[Fiksi] Satu Datang, Satu Hilang

Nenek dan kakak ibu datang ke rumahku setelah ibu pergi dari rumah selama beberapa minggu. Nenek bilang, ibu sudah ada di rumah nenek, setelah pergi menenangkan diri dan bersembunyi dari ayah ke luar kota. Di awal Ramadhan, aku yang baru berusia 11 tahun belum mengerti benar apa yang terjadi.

Setiap aku pulang sekolah dan menunggu saat berbuka puasa dengan membaca komik di ruang tamu, pasti ada saja tetanggaku yang datang dengan muka aneh. Mereka selalu bilang hal yang sama, “Yang sabar, ya, Nda.” Aku hanya senyum-senyum dan kembali membaca tanpa mau peduli apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya tahu, ibuku sedang pergi. Tapi, aku tahu, ibu pasti kembali.

Nenek dan tante datang ke rumahku setelah tahu ayah tak perhatian padaku dan abang. Aku bersama kakak laki-lakiku yang lima tahun lebih tua selalu ditinggal bekerja tanpa persediaan makanan. Ayah yang seharusnya memberi makanan kerap mengabaikan kami dan pulang sangat larut. Hingga untuk berbuka puasa pun kami hanya bisa membatalkan dengan minum air putih dan sesudah itu langsung tarawih. Lalu, tidur.

Aku ingat, sekitar dua hari pertama Ramadhan, aku dan abang tak sahur. Tapi, anehnya, aku yang masih kecil itu tak pernah komentar. Abang juga tak bicara macam-macam. Hebatnya lagi, kami tetap puasa. Entah kekuatan dari mana. Ayah selalu pulang ketika kami sudah tidur. Kami tak pernah bangun sahur karena sadar tak ada makanan juga yang bisa kami makan untuk santapan sahur. Aku rindu ibu. Tapi, aku tak paham ibu ke mana.

Nenek dan tante datang ke rumahku setelah tahu aku dan abang tak pernah sahur dan tak pernah berbuka dengan makanan layak selama Ramadhan dimulai. Mereka datang satu jam sebelum waktu sahur, berharap ayah belum pulang dan bisa membawaku serta abang pergi dari rumah. Tapi, ternyata ayah sudah pulang. Pintu diketuk, dan terjadi pembicaraan kasar di ruang tamu. Nenek bersikeras ingin membawaku dan abang pergi. Ayah juga bersikeras ingin menjaga anak-anaknya di rumahnya sendiri. Aku dan abang hanya melongo di pintu kamar tidur. Sampai akhirnya, ketika mug coklat melamin kebesaran ayah dilempar nenek ke jidat ayah, kedataran kami berubah; emosi pada abang dan sedih padaku. Abang emosi bukan karena marah pada nenek. Tapi, justru pada ayah yang tak mengizinkan kami pergi. Dan, aku menangis kencang sampai para tetangga datang dan mengunciku serta abang dalam kamar agar tak lagi melihat adegan selanjutnya. Aku menangis bukan lantaran kasihan pada ayah. Tapi, lebih karena aku tak bisa mengerti kenapa ibunya ibuku sebegitu marah pada ayahku sampai-sampai melempar mug dan mengenai jidat ayah hingga berdarah? Aku menangis kencang karena aku tak paham apa yang terjadi. Dan, saat itu aku benci menjadi anak kecil.

Malam itu, aku dan abang tetap tak sahur. Ayah juga. Tapi, ayah memang tak puasa. Itu juga aku tak mengerti. Kenapa orang dewasa malah justru tak puasa? Padahal, kami yang masih kecil mati-matian menahan lapar.

Aku pikir kejadian dini hari itu tak akan ada pengaruhnya. Aku pun bersiap (lagi-lagi) berbuka puasa hanya dengan air putih. Dan, memang, air putih saja cukup membuatku bahagia. Aku dan abang seringkali tersenyum sambil berpandangan ketika melafalkan doa berbuka puasa dan meminum air putih dingin dari kulkas. Tersenyum karena segar dan nikmatnya air. Alhamdulillah, begitu biasanya kami refleks berucap. Tapi, hari itu berbeda. Tetangga sebelah, yang adalah adik ayah, mengundang kami berbuka puasa di rumah mereka. Aku ingat, kali itu aku menjawab sungkan, “Nggak apa-apa, Nci. Aku buka puasa di rumah aja.” Tapi, setelah dipaksa, kami pergi juga ke rumah mereka. Aku dan abangku hanya pandang-pandangan ketika makan kolak dan nasi lengkap dengan lauk-pauk. Dadaku dan mungkin juga dada abang seperti ingin meledak, menangis sedih tapi juga bahagia. Dan, lagi-lagi, aku rindu ibu.

Buka puasa hari itu tak akan aku lupakan. Aku dan abang dihadiahi satu mangkuk besar kolak dan nasi serta lauk-pauk untuk makan sahur malam itu. Sambil memberikan mangkuk kolak itu, Nci bilang kalau selama ini keluarga mereka tak tahu kalau aku dan abang tak punya makanan. Mereka pikir kami baik-baik saja. Baru setelah nenek dan kakak ibuku datang, mereka tahu ada masalah. Aku tak begitu perhatian pada kata-kata Nci. Aku hanya melihat ke mangkuk kolak dengan perasaan sungguh bahagia.

Beberapa hari setelah kejadian mug terbang itu, jidat ayah masih diperban. Mata ayah semakin menyala. Tak ada lagi titik teduh pada matanya. Ia berulang kali bilang, “Jangan pergi dari rumah. Ibu pasti pulang sebentar lagi.” Aku dan abang hanya mengangguk. Entah karena percaya atau takut. Dan, setelah insiden nenek itu pula, aku dan abang jadi selalu diajak buka puasa di rumah Nci. Malu rasanya setiap hari merepotkan keluarga mereka. Tapi, apa boleh buat. Kalau tidak begitu aku dan abang akan kelaparan.

“Ibu kapan pulang ya, Nda,” kata abang. Aku hanya menggeleng lesu.

Hingga tibalah hari kedua puluh Ramadhan, hari ‘penjemputan’ aku dan abang oleh tante. Kali ini, tante datang siang hari ketika ia yakin ayah tidak ada di rumah. Tante bicara cepat, “Ibu sudah ingin sekali ketemu kalian. Cepat, bawa baju-baju dan alat-alat sekolah seperlunya. Kita pergi dari sini.” Aku dan abang bergegas, menuruti perintah tante. Tante menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Tak berapa lama, kami bertiga pun pergi. Seperti ada kesedihan luar biasa saat harus ke luar rumah dengan cara seperti ini. Aku merasa tidak akan pernah menjejakkan kaki di rumah ini lagi. Aku hanya menggandeng tangan tante dan menjadi sangat diam. Abang juga. Hingga suara langkah kami yang terburu-buru menjadi sangat terdengar. Tante juga sama bisunya seperti kami. Hingga akhirnya aku ingin bicara dan bertanya, “Ayah gimana? Apa nggak marah?” Tante hanya menjawab sedikit, “Nggak akan marah.” Sudah, titik. “Ibu?” kali ini abang yang bertanya. “Ibu di rumah nenek. Kita ke sana sekarang,” jawab tante lagi.

Sekitar setengah jam kemudian, aku, abang, dan tante sampai di rumah nenek. Nenek menyambut di depan pintu rumah dan setengah berbisik pada tante mengatakan, “Gimana? Ada dia?” Tante juga menjawab dengan berbisik, “Nggak ada.” Aku dan abang memberi salam dan mencium tangan nenek, lalu masuk rumah. Kami bingung karena rumah ramai. Keluarga ibu berkumpul. Satu-persatu dari mereka memeluk aku dan abang bergantian. Beberapa dari mereka malah ada yang berkaca-kaca atau meneteskan air mata. Aku bingung, abang gelisah.

“Ibu lagi mandi,” kata nenek setelah menyeret kami ke dapur dekat dengan kamar mandi. “Kalian sehat-sehat?” katanya lagi.

“Sehat, Nek. Puasa kami belum kalah!” ujar kami bangga sekali.

Dan, nenek memeluk kami sambil sesenggukan, “Iya, bagus, cucu nenek.” Aku lihat ada beberapa om dan tante kami mendekap mulutnya, seperti menahan sesuatu. Ada juga yang tak ingin melihat kami, dan akhirnya pergi ke luar rumah. “Ibu di sini, Nek? Kok ibu nggak pulang-pulang?” kataku menuntut. Dan, tiba-tiba, dari arah kamar mandi, ada suara ibu yang bilang, “Kita sudah nggak perlu lagi pulang ke rumah itu. Itu bukan rumah kita lagi.” Aku dan abang berbalik ke arah suara, dan aku dapati ibu berdiri di sudut dapur mengenakan handuk berwarna biru.

Melihat ibu, abang yang saat itu sudah kelas tiga SMP langsung memukul tembok yang ada di belakangnya lalu duduk di lantai terkulai lemas. Sedangkan aku, lemas tapi masih sempat menghambur ke pelukan ibu dan menangis kencang. Ibu pun menangis sambil membelai rambutku. Selama beberapa menit, aku tak bisa bicara apa-apa. Hanya menangis dan menangis di pelukan ibu. Ibu juga diam.

Aku masih melihat abang pergi meninggalkan dapur diikuti beberapa om. Entah ke mana. Dan, aku yang masih di pelukan ibu, ingin bertanya tapi tak sanggup. Tapi, setidaknya kini aku mulai mengerti apa yang terjadi. Dan, betapa bodohnya aku selama ini tak paham apa yang terjadi. Kesedihan semakin menyayat tiap kali melihat wajah ibu. Ibu pun tak henti-hentinya membelai rambutku dan mendekapku seakan mengerti kalau aku rindu.

Ketika air mata sudah berhenti menguar, dengan sekuat tenaga aku bertanya pada ibu, meminta kejelasan untuk diriku sendiri. Aku tetap ingin tahu dari mulut ibu meskipun rasanya sudah tahu jawabannya. Dan, aku tetap saja bertanya hal yang akan mengubah masa depanku dimulai dari jawaban ibu yang resmi meluncur dari mulutnya. “Kenapa mata kanan dan pipi ibu lebam-lebam?”

Aku memeluk ibu lagi, tak tahan ingin meneruskan tangisan. Ibu juga ikut menangis. Dan, aku sadar betul, ini akan mengubah hidupku selamanya. Kini, ibu sudah kembali. Tapi, sekarang, ayah-lah yang hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s