Karaoke Rasa Rindu

n1365297807_355713_8194244

Pernahkan merasa nggak sabaran menanti untuk suatu rencana yang akan datang? Saya baru saja mengalaminya. Jadi, anak-anak 2003 IKSI (Jurusan Sastra Indonesia UI, tempat saya kuliah), hendak bakumpul di Plaza Semanggi. Rencananya sih karaoke di Inul Vista. Hari bertemu jatuh pada Jumat, 17 April 2009. Untungnya, saya baru saja selesai deadline sehari sebelumnya. Kalau tidak begitu, sama seperti kejadian kumpul-kumpul di Mal Ambassador dan Pelangi Part. I, saya lagi-lagi nggak bisa datang. Bahkan, beberapa hari sebelumnya, saya sudah nggak sabaran untuk bertemu kawan-kawan saya itu.

Hingga sampailah saya di Pelangi, diantar Keriting. Bertemu Arnellis, Nelly, Ino, dan Rime di Chicken Story, disusul Harry, Amel, Nie, Ika, dan Ndi, keriaan pun dimulai. Inul Vista ruang large jadi saksi kegilaan kami. Awal masuk ruang, sekitar pukul 20.00, situasi masih terkendali. Masing-masing memesan lagu yang “gue banget” untuk dinyanyikan.

Saya banyak memesan. Tapi, lebih condong memesan lagu-lagu yang bisa dinyanyikan bersama dan dijompak-jompak. Semacam “Stranger by the Day” Shades Appart, “Melompat Lebih Tinggi” dan “Sahabat Sejati” Sheila on 7. Tapi, lain lagi Ino yang menjadikan karaoke kali ini jadi ajang curhat. Ha-ha-ha. Dia selalu memilih lagu-lagu nyusruk yang memang bener-bener “dia banget”. Seperti, “Masih Mencintaimu” Gruvi, lagu Lyla (saya lupa judulnya, saking berasa asing di telinga saya), dan sebangsanya. Lain juga dengan Rime yang notabene The Master (mengingat suara dia bagusnya nggak ketulungan). Curhat dan bermain teknik sekaligus. Mantap! Ika pasti memesan Gigi. Nindi? Dia pasrah dan terserah. Apa pun jadilah. He-he-he. Nelly juga sedikit curhat. “Kecewa” BCL jadi syahdu banget dia nyanyikan. Harry? Dia kebagian lagu-lagu jadul (dia yang milih sendiri juga sih), seperti “Kalau Bulan Bisa Ngomong” Farid Hardja. Nie sih selalu excited melihat yang lain nyanyi. Nah, Amel, dia ratu sejagad karaoke kali ini. Semua ikut dinyanyikan. Yang paling gila–dan akhirnya brainwash di kepala masing-masing dari kami–adalah lagu Nicky Astria “Mengapa”. So yesterday, tapi gokiiilll. Nggak peduli nada ke mana, suara ke mana, dia tetap jalan terus. Sayang, Arne pulang terlalu cepat; pukul 21.00. Sementara, kita di Inul hingga pukul 22.30. Tapi, kemeriahan tetap ada. Lebih dari cukup untuk mengisi baterai kerinduan yang sempat kosong. Hhhh, bahagianya…

Walaupun tidak dalam formasi yang lengkap, tapi ini cukup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s