Memoar Sosial 2

22

Pagi ini, saya nggak bisa menolak keinginan untuk jalan kaki sekitar 1 km melewati jalan kampung untuk bisa sampai di tempat saya bisa ‘menemukan’ transportasi menuju kantor. Di tengah perjalanan, sambil melihat ke bawah, melihat sepatu converse hijau butut yang saya pakai hari ini, saya melihat kemasan Ultramilk yang sudah gepeng dan sontak pikiran saya jauh melayang ke masa-masa SMA. Sekitar era 2002-2003, bertahun-tahun yang lalu.

Kenapa mesti melayang ke masa SMA? Kalau harus mengingat-ingat soal susu, yang paling berkesan memang saat saya kelas 3 SMA. Kelas 3 Sosial 2 di SMA 49. Bukan karena di rumah saya tidak pernah diberi ‘camilan’ susu. Bukan. Tapi, lebih karena susu di kelas Sos 2 itu punya sejarahnya sendiri. Dan, sejarahnya itu agak konyol.

Wali kelas Sos 2 adalah Rosdiana Samosir atau yang punya julukan “Rhotor”. Beliau adalah guru Ekonomi dan notabene termasuk salah satu guru killer di SMA 49 a.k.a Dz49ers. Tapi, biarpun killer, Rhotor ini bisa juga jadi gokil, dan jauh setelah saya lulus, saya baru tahu kalau ternyata galaknya Rhotor itu bermanfaat.

Cukup tentang wali kelas saya. Sekarang tentang penghuni kelas yang punya nama lain “Das Kapital”. Anak-anak blaur plus caur kumpul di sini. Jadi, setiap hari ada-ada aja kelakuan kami. Sampai-sampai, kami pernah membuat guru Biologi, Ibu Laksmi yang penyayang, nangis karena saking bebalnya kami. Kami juga pernah bikin guru Matematika yang aslinya kalem, Pak Bahrudin, jadi bisa-bisanya melempar walkman milik seorang teman ke arah papan tulis. Ya salah si oknum itu juga sih. Wong Pak Bahrudin sedang menerangkan pelajaran, dia malah dengerin lagu di walkman. Tapi, itu tindakan yang di luar dugaan.

Akhirnya, melihat kelakuan anak didiknya yang nakalnya terlalu di luar kewajaran, Rhotor pun bertindak. Beliau mencanangkan program “Jumat Sehat”. Beliau bilang gini, “Ini supaya kalian tidak terlalu bodoh-bodoh banget (dengan dialek Batak yang kental).” Bicaranya sih becanda, tapi saya tahu, di dalam hatinya, dia mau anak didiknya lebih pintar dan nggak kebangetan konyolnya.

Soal Jumat Sehat, jadi setiap hari Jumat, kelas kami–hanya kelas kami saja–selalu ada acara makan-makanan sehat di tengah jam pelajaran. Hari ini susu dan bolu kukus, esoknya susu dan arem-arem, esoknya lagi susu dan kue-kue basah lainnya. Camilan Jumat yang menyenangkan. Susu pun harus ada. Eits, tapi camilan ini bukan turun dari langit. Uang untuk beli semuamuanya tetap saja dari kantung kami juga. Kolekan alias patungan.

Selama setahun, setiap Jumat, kami membuat ngiri semua anak dari kelas lain. “Enak, ya, Sos 2” dan komentar-komentar “kepengen-tapi-nggak-bisa” keluar dari mulut mereka. Ha-ha-ha. Dan, sekarang, pasti anak-anak Sos 2 yang dulunya jarang minum susu dan mikir “ngapain sih tiap Jumat harus minum susu dan nyamil2 di kelas” pasti sudah merasakan manfaat susu. Setidaknya sekarang kita lebih pinter, ya. Dan, konyolnya berkurang. Betul tidak, kawan-kawan Das Kapital?

Miss you much!

2 Comments Add yours

  1. khakha says:

    hahahahaha.
    what a nice memory.

    sering sekali ya yang kita kira konyol pada awalnya, ternyata sangat baik untuk kita pada akhirnya.🙂

  2. atre says:

    he eh…belakangan pun emang lagi sering memikirkan mereka dan banyak komunikasi sama anak2 sos 2. bikin semua kenangan jadi menguar lagi. ihihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s