Bukan Hilang, Hanya Terlupa

n587468422_1755423_3080859

Tempo hari, 25 April 2009, ada turnamen futsal antar-media khusus perempuan di Lapangan Futsal Hanggar Pancoran. Kantor gue–PT Media Satu–memang nggak ikut turnamen ini. Gue pun juga bukan salah satu pelaku pertandingan. Gue dateng semata-mata karena Keriting, si pacar, jadi salah satu panitia. Lebih tepatnya, jadi asisten wasit. Pemegang kendali turnamen yang diadain dalam rangka menyambut Hari Kartini ini juga kebetulan adalah teman sekantor si Keriting. Mbak Dini Wirastri namanya. Gue juga kenal, karena dulu pun dia teman sekantor gue. Jadilah, gue hadir di sana sebagai penggembira suasana.

Dalam satu hari itu, berpuluh-puluh tim unjuk gigi. Lucu memang. Hanggar jadi terlalu ramai karena teriakan para peserta. Karena, bisa dibilang, dari 100 peserta, hanya sekitar 10 orang yang benar-benar terampil memainkan bola. Sisanya, ya, dagelan. Wong ada seorang pemain yang tugasnya jadi kiper, malah menghindari bola ketika si bola mengarah ke gawang. Kiper kok takut bola, gue terkikik dalam hati. Puncak acara ini, katanya, adalah pertandingan antara tim Soho (si empunya dana a.k.a sponsor) dan tim selebriti. Wah, artis (gue sempet penasaran juga liat oartessss-oartess ini main futsal).

Beratnya, dalam satu hari, turnamen ini harus selesai. Jadi, mulai dari babak penyisihan sampai final, diselesaikan hari itu juga. Sistem gugur. Tapi, ternyata, para perempuan ini punya stamina yang kuat juga. Walaupun terbiasa begadang karena deadline, tapi tubuh mereka bisa tahan dengan beban pertandingan yang banyak itu. Salut.

Sampai di perempat final, tiba-tiba gue liat dua sosok yang familier. Ada Bobby dan Gie. Ha-ha. Sempit sekali dunia. Mereka bakal mewakili kantor mereka masing-masing; Bobby Femina Group, Gie MRA. Gue tau banget gimana permainan mereka. Dan, gue bisa dengan lugas bilang, kalau mereka adalah dua dari 10 orang yang “bisa” main futsal/bola.

Gue merasa dunia semakin sempit karena ternyata Bobby dan Gie harus berhadap-hadapan. Femina Group vs MRA. Halah…Kami pun ketawa-ketawa ramai dan sesekali nyeletuk, “Macam dejavu, Inggris vs Belanda.” Dan, ketika keluar celetukan itu, pikiran gue melayang jauh ke saat-saat kami masih di kampus (gue Indonesia, Gie Belanda, Bobby Inggris–FIB UI). Setelah lulus, ada jeda seberapa lama yang bikin kami nggak ada komunikasi sama sekali. Hilang. Tapi, meski ada jeda itu, saat ketemu lagi, celah itu seolah nggak ada. Semua kenangan itu memang nggak pernah hilang. Mereka itu hanya terlupa. Dan, hari ini, semua kembali lagi. Akrab. Hingga akhir turnamen (dengan hasil pemenang adalah Majalah Rumah; MRA semifinalis; Femina Group kalah oleh MRA), kami bisa ketawa-ketawa tanpa ada kaku.

Mungkin ini yang disebut sahabat. Nggak perlu selalu sama, nggak perlu selalu bersama. Ketika ada ataupun tak ada, hati kita tetap sama-sama. Senangnya bertemu kalian!

Foto: Dok. Gie.

One Comment Add yours

  1. khakha says:

    judul dan paragraf terakhir kurang pas.
    kalau sahabat, gak terlupa.

    haha. pendapat saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s