Perjalanan Mendaki Gunung Gede

Tempo hari, saya baru saja balik dari Gede. Jelas bukan bertapa. Saya cuma ingin mencoba rasanya hiking. Karena ini memang yang pertama kalinya. Sebelum berangkat, sempat rasanya saya maju-mundur ikut-tidak ikut. Alasan yang membuat bimbang banyak. Mulai dari urusan ketahanan badan yang baru saja kelar deadline H-1, sampai masalah pacar yang juga maju-mundur memberi izin (walau akhirnya dia malah jadi menemani saya selama di Gede). Tapi, saya anggap semua bisa diatur di ujungnya. Hingga akhirnya, saya, Keriting, Icha, Harry, Tiga, dan Hape jadi juga berangkat.

100_2730

Menjelang magrib, Jumat, 15 Mei, saya sudah di rumah Hape (dari kantor). Di situlah memang tempat kita semua kumpul, sebelum akhirnya berangkat ke Cibodas entah dengan apa—saat itu kami masih belum bisa memutuskan, apakah akan sewa angkot dari Jakarta–Cibodas, ke Kampung Rambutan dan nge-bis, atau bagaimana. Saya belum bawa apa-apa, karena baru hari itu juga saya baru dapat daypack pinjaman dari Fifi, yang akhirnya malah tak terpakai—saya akhirnya memilih pakai cariel Tiga yang lebih besar. Pulang dan packing dengan segera diantar Tiga, lalu kembali lagi ke rumah Hape jam 9. Saat itu, baru ada saya, Keriting, Tiga, dan Hape si Tuan Rumah. Harry dan Icha berbarengan datang selanjutnya, karena belum kelar urusan di kantor. Menunggu personel lengkap, masing-masing ransel dibongkar lagi. Memastikan semua membawa bagian bawaan yang sudah dibagi sebelumnya. Saya pikir, cariel Tiga sudah besar. Tapi, ternyata, milik Hape, Harry, dan yang Keriting bawa berkali lipat besarnya. Hape bawa Si Kulkas Dua Pintu, sementara Harry dan Keriting bawa Si Satu Pintu ‘saja’. Ck ck ck…

Sepanjang beberesan cariel, pikiran saya melayang ke mana-mana. Jujur, badan saya saat ini sedang luar biasa renteg (remuk amat sangat). Takut saja kalau ternyata nanti saya ambrug dan malah menyusahkan banyak orang. Apalagi, saya belum tahu medan. Dan, di antara semua, hanya saya yang sama sekali belum punya pengalaman. Jadinya, sempat juga was-was dan perasaan nggak karuan saya rasa. Tapi, saya pikir, coba dulu. Jalani dan bertahan. Setelah muncul pemikiran itu, saya jadi semangat dan berbalik antusias. Yippie!

Pukul 22.00. Semua siap. Kami berangkat; memilih ke Kampung Rambutan dan nge-bis. Bis datang, tapi saya nggak ngeh apa namanya. Bis penuh, dan banyak perokok. Kami pun duduk berjauh-jauhan. Kesan: tidak nyaman. Tapi, setelah sekitar beberapa menit duduk, saya langsung blassss, tak tahu lagi sekitar. Saya tidur, mata mendesak minta diistirahatkan. Saat sadar, tahu-tahu sudah sampai di Cibodas. Kami harus naik angkot kecil lagi untuk sampai ke jalur keberangkatan kami. Kali ini, kami sepakat memilih jalur Gunung Putri. Itu sudah sekitar pukul 03.00 (Sabtu, 16 Mei 2009).

Sampai di sekretariat, selesai melapor dan mendaftar, kami mulai mendaki di dini hari itu juga. Dalam hati saya menyemangati diri sendiri. Begitu keras. Karena jujur, saya takut ‘kalah’. Baru sejam berjalan di ladang saja, saya sudah gentar. Ngos-ngosan nggak ketulungan. Hape bilang, “Belum terbiasa.” Saya pikir, mungkin juga. Lalu, saya coba atur ritmenya. Dan, cukup berhasil. Memang masih lelah, tapi setidaknya napas saya tidak Senin-Kamis. Sampai tahu-tahu Subuh dan kami sudah sampai di tengah-tengah hutan. Semua sepakat untuk istirahat lama di sini (baca: buka tenda dan tidur). Ya sudah…Sebelum tidur, kami mengeluarkan logistik yang masih berlimpah. Roti tawar + keju craft singles, bakmi instan, coklat, susu. Setelah cukup, kami tidur. Tahu-tahu, sudah pagi, sekitar pukul 08.00. Saya, Keriting, Tiga, Icha, dan Harry terbangun karena ‘diganggu’ Hape yang sepagi itu sudah mulai masak-masak (lagi) sambil nyanyi-nyanyi tak merdu. Hhhffff…

Sebelum cerita dilanjutkan, ada beberapa kendala di awal perjalanan kami. Kendala pribadi: cariel Tiga menyakiti pundaknya sendiri, dan nantinya ini akan sangat menyulitkan dirinya juga mobilisasi yang lain.

Selesai masak dan packing, kami lanjut perjalanan. Sayang, dalam perjalanan, kami sering terpisah (lebih tepatnya sengaja terpisah): Icha-Harry, saya-Keriting, Hape-Tiga. Jadi sepi rasanya. Pos demi pos dilalui. Sekitar pukul 17.00, saya-Keriting sampai di Surya Kencana lebih awal. Menyusul selanjutnya Tiga-Hape dan Icha-Harry. Buka tenda kembalilah kami. Untuk sampai di Surya Kencana bukannya mudah. Saya sempat sebal hingga mata berkaca-kaca karena perjalanan tak sampai-sampai. Jengkel. Untung, ada manusia super bersama saya. Keriting, yang April lalu baru saja ke Gede, sudah sangat tenang menghadapi medan. Dia menyuruh saya santai. Dia bahkan membawakan cariel saya saat saya sudah menjelang putus asa. Luar biasa memang dia. Dan, sekadar catatan, jalur Gunung Putri bagi saya, ampppooooonnnnnn! Gilak gilak gilak! Soal keindahan Surya Kencana, jangan ditanya lagilah. Semua orang pasti setuju kalau perjalanan berat sebelum mencapai SurKen akan langsung lesap jika kita sudah tiba di padang edelweis itu. Top.

100_2868

Surya Kencana. Sore. Saya pergi cari kayu bakar. Harry, Tiga, Hape, Keriting buka tenda. Icha masak-masakan. Dan, tak ada aktivitas lagi selewat pukul 20.00. Semua beranjak tidur. Tenda 1: Icha dan Harry. Tenda 2: saya, Keriting, Tiga, dan Hape. Tapi, anehnya, kami serentak bangun lagi pukul 23.00. Semua pun merasa hal yang sama; sudah tidur begitu lama, tapi jam belum juga tengah malam. Akhirnya, kami kajol (kagak jelas t**ol) sebentar; Hape-Tiga makan gorengan yang tadi dimasak, Keriting ngusel-ngusel dalam sleeping bag, saya foto-foto tak ada hasilnya, sementara Icha dan Harry bolak-balik pipis. Setelahnya? Lanjut tidur lagi sampai jam 10.00. Hari sudah Minggu, 17 Mei.

Beberapa kali, saya, Icha, Harry, Keriting bolak-balik ke sumber air di kaki gunung di SurKen; untuk minum saat itu, masak, dan cadangan minum. Keriting malah sempat-sempatnya mandi sampai membasahi rambut. Saya juga sempat ‘berbenah diri’, tapi, ya, tak sampai mandi juga. Hape dan Tiga fokus masalah tenda dan masak di dekat tenda. Menjelang tengah hari, kami berangkat menuju Puncak untuk kemudian turun gunung. Sekitar dua jam-an perjalanan dan kami sampai di Puncak. Indahnya jempolan, walau agak bau-bau belerang (baca: kentut).

100_2901

Di Puncak, kami tak lama. Selain karena tiba-tiba hujan menderas, kami memang harus segera turun agar sampai bawah tak kemalaman. Dari Puncak, kami terpisah lagi. Itu karena saya dan Keriting sempat berhenti membuat jas hujan dari trash bag (padahal bawa jas hujan, tapi malas bongkar cariel) dan menyelamatkan kamera digital yang ada di jaket saya. Saya dan Keriting jadi jauh tertinggal di belakang. Belum juga setengahnya perjalanan turun gunung, karena licin, kaki saya keseleo (sebelumnya, pas menuju Puncak dari SurKen, urat kaki saya sempat ketarik). Kaki kanan. Makin, mobilitas saya jadi sangat lambat. Counterpain di Tiga. Istirahat dulu sejenak. Jalan lagi, tapi kaki sudah tak bisa diajak kompromi. Hingga akhirnya saya dengar Tiga memanggil-manggil (rupanya anak-anak berdiam, memasang fly sheet, menunggu saya-Keriting). Keriting balas menjawab, “Astri kakinya sakit.” Tiga kembali naik ke tempat saya-Keriting, menggantikan saya memanggul cariel yang saya bawa, dan memilihkan jalan yang tak terlalu sulit untuk saya. Mulai dari sinilah, kaki saya sudah semakin manja. Menjalar ke lutut yang sudah tak bisa dikendalikan; saat harus lurus dia bengkok, saat harus bengkok dia maunya lurus. Ini berlangsung hingga saya sampai di pos terakhir Cibodas. Mulai dari sini juga, saya sudah tidak fit lagi untuk urusan jalan menanjak dan menurun. Maunya landai saja. Tak ada makan berat kali ini. Di fly sheet, kami hanya mematangkan pop corn dan bubur instan. Lalu, jalan kembali.

Tak terasa, hari sudah malam. Sampai lahan lengang setelah jembatan air panas, kami mendirikan satu tenda untuk istirahat sebentar. Alasannya? Saya kurang tahu pasti. Mungkin hanya karena semua perlu istirahat agak lama. Apalagi, setelah ada kejadian cukup aneh. Begini, dalam perjalanan dari titik terakhir kami mendirikan fly sheet hingga tenda ini, saya-Keriting kembali jadi pasangan terakhir. Padahal, waktu berangkat, posisinya begini; Icha-Harry di depan, saya-Keriting di tengah, dan Hape-Tiga di belakang. Tapi, pas sampai di tenda, tahu-tahu Tiga-Hape sudah tiba, dan anehnya kami tidak berpapasan dengan mereka. Padahal, kami mengambil jalan yang sama. Dan, you know what, kami telat hampir 30 menit. Pikiran buruk langsung muncul di otak saya. Tapi, segera saya tepis. Karena kami belum juga keluar dari sana.

22.00. Mulai beranjak menuju pos terakhir. Kali ini, saya menekankan, kami tidak boleh berpisah. Harus sama-sama. Formasinya begini: Hape-saya-Keriting-Icha-Harry-Tiga (sweeper). Kondisi masing-masing orang sudah tak fit lagi, saya pikir. Hape letih memanggul kulkas tiga pintunya. Saya, jangan tanya, kaki keseleo dan urat ketarik bikin perjalanan makin sulit. Ditambah lagi, asam lambung yang tiba-tiba naik sampai tenggorokan (karena lapar). Keriting? Letih, tapi masih semangat. Icha, kakinya sudah gemetaran. Harry mulai pusing karena bawaannya terlalu berat. Dan, Tiga, carielnya makin menggigit pundaknya sampai membuat dia tak tahan lama-lama memanggulnya. Sebenarnya, kegelapan membuat saya parno. Takut. Untungnya, saya bisa mengolahnya jadi motivasi, membuat saya bergerak lebih cepat agar bisa cepat pula keluar dari sana, dengan kondisi kaki yang sudah cedera.

Dan, akhirnya, sekitar pukul 23.00, kami sampai di sekretariat Cibodas. Alhamdulillah. Hape yang jadi jubir mulai ngobrol ngalor-ngidul dengan si penjaga sekret; saya lupa namanya. Bersamaan dengan itu, ponsel kami mulai mendapat sinyal. Masing-masing pun sibuk mengabari orang-orang terkasihnya. Sudah cukup basa-basinya di sekret, kami pamit. Saya mendesak untuk cepat-cepat pergi cari makan. Dan, perlu berjalan sekitar beberapa lama lagi untuk dapat sampai ke warung nasi goreng yang kekeuh dipilih Hape. Fiuuhh…Untung, tempatnya enak dan nasi gorengnya lezat. Ini cukup. Recharging!

Senin, 18 Mei 2009. 03.00 dini hari. Beranjak pulang. Sayang, saya-Keriting naik bis berbeda dari sisa anggota. Sebab, kami pindah bis (di bis pertama, kami tidak dapat duduk). Berdua saja naik bis, saya dan Keriting sampai di Terminal Kampung Rambutan jam 06.00, untuk kemudian lanjut Kopaja 605 dan angkot biru M61 menuju rumah Hape, mengambil cariel saya, sekaligus Keriting menumpang mandi.

Icha sudah diantar Harry pulang. Harry juga setelah itu dijemput adiknya untuk pulang. Menyusul Tiga yang pulang ngangkot. Terakhir, saya dan Keriting, juga ngangkot. Jangan ditanya betapa lelahnya kami. Khusus saya, saat pulang, kaki saya sudah tak bisa bengkok. Dari paha sampai telapak kaki, uratnya menegang—hingga seminggu ke depan. Tapi, saya senang karena dengan kondisi badan yang sudah ambrol, menurut Keriting, saya hebat ^^.

Tapi, saya berpikir kembali, masa iya sehebat itu? Flash back. Di saat-saat putus asa, saya ingat kata-kata Harry, “Hiking bukan cuma mengalahkan gunung, tapi juga mengalahkan diri sendiri.” Saya lihat Keriting. Dia sudah sangat berhasil mengatasi egonya sendiri. Sementara, saya, saya rasa saya masih gagal. Saya belum bisa mengalahkan diri saya sendiri. Saya masih beberapa kali jengkel karena perjalanan, saya masih beberapa kali dibawakan cariel-nya, masih bergantung pada orang lain, dan saya masih suka mengeluh. Saya jadi merasa, saya tidak sehebat itu. Di luar semuanya, ini tetap saja pengalaman yang luar biasa bagi saya. Tak cuma kebersamaannya, tapi juga segala kesulitannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s