[Fiksi] Pencinta Kenangan yang Lupa Kenangan

Di sebuah bangku taman di kota Semarang, duduklah Kirana. Sore ini gadis itu duduk sendirian; murung, letih. Tidak terasa sudah dua tahun yang lalu sejak kepergian Lelakinya yang pergi ke Jakarta. Tidak tahu kapan akan kembali, atau tidak akan pernah kembali?

Ilalang yang tumbuh setinggi lutut bergoyang-goyang di taman menarikan tarian untuk Kirana. Kirana duduk saja di taman sejak pukul 3 siang tadi, dan sekarang sudah menjelang senja. Ia hanya membawa buku catatan kecil bersampul kuning, bercorak polkadot glitter dan buku Kepada Cium antologi sajak karya Joko Pinurbo. Pakaiannya pun seadanya, hanya mengenakan kaus oblong hijau tua dan jeans sebetis. Rambut hitam sebahunya pun hanya ia kuntel-kuntel sebisanya dengan menyisakan anak-anak rambut halus di sekitar tengkuk. Kacamata minus 2 berbingkai perak berhasil direnggutnya dari atas meja belajar beberapa detik sebelum ia berangkat ke taman. Dan, akhirnya, di sanalah ia sedari tadi. Duduk, merenung.

* * *

Banyak orang bilang, Kirana adalah perempuan dengan kemampuan mengingat yang begitu jelek. Ia juga heran, apa sebabnya. Ia berpikir, apa ia kurang gizi sehingga otaknya hanya mampu berfungsi sepersekian persen dari yang seharusnya. Masih muda kok pikun sih, Mbak, ungkap salah seorang sepupu ketika Kirana lupa siapa orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya Mei 2006 lalu. Iya, baru juga akan 21 tahun, tetapi kadar ingatan Kirana seperti manula yang sudah renta. Bahkan, nenenk saja tidak sampai sebegini parah.

Ironis. Padahal, Kirana tipikal orang yang mencintai kenangan, orang yang tidak bisa begitu saja lepas dari masa lalu. Ada yang mengatakan kalau masa lalu itu adalah cerminan masa depan. Ia pribadi setuju akan ungkapan itu. Intinya, masa lalu itu berharga. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik untuk hidup?

Hidup terus berjalan. Dan, kini, ia sedang berkutat dengan kepenatan tugas akhir seorang mahasiswa tingkat akhir. Jangan ditanya bagaimana chaos-nya Kirana. Jika daya ingatnya masih lemah seperti ini, apa jadinya hidup Kirana selanjutnya.

* * *

Mentari di belahan langit sana mulai hilang. Jingganya indah. Sebentar lagi gelap, batinnya, sedangkan ia masih saja betah. Ah, mulai banyak nyamuk. Gema pemanggil salat mulai bergetar di tiap rumah Allah di pelosok Semarang. Kirana pikir sebaiknya pulang dulu ke rumah, berganti baju-celana, memberi pertahanan tubuh dari angin malam. Maka, ia pun beranjak dari tempatnya duduk tadi. Pulang. Salat.

Tiap langkah rasanya berat. Beban kenangan masih mengganjal. Perjalanan menuju rumah sedikit lama, seolah tidak menjejak tanah ia berjalan. Sambil diiringi pikiran macam-macam, ia melangkah pulang. Niatnya, setelah ini, ia ingin bergegas kembali untuk menuntaskan renungannya. Kali ini mungkin ditemani bulan yang tidak penuh, dan bintang yang entah ada berapa.

Setelah mandi, salat, dan berganti pakaian, dilihatnya langit. Ternyata, malam cukup cerah, walaupun tetap dingin seperti biasa. Angin malam meniup-niup rambut Kirana yang masih dikuntel-kuntel berantakan. Ia sudah siap dengan celana tidur berwarna biru muda dan jaket putih dengan aksesori angka 7 dari manik-manik juga berwarna biru muda. Ia juga bawa juga air mineral dan dua buku yang tadi siang juga dibawanya. Kali ini ia memutuskan untuk membawa iPod-nya yang berwarna putih.

Malam ini bulan tidak penuh. Bintang pun hanya beberapa. Ia kembali duduk di tempat yang sama dengan sore tadi, tempat yang sama dengan kemarin, tempat yang sama sejak satu tahun yang lalu. Satu tahun yang lalu, sejak Kirana merasa ingatannya akan kenangan semakin payah. Sejak itu ilalang selalu menari menyambut kedatangannya kembali.

Sayangnya, taman kota agak gelap kalau malam. Lampu taman hanya ada enam, berdiri di masing-masing pojok taman dan dua lagi di tengah-tengah taman. Kirana duduk di ayunan kayu warna-warni paling dekat dengan lampu taman tengah. Itu pun tidak terlalu dekat sekali, hingga kalau ingin membaca pun masih agak sulit. Kirana merasa percuma membawa lagi dua bukunya. Ia pun memasang earphone iPod di telinga dan menyalakannya.

* * *

“Suatu hari nanti, kalau kita sudah pisah, apa kamu akan ingat aku?” tanya Kirana suatu hari pada teman sekolahnya. Entah kenapa tiba-tiba pertanyaan ini menusuk masuk ke dalam benaknya, menggelitiknya untuk bertanya. Ia berkata dalam hati lebih dulu, karena mungkin ia akan lupa salah satu dari mereka nantinya. Padahal, sungguh, Kirana begitu mencintai kenangannya. Tapi, kenapa itu tidak mampu dijaganya, ia juga tidak mengerti. Kirana belum juga dapat jawabannya hingga saat ini.

Lantunan suara Iwan Fals menyayat dari bilik iPod Kirana. Belum Ada Judul. Akh, indahnya jika setelah sekian lama berpisah, kita masih akan dapat mengenang tiap detik kenangan kita bersama sahabat lama. Dan, apakah aku akan bisa merasakan itu tanpa satu kali saja aku skip, batin Kirana.

* * *

Hari makin larut. Kirana masih bergeming di antara kumpulan ilalang, masih terus tercenung memikirkan kenangannya yang makin hari makin susut, masih berada di taman. Ia melirik jam tangan cokelat tuanya, lalu setelahnya menghembuskan nafas berat. Sudah hampir tengah malam, pikirnya. Makin dingin, makin sepi.

Lagi-lagi kepalanya pening tidak tertahankan. Tangan kanannya memijit pelipis pelan. Kirana meringis menahan perih. Sial, pening ini pasti datang setiap hari, gumam Kirana dalam hati. Saat akan beranjak pulang, Kirana baru menyadari kalau tubuhnya letih tak terkira. Perutnya menggigil minta diisi. Air mineral yang dibawanya sudah tandas habis.

Dalam langkah yang gontai karena lelah, Kirana menapaki jalan setapak menuju rumahnya. Sunyi. Yang ada di sekelilingnya hanya suara jangkrik malas. Sepi seolah memakan kehidupan. Bunyi piring yang diketuk-ketuk dengan sendok terdengar di kejauhan: suara kehidupan, suara tukang sekoteng. Kirana masih terus berjalan mengingat jalan pulang. Sendirian.

Di depan pintu rumah besar yang dingin, ia melangkah masuk. Dirogoh kunci di dalam jaket putihnya, dan ia masuk. Kirana berbaring dalam kamarnya. Tiap kali ia berangkat tidur, ia berharap rohnya akan dapat kembali ke tubuhnya agar ia dapat merasakan kembali matahari pagi, angin, dan indahnya langit biru, serta kegembiraan ilalang di taman kota, agar ia dapat hidup hari ini.

Dan, malam ini, dengan sebuah pengharapan yang sama, Kirana memejamkan mata disertai bisik dari mulut letihnya, “Besok hari lahirku, Tuhan…”

* * *

Setahun lalu, Mei 2006…

“Kirana kecelakaan, Tante. Sekarang di RS, UGD,” Sekar dalam suatu percakapan telepon dengan Ibu Kirana.

Hari itu, mobil Kirana, Avanza hitam, menabrak sepeda motor di sebuah jalan di Semarang, dekat Simpang Lima. Beruntung pengemudi sepeda motor yang ditabrak baik-baik saja. Hanya saja Kirana mengalami luka agak serius di bagian kepala. Pendarahan. Kirana tidak sadarkan diri. Sekar dan Trio, teman dekat Sekar, yang saat itu berada tepat di belakang mobil Na—mereka berada di mobil yang lain—pucat, disorientasi sesaat. Namun, tidak lama. Trio langsung ‘bangkit’ dan membawa Na ke rumah sakit. Sekar menelepon Ibu Kirana.

Terjadi pendarahan di dalam kepala. Kirana masih terus tidak sadarkan diri sampai lima hari berikutnya. Dokter menangkap adanya masalah serius akibat kecelakaan ini. Ibu Kirana tidak mampu menahan titik yang mendesak jatuh dari matanya. Hari keenam Kirana sadar. Segar, seolah tidak pernah terjadi kecelakaan itu. Namun, ibu Kirana seperti menutupi sesuatu. Gurat keletihan dan ketuaan semakin jelas terlihat di wajahnya ketika itu. Kirana berpikir, mungkin karena ibu menjaganya di rumah sakit seharian penuh tiap harinya. Sekarang mama yang butuh istirahat, Kirana meminta.

Sebelum atau setelah istirahat di rumah, ibu terlihat letih. Bahkan, setelah Kirana kembali ke rumah. Kirana berusaha tak menghiraukan. Ibunya pun tetap tidak mau jujur.

Sejak itu, kenangan-kenangan milik Kirana menjauh pergi, sulit diingat.

* * *

Pagi yang lain datang hari ini. Matahari yang sama terbit sekali lagi, menyapa jiwa-jiwa penuh harapan yang selamanya akan mendamba cahaya si matahari. Langit biru sekali lagi muncul menjadi back drop maha luas hari ini. Namun, ada yang belum bangun di pagi secantik ini. Sampai menjelang siang.

Kirana masih bersembunyi di balik selimut biru langitnya. Masih terpejam, pucat. Sebentar lagi mungkin ia akan bangun, dan menyapa pagi. Semoga ia tidak ditinggal Pagi hari ini. Sebentar lagi Kirana akan membuka mata, tersenyum karena harapannya untuk sekali lagi merasakan cahaya matahari, menikmati pagi, angin, dan langit biru yang indah terkabul. Sebentar lagi.

* * *

“Pendarahan di dalam kepala Kirana semakin parah, Bu. Dan, ini menyebabkan penggumpalan yang bisa membahayakan hidupnya,” dokter seperti menyesal.

* * *

Hari ini ulang tahun Kirana ke-21, 7 Juli 2007. Dan, Kirana malah memilih untuk tidak lagi membuka matanya selamanya. Pagi yang diharapkannya kembali ia jumpai, sudah lama pergi untuk kembali lagi besok. Cahaya matahari yang dirindukannya tiap malam sedang tertawa secantik-cantiknya saat ini. Dan, Kirana tidak lagi melihat itu semua. Kirana memilih memejamkan matanya entah sampai kapan. Kirana lebih memilih untuk lupa. Lupa atas semua yang ia tahu. Lupa semua, bahkan cintanya pada Pagi. Ia bahkan belum sempat mengucapkan perpisahan pada ilalang yang telah menemaninya setahun belakangan. Hanya saja, Tuhan mengizinkannya pergi. Dan, Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik.

Setelah ini, ia tidak perlu lagi khawatir akan kenangan yang terlupa. Tidak akan ada lagi kenangan yang hilang karena ia kini sudah abadi, berikut kenangannya. Pencinta kenangan yang melupakan kenangan itu pergi selamanya.

* * *

Tidak ada tangis yang paling memilukan, selain tangis seorang ibu yang kehilangan anak untuk selamanya. Dan, nyanyian pilu terdengar letih hari ini. Panjang, dan menyayat.

rasanya tak perlu takut akan Mati

toh ia layaknya

ambang pintu duri.

Yang kutakut hanya awal

ketika napasku habis

: takut

tinggalkan semua

– sendiri

Kertas ini jatuh dari tangan ibu Kirana yang mendadak pingsan. Kirana menuliskan sajak ini di buku kecilnya semalam. Tanpa sadar, Kirana sudah berfirasat, bahwa maut sudah mengintip di balik jendelanya.

* * *

Jakarta, 15 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s