Yang Biasa Saya Lakukan untuk Mengurangi Stres

smile_by_dottydotcom

Tulisan ini bukan sok mau mengajari. Bukan juga mau memaksakan cara saya kepada kalian yang membacanya. Saya hanya ingin berbagi bagaimana cara saya menghindari stres; stres hidup, stres di jalanan karena macet, atau stres di kantor.

Untuk mencegah kegilaan memuncak, saya punya cara yang selama ini bisa dengan cepat menghilangkan penat saya. Yaitu, tertawa; entah menertawakan diri sendiri, atau hal-hal kecil di sekeliling kita.

Saya setiap hari berpanas-panasan di jalan. Kalau nggak pintar-pintar mengendalikan diri, bisa-bisa saya stres; ya karena macet, karena panas nggak ketulungan, karena kebut-kebutan, dll. Selama ini, saya bisa tetap terlihat tenang karena saya suka menertawakan hal-hal kecil di jalan. Dan, setiap hari, ada sejuta kejadian dari berjuta orang di luar sana yang sepersekiannya melakukan tindakan bodoh atau mengeluarkan kata-kata lucu. Semacam hari ini, saat saya jalan kaki menuju jalur bis, ada seorang anak muda bersepeda yang tiba-tiba kepleset di depan mata saya karena dia sibuk merapikan rambut. Saking sibuknya, dia nggak melihat ada aspal yang berlubang di depannya. Saya bisa tertawa karena itu. Setidaknya, tersenyum.

Di kantor, belakangan keadaan kantor sepinya nggak ketulungan. Tapi, untungnya saya nggak terlalu terganggu dengan keadaan ini. Saya bisa sangat autis dengan sendirinya. Malah, keadaan ini bisa membuat saya lebih fokus dengan beban kerja saat deadline. Dan, kantor bisa kita hapus dari daftar yang bisa membuat kita stres.

Stres hidup? Selalu ada celah untuk menertawakan diri sendiri. Kalau saya, misalnya, saya bisa geli sendiri ketika ingat lagi betapa bisa tergila-gilanya pada seseorang dan melakukan hal-hal bodoh untuknya padahal dia sendiri tidak segitunya. Saat kejadian, mungkin saya memang tidak bisa tertawa. Tapi, ketika kejadian itu sudah lewat, cara untuk merelakannya adalah dengan menganggapnya ringan dan menertawakannya.

Dulu, saya pernah punya proyek gila-gilaan pergi ke suatu kota hanya untuk menemui seseorang dan meminta kepastian. Dan, ketika hasilnya buruk, saya ‘jatuh’ sejadi-jadinya. Tapi, sekarang, saat mengingat masa itu, saya sudah bisa tertawa. Betapa gilanya, betapa pendeknya pikiran saya saat itu, dan betapa anak kecilnya. Itu hanya satu contoh. Tapi, yang jelas, ketika kita sudah bisa menertawakan hal yang menyakitkan (in a good ways, of course), kita menjadi lebih dewasa.

Dan, berkat tertawa, saya jadi bisa lebih tenang.

Foto: ini.

2 Comments Add yours

  1. khakha says:

    gue membaca postingan lo di saat yang tepat, ya.
    well, gue setuju dengan cara lo. itu cara yang murah meriah sebenarnya, tetapi seringkali jadi terasa mahal karena kita membiarkan ego menguasai pikiran kita. hehe.

    ^^,)/

    1. atre says:

      iyah, tapi gue belajar buat nurunin ego (sedikit-banyak) di jalanan. dengan ngeliat ke bawah dan bukan ke atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s