Tak Ada yang Lebih Membahagiakan Selain Ini

Di bis dalam perjalanan Ragunan-Lebak Bulus.

Setiap orang pasti punya orangtua. Pasti punya ibu yang macam-macam jenisnya. Begitupun saya. Bagi saya, ibu adalah wanita demokratis yang teguh. Dia tak pernah memaksakan apa pun pada saya. Dia tak pernah mengatur saya dan akhirnya malah membuat saya tersiksa. Dia memang mau tahu apa saja yang terjadi di setiap menit kehidupan saya. Tapi, yang terkesan bukan sikap otoriter. Justru pantauan yang ‘halus’. Dan, saya tak pernah berkeberatan atas itu.

Jujur, kini, saya sudah berhenti mencium tangan ibu saya setiap akan keluar rumah sejak saya lulus kuliah–kira-kira dua tahun lalu. Bukan karena saya tidak mau, tapi lebih karena ibu tak pernah membiarkan tangannya menganggur setiap kali saya akan berangkat. Atau, kadang-kadang, ibu saya malah sudah beranjak pergi sebelum saya bangun tidur dan sempat mencium tangannya.

Dua tahun sudah. Dan, ibu sudah semakin tahu batas-batas untuk mengawasi saya. Dia sudah tahu kalau pekerjaan mulai merenggut saya darinya. Dia juga sadar kalau saya sudah bisa berjalan sendiri–berkat didikannya juga yang benar-benar menanamkan konsep baik-buruk di hidup saya. Saya pun semakin jauh darinya. Ibu juga sepertinya mengerti. Anak bungsunya bukan lagi anak kecil. Jauhnya jarak ini jadi biasa untuk saya. Sampai hari ini saya melihat potret masa kecil saya pada diri anak kecil lain.

Dalam bis ini, naiklah seorang ibu tak begitu muda-tak begitu tua bersama anak laki-lakinya yang berseragam SD; besarnya sekitar usia-usia kelas 5-6 SD. Anak yang tampan menurut saya. Bibirnya merah dan senyumnya manis sekali. Saya sudah banyak melihat potret ibu-anak dalam hidup sehari-hari saya. Tapi, baru kali ini saya merasa hangat. Bukan karena si ibu yang selalu tertawa pada anak laki-lakinya. Bukan karena si ibu yang selalu menggandeng tangan anaknya ketika berjalan bersama–sesaat sebelum naik dan turun bis. Bukan karena usapan si ibu di kepala sang anak. Tapi, karena anak laki-lakinyalah saya merasa haru. Ia dengan senang hati menerima gandengan tangan ibunya. Ia dengan mata cerah bercerita kepada ibunya dan tertawa bersamanya. Ia dengan tepat menyandarkan kepala ke lengan ibunya ketika sang ibu merangkulnya. Entah kenapa semuanya begitu murni. Pas. Padahal dia anak laki-laki. Laki-laki. Yang biasanya jaga gengsi. Yang biasanya keras hati.

Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat potret mereka hari ini ^^

Foto: http://africanstreetkid.com/images/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s