Standar Kebahagiaan

1164832_51299081

Pagi ini, lagi-lagi di Kopaja P20 (saya kebetulan duduk di kursi tepat di belakang pak supir), sang supir terlibat pembicaraan ringan dengan si kondektur. Percakapan yang membuat saya jadi ngeh kalau ternyata perbedaan standar kebahagiaan masing-masing orang bisa saja dipengaruhi oleh harta yang dimiliki.

Pagi itu, rupanya, bis yang saya tumpangi ini sudah berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk setoran di hari yang sepagi itu. Sang kondektur dengan girang laporan ke si supir. “Udah megang Rp300.000 kita!” Si supir balas, “Mantabb.” “Siapa dulu supirnya,” kata si kenek lagi. Nada suara mereka berdua girang-gembira. Wajah dua orang partner kerja itu pun sumringah, terlihat agak cerah; tidak seperti biasanya supir-kondektur yang ambisius dan beringas. Masih dengan kegirangan yang sama, si kondektur merayu si supir, “Makan siang ini kita. Makan siang, ya, Bang.” Si supir hanya ber-iya-iya saja. “Makan Padang di Senen aja, ya, Bang,” kali ini nadanya seperti anak kecil yang hendak dibelikan sepatu baru untuk Lebaran. Saya sampai senyum-senyum sendiri mendengar dan melihat mereka. Bersamaan dengan itu, saya jadi sadar, bahwa nasi padang bisa jadi sangat mewah untuk mereka. Saya turut bahagia untuk rezeki mereka hari itu.

Saya selama ini selalu percaya, bahwa materi tak selalu bisa membahagiakan. Tapi, ternyata, hari ini saya harus menepis pernyataan itu. Ada kebahagiaan yang riil di depan saya, dan semua itu karena uang.

Foto: dari sini.

7 Comments Add yours

  1. capungcapungkecil says:

    saya minta gambarnya ya?🙂

    seharusnya menurut teori tidak seperti itu, tapi jaman lah yang membawa pemahaman kita menjadi seperti itu, sekarang, tanpa duit mo jadi apa, klo mo hidup tanpa duit ya di hutan saja,. tapi yang tetep perlu di pegang, duit bukanlah segalanya🙂

    1. atre says:

      gambarnya dari sxc.hu loh, capungcapungkecil. tuh, gue cantumin sumbernya di taut foto paling bawah teks.

      memang, duit bukanlah segalanya.
      setujuuuuu!
      ^^

  2. khakha says:

    hidup kita tetap membutuhkan materi. entah dengan alasan kebutuhan atau status sosial. yang jelas, kita tetap butuh materi.
    perbedaan pandangan tentang materi tersebut gue rasa tergantung pada hasil pemikiran setiap individu.

    materi memang tidak selalu membahagiakan, tetapi tetap menjadi faktor penting untuk kebahagiaan.

  3. capungcapungkecil says:

    wah, makasih buat link nya.. tau deh ga keliatan link nya😀

    stock photo ya, bisa jadi bahan ngramein blog amatir ku nih😀, hehe..

    slam kenal mbak atre🙂

  4. tazty says:

    senang sekaligus menampar. kadang kita terlalu tinggi menetapkan standar kebahagiaan, padahal sebenernya dari hal kecil pun kita bisa merasakannya🙂

    salam kenal🙂

  5. Zizima says:

    salam kenal ya..
    seneng banget baca tulisan yang ini..
    kadang miris kalo ternyata sesuatu yang kita anggap byasa jadi luar byasa banget buat sebagian orang.
    Kaya misalnya nasi padang tadi🙂

    1. atre says:

      he eh.
      standar kebahagiaan tiap orang emang beda. banget.
      makanya mungkin mulai sekarang kita harus mensyukuri sesedikit pun rejeki yang kita dapet.
      iya ga?
      ohohoho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s