih indah.

Angin lagi-lagi nakal berhembus, tapi kali ini bukan membelai, ia menampar. Malam sudah di ambang pintu. Aku masuk setelah sinar jingga terakhir menghilang. Pintu balkon kututup, tanpa menutup gordennya. Dengan langkah gontai, aku melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Aku sadar hari ini sudah lewat sia-sia. Hanya kedinginan dan ketakutan menghantuiku bergantian, dan itu melelahkan. Lebih parah lagi, aku masih tetap diam di sini, memanjakan sakit hati.

* * *

Juli 2005

Aku rela menunggumu sampai jutaan ribu tahun sekalipun, Sayang. Tapi, keluargaku tidak. Dan, kali ini, aku hanya seorang anak yang patuh. Untuk hal ini, aku bukan Mas Bayu-mu yang tegas. Untuk kali ini, aku hanya seorang anak dari Raden Mas Koesdiat dan Raden Ayu Purwanti. Kamu mengerti?” suara Mas Bayu goyang.

Bibirku yang sejak awal pembicaraan ini sudah bergetar, berguncang semakin hebat. Rasa tak percaya, sedih, amarah, pasrah, menyatu di alam sadarku. Tatapanku hanya mengarah pada lantai. Statis, dan diam-diam mulai ambruk.

“Kamu tidak mengerti,” nada Mas Bayu putus asa.

Apa yang aku tidak mengerti, jeritku dalam hati. Bahwa dalam sepersekian jam, dalam satu hari, semua harapan yang kupikir sudah kubangun bersama orang yang tepat hancur begitu saja? Bahwa hanya dalam waktu secepat itu orang yang kucintai membakar blue print masa depanku bersamanya? Bahwa ia telah begitu mudahnya mengambil keputusan untuk melepaskan aku karena alasan yang menurutku bisa diperjuangkan? Bahwa aku harus kehilangan Mas Bayu? Mungkin aku memang tidak mengerti.

“Ya, kamu tidak mengerti,” Mas Bayu yang kali ini bicara kepada dirinya sendiri.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa, dengan kehancuran yang tiba-tiba harus dipanggul, aku bicara. “Aku memang tidak mengerti, tapi mungkin suatu hari aku akan mengerti ini. Dan, ketika itu terjadi, aku yakin semua sudah tidak ada artinya. Untuk hal ini, aku mungkin hanya manusia egois yang tidak mau mengerti, Mas. This is too much, Mas, too much,” kataku yang lemas terduduk di ranjang apartemenku.

Itulah kali terakhir aku bicara dan melihat Mas Bayu.

* * *

Januari 2006

Mas Bayu menikah dengan perempuan ningrat pilihan orangtuanya ketika aku baru setahun tinggal di Toronto. Berita ini kudengar dari seorang sahabat. Benar, ia hanya seorang anak, hingga kebahagiaannya pun ditawar-tawar oleh orang tuanya. Ia jelas sekali mewaspadai semua orang yang sekiranya akan memberitahuku di Toronto. Aku sudah curiga ada sesuatu ketika setelah setahun aku di sana, Mas Bayu hanya mengabari dan membalas kabarku seadanya. Aku merasa bodoh karena nyatanya aku tidak tahu apa-apa, padahal di Jakarta sedang ada perayaan besar yang akan meruntuhkan impianku bersamanya.

* * *

Sisa kesegaran air membawaku kembali hanyut dalam lamunanku sendiri. Aku harus merelakan Mas Bayu. Toh, Mas Bayu sudah nyaman di tempatnya berada sekarang. Entah itu di mana. Kubuka lagi pintu balkon. Angin malam terus mencoba menamparku. Untung saja, jaket tebal bulu berwarna hitam mengusir dingin itu. Dari setiap pertemuan, akan ada perpisahan. Dari setiap perjalanan pergi, pasti ada perjalanan pulang. Dan, setiap ada awal selalu ada akhir. Ini mungkin akhirnya. Akhir aku dan Mas Bayu yang sama sekali tidak indah.

Untuk menutup malam ini, kubiarkan angin malam menampar habis-habisan sampai lebam, sampai luka. Untuk yang terakhir kalinya. Esok, aku harap semua akan baik-baik saja. Mas Bayu hanya akan menjadi bagian dari kenangan yang cukup diingat saja, tidak untuk ditangisi terus-menerus. Esok pasti masih ada kehidupan. Esok pasti masih ada cinta.

Untuk pertama kalinya aku merasa, aku berhak untuk bahagia. Untuk pertama kalinya aku yakin, aku bisa bahagia tanpa Mas Bayu. Tapi, kali ini mungkin ditemani matahari yang akan mengajakku jatuh cinta bersamanya.

“Matahari, ajak aku untuk jatuh cinta,” bisikku seraya memejamkan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s