Cinta Itu Mendewasakan, Meski (Terkadang) Menyakitkan

Paulo Coelho dalam salah satu catatannya berkata, “Sambil menangis kita berkata, ‘Aku menderita oleh cinta yang sia-sia.’ Kita menderita karena kita merasa telah memberikan lebih daripada yang kita terima. Kita menderita karena cinta kita bertepuk sebelah tangan. Kita menderita karena kita tidak dapat memaksakan aturan-aturan kita sendiri. Namun, pada akhirnya, tak ada alasan untuk menderita. Sebab, dalam setiap cinta ada benih pertumbuhan diri.”

Saya pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Berulang-ulang kali malah. Saat jatuh cinta, saya seolah dibawa ke tempat tertinggi yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Itu indah. Tapi, semua berubah ketika saya terjatuh. Apalagi karena kesalahan saya sendiri. Semua tak lagi indah. Cinta itu sendiri tak lagi indah, malah menyakitkan dan menggerogoti. Cinta jadi tak ubahnya sekarung pecahan beling yang harus kita injak-injak isinya tanpa alas kaki. Melukai dan perih. Berulang-ulang kali saya memang terjatuh dan harus merasakan repak, tapi saya tidak mati. Toh, kata Coelho, di dalam kegagalan cinta itu ada benih yang bisa membuat kita mendewasa. Dan, saya memang tidak mati. Hanya saja, luka-luka itu membuat saya tak bisa berjalan seperti dulu lagi.

Senja pun seolah tak sama lagi indahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s