Seberapa Harus Dimengerti Hingga Jadi Berarti

1075604_29978302
Beberapa hari yang lalu, saat saya merasa tidak berarti, saya mencoba meminta ‘tangan’ kawan-kawan saya untuk membantu saya ‘naik’. Orang-orang yang yang secara spontan berloncatan di otak saya langsung saya kirimkan pesan singkat. Saya bertanya hal yang sama kepada semuanya; apakah mereka merasa cukup mengenal saya?

Jawaban mereka berbeda-beda, tapi tetap ada satu kesamaan. Mereka mengira saya tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja; berada di titik nadir dalam hidup saya. Mereka memang benar. Setidaknya bahwa saya tidak baik-baik saja. Tapi, saya tidak sedang berada di titik paling rendah dalam hidup saya—yang artinya, saya pernah mengalami yang lebih buruk.

Orang-orang (yang menurut saya) dekat itu pun menjawab, “Ya, saya kenal. Saya tahu kamu, dan bagaimana kamu bertindak/merespons setiap hal.” Itu melegakan. Kemudian, ada pikiran lagi muncul di otak saya, “Kenapa mereka bisa mengerti, sementara orang terdekat saya baru saja menunjukkan dia tidak bisa mengerti saya?” Lelaki terdekat ini tidak sadar kalau dia baru saja membuat saya kesal. Dia tidak sadar kalau baru saja membuat saya sendirian di tengah riuh kawan-kawannya. Dan, saya paling tidak suka merasa sendirian.

Tapi, lalu muncul lagi pikiran lain. Apakah iya dia yang tidak mengerti saya, dan bukan sebaliknya? Apakah justru saya yang terlalu banyak meminta untuk dimengerti—meminta dia hanya memperhatikan saya sementara di sekelilingnya teman-temannya sedang riang bertemu kangen; mengharap dia tidak meninggalkan saya sendirian, sekalipun dia sudah setengah mati ingin berbincang-bincang dengan kawan lamanya. Mungkin iya. Mungkin saya yang terlalu sering meminta untuk dimengerti sementara dia tidak pernah saya mengerti. Mungkin sekali-sekali harusnya saya yang mengerti dia dan bukan melulu sebaliknya. Toh, ketika pikirannya tak terfokus pada saya, hatinya tetap ada saya. Dan, saya jadi tahu, lelaki itu selalu menganggap saya begitu berarti, walau kadang-kadang saya sukar dimengerti. Saya pun sadar, ternyata tak perlu harus dimengerti untuk jadi berarti.

Foto: sxc.hu.

8 Comments Add yours

  1. chimerahead says:

    yap..
    jadi berarti bukan berarti harus terus dimengerti..
    tapi cukup logis juga jika dikatakan,
    harusnya lelaki itu bisa mengerti sesuatu yang berarti..
    hah??!
    bingung ah, hehe..
    anywayz,,
    great blog^^

  2. atre says:

    haha…kamu tenggelam dalam kata-kata sendiri, ya, chimerahead? ya tapi emang begitulah kira-kira.

    thanks udah mampir dan kasih komen ya…

  3. chimerahead says:

    yak.
    rumit memang..
    tapi bgitulah, hehe..

    sm2 ^^

  4. yellowtofu says:

    Akan lebih mudah jika berkata terus terang saja “Kamu baru saja bikin saya kesal, can we discuss that?” ha ha.

  5. chimerahead says:

    haha, sometimes it’s not that easy..

  6. putrikatak says:

    Ah, harusnya lo rajin baca Amor CC, Tre…

    Perempuan itu memang inginnya lelaki mengerti dengan kesadarannya sendiri,
    tapi lelaki itu nggak akan sadar kalau lo nggak ngomong apa mau lo… As simple as that, just SAY IT!

    Kekekeee… (Jadi ini maksud sms lo…)

  7. rangga says:

    mampir sebentar.

    gue sering juga nih ngerasa begini. suka egois sendiri padahal cw gue kayaknya sih udah mati2an ngertiin gue.

    intinya sih kalo menurut gue, ga bisa cuman sepihak aja soal ngerti2an. musti 2-2nya.

    asli, bossy abis gue.
    ha ha ha

    1. atre says:

      obrigada, rangga, udah mampir ^^

      intinya sih kalo menurut gue, ga bisa cuman sepihak aja soal ngerti2an. musti 2-2nya.

      gue setuju🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s