Begini Saja Cukup, Sudah Jangan Bicara

Seiring menderasnya hujan hari ini, sederas itu pula kata-kata sepertinya ingin meluap membuncah-buncah. Kiri-kanan saya sunyi. Seruangan ini pun semua orang sibuk dengan dunianya sendiri. Hanya di luar sana, angin mengamuk, memukul-mukul air hujan sebesar-besar air mata. Entah karena apa dia mengamuk. Mungkin hatinya gundah, mencintai diam-diam sang hujan, tanpa bisa meluapkannya dengan segenap hati. Atau, bisa jadi juga dia sedang begitu gembira, menggoyangkan kaki ala tap dance dan membuat koreografinya sendiri bersama hujan, kekasihnya.

Ah, begitu sulit memang mencintai. Pernah ada pengarang mengatakan, “Cinta itu indah, dengan segala risiko yang membuntutinya.” Apa pun itu bentuk cintanya. Tak peduli rahasia, atau terbuka. Entah itu cinta beradab atau biadab. Saya pun mengalaminya, mengalami yang namanya sulitnya mencintai. Berkali-kali mencinta, berkali-kali pula patah. Nyerinya memang tak pernah bisa dibiasakan. Betapa pun banyaknya kita mengalaminya. Rasa sakit itu tak pernah sama. Hanya saja saya sudah sangat tahu, setiap sakit itu pasti ada obatnya. Jika bisa melewatinya, itulah sakit yang menguatkan, bukan menghancurkan.

Sekali lagi saya bilang, saya juga mengalami cinta yang begitu sulit. Tidak seperti cinta rapuh Annelies Mellema pada Minke. Atau, juga bukan cinta Layla pada Majnun. Tidak juga serumit cinta matinya Romeo dan Juliet. Tidak, tidak. Tapi, jompakan rasa yang begitu menguar-nguar ini sangat menyulitkan. Apalagi jika kasusnya, keadaan tidak begitu mengizinkan. Sebut saja, menyayangi diam-diam. Diam-diam karena memang inilah bentuk rasa sayang itu. Hanya untuk dua orang yang berkaitan saja. Hanya untuk dinikmati berdua.

Saya telah mencandu setiap pelukannya dan kecupan hangatnya di tengkuk saya. Untuk mengatakan saya menyayanginya, saya masih tidak terlalu tahu. Masih prematur juga, saya rasa. Yang jelas, tempo hari dia berkata, “Saya rasanya menyayangi kamu.” Tapi tetap, tak harus ada tuntutan di dalam kata-kata ini. Saya setuju, tak perlu ada apa-apa di balik pengakuan ini. Saya ingin menikmati ini sepuas-puasnya, tanpa perlu mengacaukan segala yang sudah ada. Jompakan ini indah, saya tahu. Tapi, saya tahu juga ini tidak boleh menghanyutkan.

Seperti embusan angin yang menunggu hujan turun, saya sudah merasa cukup hanya dengan begini. Jangan terlalu banyak bicara. Cukup tatap saja mata saya, kita bicara. Segera peluk saya, dan lalu kecup kening saya. Sesudah itu, mungkin saya akan memintamu untuk menyediakan mata kirimu untuk saya kecup sebentar. Bagaimana? Begitu saja cukup, kan?

One Comment Add yours

  1. Bayu Maitra says:

    shorties nya padat dan berisi, berbunga namun mudah dimengerti, pribadi sekaligus unversal. What can i say, the key to brilliance is simplicity.

    Love and Light.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s