[Fiksi] Perempuan Malaikatku, Raya

Aku tak pernah memilih untuk jatuh cinta kepada siapa. Aku juga berharap, jodohku nanti tak sulit digapai; tak sesulit berenang melawan arus atau mendaki puncak Himalaya. Tapi, ternyata, hidup tak selalu berjalan mulus seperti keinginan kita. Masing-masing orang harus setidaknya sekali merasakan kepahitan.

***

Hari ini aku bangun terlalu pagi. Menyadari keadaan rumah yang sepi tanpa Mai, adikku yang menginjak remaja, dan Ibu yang masih lelap, aku jadi ingin tidur kembali. Tapi, alih-alih memeluk guling dan terlelap, aku malah melangkah ke ruang lukis di belakang rumah. Ini kesempatan pas untuk menyelesaikan lukisan yang kumulai kemarin. Menuju ruang lukis, kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.10. Lukisan ini adalah lukisan keempat untuk bulan ini. Pameranku bersama teman-teman pelukis muda dilangsungkan bulan depan di sebuah galeri di Banyumas. Bersama beberapa teman, aku memamerkan karya bertema Perempuan. Dan, ini adalah lukisan terakhir yang sesegera mungkin harus selesai.

Di depanku, seorang perempuan berambut panjang tersiup angin, membelakangiku, berdiri di sebuah gazebo di tengah padang rumput berwarna hijau segar. Ia berlagak tak ingin dikenali wajahnya. Kusapukan kuning gading di setiap jengkal gaun cantiknya. Ia terlihat pucat di antara kesegaran di sekelilingnya. Pucatnya sempurna. Senyum tersungging di bibirku, tanpa sadar. Tapi, tak lama keningku berkerut. Rasanya masih ada yang kurang. Perempuan ini kurang “malaikat”. Kurang memancarkan aura kecantikan yang luar biasa. Kalau hanya begini, mungkin si perempuan hanya cantik biasa. Cantik manusia. Kupilin-pilin ujung kuas yang tak berbulu di kening. Berpikir. Bagaimana menggambarkan perempuan ini bisa jadi cantik tak kepalang tanpa terlihat wajahnya. Tak juga ketemu inspirasi cemerlang, akhirnya aku menyerah dan meninggalkan perempuan itu untuk ngopi di dapur.

***

“Sore begini kamu baru dateng, Ga. Lukisan udah fix?” kata Tutur, manajerku.

Aku yang baru datang ke bengkel lukis berusaha mengatur napas dulu untuk kemudian menjawab Tutur. “Tinggal lukisan terakhir. Tenang aja, bisa di-handle.” Tutur lega mendengarnya. Tiba-tiba, ia memukul pelan lenganku dan menyodorkan sebuah karton emas indah berpita (juga) emas. Tertulis di sana terang-terang, nama Tutur dalam tinta emas. “Dateng, ya.”

Aku memandang bergantian kepada Tutur dan undangan emas itu. “Idialahhh. Tiba-tiba nyebar undangan begini. Express banget kok?” Nada suaraku agak bergeletar tak percaya. Tutur yang selama ini dengan senang hati menerima cap “playboy” ditempel di keningnya tiba-tiba ingin berkomitmen. Dia pun sepertinya mantap sekali. Berulang-ulang kali dia membusungkan dadanya tanda bangga. Aku tak peduli pada kebanggaan itu. Bangga tanpa keyakinan berarti kosong. Tapi, aku bisa melihat dari matanya kalau Tutur bahagia. Ia yakin pada pilihannya.

“Yasmin? Mantap, nih, Yasmin?”

“Iya, Ga. Udah cukuplah perjalanan aku selama ini. Ke sana kemari, gonta-ganti terus. Semua cewek di Semarang udah pernah jadi pacarku kali. Ha-ha-ha. Tapi, cape juga lama-lama.”

“Iya, kalo mau main-main terus, mbok ya, silakan aja. Tapi, kamu memang nggak akan dapet apa-apa akhirnya.”

“Ah, kan, mulai lagi Master Psikolog. Iya, aku ngerti. Dan, entah kenapa, sama Yasmin aku bisa yakin. Mungkin ini yang namanya jodoh kali, ya, Ga?”

“Mungkin,” kataku mengangguk sambil mengerucutkan bibir. “Aku kan belum ngalamin kejadian macam kamu.”

“Lagian, umurku udah berapa?! Cukup main-mainnya. Memang udah saatnya aku menghentikan pelayaran dan settle di satu tempat. Betul tidak, Bapak Agaaaaaa,” katanya seraya menjawil daguku.

Kami pun tertawa bersama. Menertawakan masa-masa ‘suram’ Tutur yang flamboyan. Menertawakan para mantan pacar Tutur yang tenggorokannya seperti tersangkut biji kedondong ketika mendengar Tutur akan menikah.

Hingga akhirnya, satu pertanyaan Tutur membuat tawaku berhenti. “Nah, kamu kapan, Ga?” Kami memang sebaya. Sudah melewati angka 25 dan hampir menggenapi 30. Ibu sudah beribu kali mempertanyakan ini, mengeluh ingin segera punya cucu, ingin menggelar pesta pernikahan anaknya sendiri, tak sabar ingin mengenal calon menantunya. Kemarin-kemarin, pertanyaan ini tak menggangguku. Sungguh. Aku punya jawaban jitu untuk berkelit pada ibu atau orang lain. “Mungkin memang belum ketemu jodohnya.” Biasanya, semua orang tak lagi membahas. Takdir siapa yang tahu? Karena itu, tak ada yang mencoba-coba untuk sok tahu—lebih tahu daripada Tuhan. Tapi, kenapa hari ini, ketika Tutur yang mempertanyakan itu, aku malah kepikiran?

“Ya, belum ketemu aja,” hanya itu yang bisa kuberi untuk Tutur. Seperti biasa.

***

Beberapa minggu setelah perbincangan itu, aku jadi selalu memikirkan jodoh, jodoh, dan jodoh. Selama ini aku tak pernah terlalu memikirkan pasangan hidup. Pacaran pun tak menarik buatku. Ada yang lebih menarik, yaitu membahagiakan orangtua dan berkarya. Tapi, kenapa ketika salah satu orang terdekat dan sebaya pula melepas masa lajang, hal ini seperti menyentil. Sakitnya sentilan itu pun tak hilang-hilang. Membuat hati tak lagi bisa tenang. Ke mana pun, aku selalu memikirkan jodohku. Apakah ia temanku? Apakah aku sudah bertemu dengannya? Di manakah dia sekarang? Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang benar-benar jodoh kita? Dan, jutaan pertanyaan lainnya masih menggumpal di otakku. Hingga rasa merindu yang aneh tiba-tiba muncul, membuatku tak sabaran untuk segera melangkah ke arah itu; berkeluarga.

Ibu sepertinya membaca gelagatku yang tak normal dan bertanya. Tapi, aku tak bisa menjawab. Kalau aku jujur, Ibu pasti langsung juga mendesakku untuk menyusul Tutur. Atau, bahkan, bisa lebih parah. Ibu mungkin saja akan menjodohkan aku dengan anak teman-temannya. Tidak, tidak, tidak, gelengku samar. Akhirnya, aku hanya menyanggah dan berkata bahwa aku baik-baik saja. Tutur pun jadi tak menemukan sosok psikolog gendheng-nya belakangan ini. Aku dianggapnya sedang stres karena deadline lukisan—wajahku terus berkerut-kerut di bengkel.

***

Sudah dua hari Tutur cuti karena besok sudah jatuh hari pernikahannya. Bengkel jadi sepi sekali. Biasanya, memang hanya ada aku dan dia saja. Sesekali datang klien yang ingin membeli lukisan. Atau, Ibu juga suka datang menengok. Tapi, kebanyakan waktuku di bengkel ditemani si manajer mantan-playboy itu. Saat Tutur tak ada, tak banyak yang bisa kulakukan di sini. Tak ada teman diskusi pula. Jadi, sebenarnya, tak ada yang bisa kulakukan sekarang untuk meringankan deadline pameran. Kuhembuskan napas pelan, dan melangkah gontai keluar bengkel menuju Swift burgundie di halaman bengkel. Aku butuh tidur.

***

“Mas, Mbak Aya mau dateng ke sini, lho, besok. Dia mau ketemu narasumber di Cilacap,” kata Mai, saat makan malam.

“Iya, Nak. Semalam Raya nelpon Ibu. Awalnya dia tanya-tanya soal penginapan di dekat Cilacap. Yo uwis, daripada harus nginep di penginapan, mbok nginep di sini aja,” Ibu menambahkan.

“Raya itu yang anaknya Bude Yani di Jakarta, ya, Bu?”

“Iya. Dulu waktu kamu kecil dan kita liburan ke Jakarta, Raya yang nemenin ke Taman Mini. Kamu inget to’?”
Langsung terbayang di pikiranku saat-saat itu. Raya lebih muda tiga tahun daripada aku. Iya, waktu sekitar umur 12, aku liburan ke Jakarta bersama Mai dan Ibu. Raya sekeluargalah yang menemani kami mengenal Jakarta. Aku tersenyum mengingat betapa tomboinya Raya kecil. Mai, yang notabene gadis desa, selalu mengenakan rok dan sepatu perempuan. Sementara Raya, kulihat dia selalu santai mengenakan kaus, jeans, dan sneakers. Rambutnya pendek seleher. Lain dengan Mai yang panjang berkepang satu. Tapi, waktu masih kecil saja, aku sudah tahu kalau Raya itu manis luar biasa. Tak gampang melupakan senyum andalannya yang mesam-mesem itu. Tanpa sadar, aku menunduk malu.

“Mas! Senyum-senyum sendiri ih. Mas Aga udah gila tuh, Bu.”

Ibu memandangku khawatir. Aku tak terlalu menggubris apa yang dikhawatirkannya. Tapi, tatapannya aneh.

“Ibu jangan khawatir. Anaknya belum gila kok,” jawab aku sekenanya. “Jadi, besok dia dateng? Aga nggak masalah, Bu. Dia akan lama di sini, Mai? Dia ngomong nggak sama kamu?”

“Katanya, sekitar 3 hari. Ada liputan juga ke Batu Raden katanya. Kemaren kan jembatan gantung di Batu Raden putus. Dia harus ngeliput. Aku baru tau ada musibah itu.”

Ibu dan aku langsung menanyai Mai segala sesuatu tentang musibah Batu Raden. Jujur, aku juga baru dengar dan hanya bisa prihatin. Tapi, tak lama, pikiranku kembali lagi ke Raya dan segala kenangan yang pernah kami habiskan bersama. Soal Taman Mini itu, liburannya ke rumahku waktu masih kecil, sampai tiba-tiba kami kembali berjumpa ketika sudah sama-sama dewasa; saat aku menemaninya meliput di Tinggarjaya dan saat aku ke Jakarta acara pernikahan kakaknya. Ahh, baru juga empat kali bertemu muka, aku seperti sudah mengenalnya seumur hidupku.

***

Pekerjaan di bengkel banyak sekali hari ini. Tetek-bengek persiapan pameran; undangan para tamu, penamaan lukisan, penggantian frame, dan lain-lain; sangat menyita tenagaku. Ketika sampai di rumah malam hari, yang paling utama kuinginkan adalah mandi, lalu tidur. Tapi, di ruang tamu, kulihat Mai dan Ibu asyik tertawa dengan seorang perempuan yang rambutnya digelung berantakan. Ah, aku tak sanggup lagi kalau harus meladeni tamu. Maka, aku memutuskan lewat pintu samping dan langsung ingin masuk kamar.

“Mas…,” perempuan itu mengangguk kecil di sela tawanya. Ternyata, aku ketahuan mengendik-ngendik.

“Mas Aga nggak sopan ih sama tamu. Mbok ditanya, gimana perjalanannya, gimana kabarnya. Mas ini…,” Mai nyerocos gemas.

Aku melirik ke arah Ibu, meminta penjelasan lewat tatapanku. Ibu sepertinya mengerti. Sambil menengok ke arah perempuan itu, Ibu menyebut satu nama yang semalam sempat kupikirkan. “Raya”.

***

Raya sekarang berbeda sekali dengan Raya kecil. Dia tak lagi terlalu tomboi. Sisi femininitasnya menguar lebih dominan daripada sifat maskulinnya. Rambutnya kini panjang melebihi bahu. Meski masih tak nyaman mengenakan rok, setidaknya sekarang dia lebih senang memakai flat shoes daripada sneakers. Senyum mesam-mesem-nya masih hadir hingga kini. Membuatku kangen minta ampun. Satu yang berbeda, kini dia berkacamata. Tapi, tak mengapa. Sebab, kacamata itu justru mempertegas kedewasaannya dan entah bagaimana mengukuhkan ketangguhan yang terpancar dari sinar matanya. Ah, Raya…

***

Setiap akan berangkat ke bengkel setiap harinya untuk mengurus pameran yang tinggal seminggu lagi, rasanya kaki ini berat diajak beranjak. Rasanya ingin selalu berada di rumah bersama Raya, menemaninya. Tapi, tak bisa. Itu yang aku benci. Aku harus ke bengkel, sedangkan Raya sekarang bersiap-siap akan ke Batu Raden sendirian. Dia meminta kepercayaan aku dan aku harus yakin dia bisa ke sana sendiri. Aku sebenarnya yakin dia bisa. Justru aku tak yakin pada diriku sendiri. Aku tak yakin sanggup berjauhan darinya lebih dari 5 menit sekarang.

Menurut Tutur, aku jatuh cinta. Menurut Raja Playboy itu, aku sudah menemukan belahan jiwaku. Ahhhh, aku masih belum tahu. Aku masih… tak tahulah. Yang aku tahu dengan pasti hanyalah dadaku seperti mau meledak setiap kali memikirkan Raya. Rasanya ada sesuatu tak kelihatan yang memenuhi rongga dada. Membuncah. Meluap-luap. Hingga rasanya aku tak sanggup lagi menahan. Sejak melihat matanya di hari kedatangannya, aku sudah tak bisa lagi menyingkirkannya dari pikiranku. Semakin hari, keinginan untuk ngobrol dan bersama-sama Raya semakin kuat. Seolah ada berjuta watt bola lampu di sekeliling Raya yang membuat mataku selalu tertuju padanya. Silau, tapi menarik mata. Hhhh, baiklah, aku menyerah. Kurasa Tutur benar. Setidaknya satu yang benar. Bahwa aku jatuh cinta. Pada Raya. Hembusan napas berat meresmikan pernyataan batinku itu.

***

Setelah makan malam, Raya menceritakan hasil liputannya soal Batu Raden. Aku, Ibu, dan Mai mengangguk-angguk kosong saat mendengar berita itu. Menyedihkan, bahkan sampai sekarang, jembatan itu belum juga diperbaiki. Masih dibiarkan luruh begitu saja di celah-celah batu kali besar-besar yang ada di bawahnya.

Sesekali kutatap Raya secara sembunyi-sembunyi. Raya sedang asyik memperlihatkan foto-foto di kamera yang berhasil ditangkapnya kepada Mai dan Ibu. Sesekali Ibu memergoki aku terpesona oleh daya magis perempuan Jakarta yang mewujud di depanku. Sekilas, ada semburat ketidaksukaan di mata Ibu. Tapi, aku yang sedang terbuai ini seperti tak mau tahu. Padahal, ini penting. Setidaknya nanti, untuk masa depan aku dan Raya—kalau memang ada masa depan untuk kami di sana.

***

Raya pulang hari ini. Seketika, seperti ada lubang yang muncul, aku harus melepasnya pergi ke Jakarta tanpa berani menyatakan perasaanku. Entah kenapa, rasa malu terlalu besar. Juga rasa takut. Aku malu terhadap Raya, karena aku hanya lelaki daerah. Aku juga takut kalau-kalau Raya menolak perasaanku. Semalam, aku sudah memaksa Raya tinggal lebih lama. Alasanku, setidaknya dia masih di Banyumas ketika pameran lukisanku digelar. Tapi, dia tidak bisa menunda kepulangannya.

Di Terminal Wangon, aku pun hanya berkata, “Hati-hati di jalan. Waspada sama sekeliling, ya. Kalau bosan, aku rela nemenin kamu SMS-an sampai kamu tiba di Jakarta.” Sudah, hanya itu. Padahal, hati ini rasanya sudah mau robek karena tak sanggup menahan perasaan. Padahal, rasanya ingin tak sekadar menemani by SMS, tapi juga “aku” yang ikut bersamanya naik bis ke Jakarta. Aaahhhhh, banyak ide gila di otakku yang kenyataannya tak satu pun aku realisasikan. Pecundang memang.

***

“Nak, belum tidur?” Ups, apakah Ibu bisa ‘membaca’ kalau aku sedang sibuk memikirkan Raya? “Besok pameran kamu, kan? Sudah mbok tidur sana. Supaya besok seger.”

Ibu ada benarnya juga. Besok hari H pameran. Astaga! Tiba-tiba aku teringat hal penting. Aku belum menyelesaikan lukisan terakhir! Tutur sudah menyerah untuk membuatku menyelesaikan lukisan ini lebih cepat. Tadi pagi dia masih mendesak-desak, tapi akunya malah sibuk melamun! Astaga, astaga, astaga. Kuambil ponsel dan kuhubungi Tutur.

“Tur, lukisan keempat belum selesai. Aku lupa! Doh, mati aku!”

Suara bantal Tutur terdengar dari seberang. “Haha. Baru tau rasa kau sekarang. Tapi, sebagai manajer yang baik, aku udah nyiapin koleksi lukisan lama kamu yang bisa masuk tema. Rada maksa. Tapi, ya, daripada nungguin kamu ngeberesi lukisan itu. Nggak jelas kapan selese. Ngelamun aja terooossss…”

“Sial kamu, Tur. Aku selesein malem ini, deh. Keburu nggak?”

“Yakin kelar? Sekarang udah jam 10, Ga. Lukisan pengganti juga udah di-display di galeri. Bisa aja keburu, tapi syaratnya, kamu harus ke galeri sebelum pameran dimulai. Ya, sekitar jam 9 lah. Bisa?”

“Hmm..,” aku mengira-ngira.

“Kalo bisa, aku langsung usahain ke pihak galeri nih, ya. Buruan mikirnya, masih keburu nih aku nelpon Mas Tirta.”

“Ya udah, ya udah. Bisa. Aku nggak mau citraku rusak karena masukin lukisan lama ke pameran.”

“Oke deh. Aku telepon Mas Tirta sekarang.”

Thanks, ya, manajer playboy-ku yang sudah insap.”

“Sialan loe. Bye then.”

Bye.”

***

Agak tersaruk-saruk, aku menuju ruang lukis di belakang rumah. Ibu yang memandang keheranan langsung kubuat mengerti dengan menjelaskan keterburu-buruanku. Seolah mengerti, Ibu pun langsung menyuguhkan kopi susu hangat dan camilan. Aku tersenyum terima kasih ke Ibu, memandangi Ibu hingga menghilang di balik pintu kamarnya.

Oke, Ga, think think think, kataku panik pada diri sendiri. Think. Trik. Taktik. Malaikat. Sempurna. Cantik luar biasa. Mempesona. Aaaaahhhh, sosok Raya berkelebatan di pelupuk mataku. Menggangguku dengan senyum indahnya itu. Duh, kangennya. Oh, oke, oke, aku harus fokus. Aku harus berkonsentrasi penuh.

Aku memejamkan mata kali ini agar lebih fokus menemukan trik canggih untuk ‘mengubah’ manusia biasa jadi malaikat. Raya tersenyum. Sesekali ia memain-mainkan kacamatanya yang melorot ke hidung. Ah, senyum mesam-mesem itu lagi. Cantik sekali ia berpendar-pendar begitu. Seolah di tubuhnya dipasangi lampu-lampu. Sekujur tubuhnya berkilauan. Indah sekali. Raya, kau seperti malaikat. Aha. Ketemu!

Kubuka mata sambil tersenyum. Raya, terima kasih untuk inspirasinya. Dan, atas kerinduanku padamu yang ternyata berguna. Aku pun mulai ‘menjalankan’ taktik itu di atas kanvas. “Perempuan biasa ini sebentar lagi akan jadi malaikat,” kataku.

***

Aku sampai di galeri pukul 08.30, sementara pameran baru akan mulai pukul 11.00. Irsyad, Reno, dan Neya—teman-teman pelukis yang lain—belum datang. Barusan saja, aku baru selesai dengan Mas Tirta. Dia sudah mengerti soal pergantian lukisan ini. Ia bahkan jadi tahu kalau aku sedang tak menginjak tanah alias jatuh cinta—pekerjaan tak ada yang bisa beres sesuai target, Tutur membumbui. Ingin rasanya kugigit Tutur karena memberikan informasi yang terlalu berlebihan kepada Mas Tirta.

“Biarin aja. Sekarang semua jadi beres karena Mas Tirta ngerti. Dan, Mas Tirta ngerti karena aku lebih dulu cerita masalah asmara kamu itu. He-he-he.” kucubit Tutur yang baru datang sekuat tenaga. Tapi anehnya, dia tak menjerit. Dia hanya melongo ke arah satu titik tepat di belakangku. Aku mau tak mau berbalik badan, melihat apa yang membuatnya terkesan seperti itu. Dan, seketika itu juga, hatiku melorot.

Raya datang mengenakan gaun kuning gading cantik yang simple. Persis sama seperti yang ada dalam lukisanku. Ketika dia melangkah mendekat, bumi ini seolah bergerak dalam kecepatan yang sungguh pelan. Seperti di film-film saja, tapi ini sungguh terjadi. Raya cantik sekali.

Tutur menonjok rusukku ringan, sekadar ingin mengatakan, “Ga, penggambarannya kok bisa sama persis kayak di lukisanmu?” Ia masih menganga. Aku pun takjub. Entah ini pertanda apa. Padahal, perempuan malaikat dalam lukisan itu kubuat jauh sebelum aku memikirkan Raya—walaupun diselesaikan saat aku sudah tergila-gila padanya.

“Hai. Surprise,” suaranya menggaung pelan. Di belakangnya, tampak Ibu dan Mai sumringah.

Tak kusangka, Raya menyempatkan diri datang ke Banyumas hanya untuk mendatangi pameranku. Aku bahkan tak berani berandai-andai untuk mimpi seindah ini. Tolong, seseorang, kalaupun ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku.

Seharian itu, Raya selalu berada di sampingku. Lebih tepatnya, aku yang selalu memposisikan diri berada di sampingnya. Aku laiknya terobsesi. Kronis! Pengunjung yang datang, semakin siang, semakin membanjiri galeri. Tapi, aku tetap tak ingin jauh-jauh dari Raya. Kalaupun ada pengunjung yang tertarik pada salah satu lukisanku, kuajak mereka untuk berbincang-bincang saja di dekat Raya. Kalaupun perlu, aku pasti memperkenalkan Raya kepada mereka. Dengan tatapan menilai, mereka biasanya langsung mengidentikkan Raya dengan perempuan malaikat dalam lukisan. Dan, berulang-ulang kali hari ini, aku tergagap menjelaskannya. Raya sampai tersenyum geli melihat kegagapanku. Untung saja, hari ini sebentar lagi berakhir.

“Mas, aku paling suka lukisan yang ini. Berjiwa,” kata Raya soal lukisan perempuan malaikat itu saat galeri sudah mulai sepi. “Tadi, aku sempet liat lukisannya Mbak Neya yang juga hidup sekali. Tapi, ini lebih hidup. Lebih ngomong gitu.”

“Ini nggak aku jual kalo kamu mau tau. Jadi, kamu nggak bisa beli,” candaku. Ketika Raya hendak protes, aku segera menambahkan, “Karena lukisan itu khusus aku kasih untuk kamu. Ndak perlu beli.”

Raya tertawa geli dan mencubit lenganku. “Makasih, ya, Mas Aga.” Detik itu juga jantungku langsung berdebar-debar. Ini saatnya. Aku harus setidaknya memberi tanda pada Raya bahwa aku merindu tak ketulungan. Tapi, aku takut. Tapi, ini satu-satunya kesempatan. Tapi… Ah, tak ada “tapi”. Dengan berusaha masa bodo, aku mencondongkan tubuh, berbisik lembut di telinganya, “Ay, aku kangen.”

***

Stay, Ay, stay. Seenggaknya sehari lagi,” kataku mengetahui dia akan pulang besok, H +1 pameran. Sejak tadi berdiam diri di ruang lukis, dia tiba-tiba pamit. Aku tahu dari tatapannya kalau dia tak bisa dibujuk. Hidupku di Jakarta, Mas, dan pekerjaanku menunggu, ucapnya. Dia benar, dan aku bodoh. Banyak hal yang tidak aku pertimbangkan sebelum memintanya tinggal sehari lagi di sini bersamaku. Suasana sunyi lagi. Dia memuntir-muntir rambut sebahunya, sedangkan aku sibuk melihatnya melakukan itu.

Deg. Tiba-tiba aku tersadar. Aku sudah menyayanginya sejak kecil, bahkan sebelum aku tahu apa artinya “sayang”. Bahwa sejak kecil aku selalu menganggapnya perempuan termanis di jagad ini, tanpa sadar aku sudah menyukainya. Ketika aku selalu ingin ke Jakarta tiap kali liburan sekolah dan hanya punya satu tujuan yaitu untuk bertemu Raya, itu karena aku sudah tak bisa melepaskannya. Dan, selama ini, rasa itu hanya terlupa, bukan hilang. Ketika dia datang kembali, semua rasa pun turut muncul.

Tanpa sadar, aku berucap, “Ay, aku sayang kamu.”

Pipi Raya bersemu merah jambu. Sedetik dia memandangi mataku, dan sedetik kemudian dia menunduk, seolah mengontrol dirinya. “Mas…,” dia menggeleng-geleng. “Nggak boleh.”

Aku telah menyayangi dia seumur hidupku, dan sekarang dia bilang aku tidak boleh menyayangi dia lagi? Meskipun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tahu ini tidak bagus. “Kenapa, Ay?” suaraku tak bisa tak terdengar serak.

“Mas, kita nggak boleh,” Raya menggantung pembicaraan dan memilih keluar dari ruang lukis dengan mulus. Dari kejauhan, dia berkata, “Mas, lupain rasa yang kamu punya buat aku sekarang. Belum terlambat.”

Sampai larut malam, aku masih melamun di ruang lukis. Tak melakukan apa-apa, hanya memikirkan ucapan Raya. Segala yang harusnya menjadi awal, malah menjelma menjadi akhir. Di tengah kebingungan, aku tertidur di meja lukis sampai menjelang pagi.

***

Raya sudah pulang ke Jakarta naik bis pagi-pagi sekali, kata Mai. Mungkin tak lama setelah aku tertidur. Dia tak ingin Mai atau Ibu membangunkan aku. Takut mengganggu, katanya. Padahal, dia tak pernah mengganggu aku, bisikku kepada diri sendiri.

“Tapi, Mas Aga, ada titipan dari Mbak Aya nih,” Mai tiba-tiba membawa berita menggembirakan. Sambil meledek, Mai bilang, “Surat cinta kaliiiiiii.” Ibu menatap tajam mataku dan Mai, sampai Mai seketika pucat pasi seolah bersalah.

***

Surat itu tak beramplop. Hanya selembar kertas. Kukenali kertas itu sebagai kertas yang dirobek dari note bengkel lukisku. Terasa hambar, kubaca tiap kata di dalamnya.

Mas Aga,

Aku minta kamu lupain semua rasa kamu ke aku, karena itu nggak mungkin.

Jalan kita sulit.

Nggak ada yang mendukung kita, termasuk Ibu kamu dan Om Dafi.

Ibu kamu pernah menegaskan, nggak mau hubungan kita jadi seperti itu.

Karena kita saudara, Mas.

Meski bukan hubungan darah, tapi kita saudara.

Kamu tahu kenapa ini jadi begitu sulit?

Hingga akhirnya aku nggak berani ngomongin ini sambil natap mata kamu?

Karena aku nggak akan bisa nolak kamu kalau liat wajah kamu.

Karena aku juga sayang kamu.

Tapi, itu nggak berarti lagi sekarang.

Kamu pasti juga mikir begitu.

Karena ada yang lebih utama harus kita perjuangin.

Kebahagiaan orangtua, Ibu kamu.

Keharmonisan keluarga besar kita.

Maaf, Mas.

Setelah ini, jangan pernah bicarain soal ini lagi.

Lupain.

– Raya

Hati ini seperti dihempaskan ke tanah. Dibanting-banting hingga mati rasa. Kuremas surat Raya dan kutelungkupkan kedua tanganku di wajah. Jadi, inilah maksud perkataan Raya yang menggantung semalam. Jadi, inilah arti dari semua tatapan tajam dan kekhawatiran Ibu setiap kali nama Raya kusebut. Inilah kebenaran itu. Dan, di sinilah akhirnya. Aku harus memilih antara orangtua satu-satunya yang di telapak kakinya surga berada dengan perempuan malaikatku yang seumur hidup telah kucintai keindahannya. Ibu, begini berat…

***

Orang tak akan bisa membayangkan betapa pilunya kehilangan seseorang, sebelum ia sendiri pernah kehilangan. Dan, aku harus menahan lirih demi terpenuhinya takdir itu. Pertama kalinya jatuh cinta, dan pertama kalinya pula patah hati dan kehilangan.

3 Comments Add yours

  1. khakha says:

    aih, tre…

    pedih.

  2. leonardo says:

    Haha. Felt this once.

    Lihat juga tulisan gw disini: http://leonardo.situmorang.net/a-crash-course-of-love-for-dumbass/

    Cerita sejenis banyak, tapi entah kenapa tetap seru dibaca yah🙂

    Cheers

    1. atre says:

      ya karena deket sama kehidupan kita barangkali?
      dan, masing2 cerita pasti beda sudut pandang.
      e ga e ga?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s