Senja Datang Lagi

Lelaki beraroma senja itu datang lagi. Di tengah malam, dia malah teriak-teriak, membuat mimpi saya ‘sakit’ dan mendebarkan. Dengan wajah kuyu dan suara berderak, dia mengatakan, “Saya mencintai kamu, mencintai kamu sampai-sampai saya merasa akan meledak.”

Saya hanya mengusap-usap pipinya yang kuyu, yang tanpa keinginan. Dia menatap sebentar, lalu tatapannya jatuh lagi ke tanah, kali ini lebih tak terbaca.

Saya tak pernah menduga dia akan datang lagi. Saya juga tak mengharapkannya muncul ke permukaan, setelah sebelumnya dia sudah mengucap akan pergi selama-lamanya. Tapi, malam ini, dia ingkar. Dia kemudian berkata lagi, “Saya melawan arus, mengira akan bisa melupakan kamu sebegitu mudahnya. Setiap hari saya gelisah, saya tahu saya salah perkiraan. Dan, setelah tidak sanggup menahan, saya sekarang malah muncul lagi mengganggu tidurmu. Maaf, saya rindu.” Mulutnya komat-kamit cepat. Tidak ada kegembiraan lagi saat saya mendengar semuanya itu. Rasanya, semua sudah terlalu usang untuk jadi kesenangan. Sudah terlalu lama saya mengharapkan kata-kata ini keluar dari mulutnya. Saking lamanya, saat semua ini benar-benar keluar dari mulutnya, saya sudah mati rasa. Yang bisa saya lakukan hanya mengecup mata kanannya, berharap bisa menenangkan lelaki senja yang semakin memerah itu.

“Bisakah saya menarik kata-kata saya yang dulu ingin pergi dari kamu? Saya ingin kembali merasakan kecupanmu di mata saya setiap hari, seperti tadi. Tidak hanya saat saya resah, tapi juga saat saya gembira. Bisakah, Ilalang?” Rasanya, tidak ada lagi yang bisa saya katakan. Saya tahu saya mencintainya, tapi hanya cukup dirasakan, bukan untuk dia miliki. Saya tahu saya tak akan pernah bisa berhenti merindukannya, tapi itu cukup saya saja yang tahu dan tidak perlu juga diterjemahkan ke dalam suatu bentuk permainan perasaan. Hhh, sayang, saya tidak bisa mengatakan itu padanya. Saya hanya bisa diam, seraya menatap matanya yang tanpa sinar itu, lalu mendekapnya. Maaf, kata saya dalam hati. Ini terlalu terlambat. Saya sudah menemukan matahari terbit saya. “Ke mana saja kamu saat saya membutuhkan kamu,” ingin rasanya saya berkata begitu padanya. Ah, tapi berbisik saja saya tidak mampu.

Dan, dalam mimpi pun dia pergi tanpa suara, seperti yang sudah-sudah, setelah sempat menggenggam tangan saya erat dan meninggalkan tatapan sendunya itu. Semoga saja dia mengerti kalau saya selalu ada di sini. Tidak menunggunya. Hanya mencoba menjadi ”ada” ketika dia butuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s