Kisah Cinta di Dunia Ini Sama Saja

Semua kisah cinta di dunia ini sama saja. Setidaknya menurut saya. Segalanya tak jauh dari naik-turunnya kasih sayang, rasa ingin memiliki yang menggebu-gebu, derita, posesif yang jika dipupuk bisa jadi membahayakan, sampai batasnya adalah kehilangan atau perpisahan.

Di mana-mana sama saja, tak peduli di belahan dunia mana, ya begini inilah cinta lelaki dan perempuan. Tak peduli juga dari kalangan mana lelaki dan perempuan itu berada. Cinta tidak mengenal kasta, tidak mengenal derajat, materi, usia, bahkan bisa dibilang tidak mengenal gender. Maka itulah, yang terakhir ini membuat kita terbiasa dengan satu istilah bernama homoseksualitas.

Cinta itu buta, kalau kata pujangga tak bernama. Saking butanya, ya, sampai-sampai segala hambatan bisa jadi ditebas demi memuaskan perasaan hati yang sudah kadung cinta terhadap seseorang. Walau banyak cobaan, walau banyak yang harus dikorbankan, rasanya tidak ada yang mustahil kalau untuk urusan satu kata usang bermakna abadi ini. Saya mungkin tidak terlalu paham akan arti cinta yang amat sangat bergelombang jalannya. Karena toh selama ini jalan saya mulus-mulus saja. Paling-paling hanya sedikit kerikil yang menyertai. Tidak sampai lubang dalam atau tiba-tiba ada jurang di tengah jalan saya dan pasangan saya. Tapi saya mengerti, semakin besar rasa cinta kita untuk seseorang, akan semakin besar pula rasa sakit yang dirasakan ketika kita kehilangan. Saya juga akhirnya jadi mengerti bahwa setiap dari kita yang dalam perjuangan cintanya memilih untuk berkorban banyak alih-alih pergi meninggalkan, maka orang-orang itu adalah orang tangguh, jauh lebih tangguh daripada para pasukan yang berjuang hanya mengandalkan fisik semata. Mereka jauh lebih sadar daripada orang-orang yang hanya mencecap rasa bahagia. Kenapa? Derita lah yang menempa pengertian. Luka lah yang membuat kita belajar untuk lebih mencintai segala makna. Kejatuhan membuat kita mengerti siapakah orang yang ada di samping kita selama ini. Akhirnya, segala kesakitan itu membuat kita kuat, bukan malah menghancurkan.

Tempo hari, saya melihat pemandangan seorang gadis jalanan dan pria jalanan duduk di pinggir jalan. Si gadis dan si lelaki sama-sama berkaus hitam dan ber-jeans hitam. Keduanya pun berpenampilan sama; sama-sama kumal, legam, dan tak karuan bentuknya. Mungkin, ini pemandangan biasa bagi orang lain. Tapi, tidak bagi saya. Karena apa? Karena di pinggir jalan itu, mereka berpegangan tangan tak mempedulikan sekeliling. Tak peduli betapa bingar lalin saat itu. Tak peduli juga para pejalan kaki yang sedang riuh-riuhnya mondar-mandir di depan mereka. Mereka tetap saja berpegangan tangan dengan posisi duduk menyandar di sebuah toko, kaki berselonjor, menatap satu sama lain, sambil sesekali mengikik pelan. Sekali lagi, mungkin bagi orang lain ini biasa saja. Biasa mungkin melihat pasangan yang sedang jatuh cinta. Lebih biasa lagi zaman sekarang melihat pasangan berpegangan tangan di pinggir jalan. Tapi rasanya aura yang mereka keluarkan unik. Membuat saya mengerti akhirnya bahwa—seperti dalam prolog di atas—kisah cinta itu semuanya sama saja sebenarnya.

Saya terbayang apa yang ada di pikiran si lelaki saat itu. Klise, tapi saya yakin, laki-laki ini menganggap gadis yang ada di depannya adalah gadis paling cantik di jagad raya ini. Saya yakin. Tatapannya berbinar-binar. Bibirnya yang hitam dan kering juga tak henti-hentinya tersenyum. Membuat gadis yang ada di depannya tersipu-sipu, mungkin di saat yang bersamaan si gadis juga sedang menyimpulkan bahwa lelaki yang ada di depannya adalah lelaki termanis di dunia ini. Ah, padahal, kalau dari ‘kacamata’ luar, mereka sangat compang-camping. Tidak ada kecantikan dan ketampanan sama sekali.

Atau, di hari yang lain, sempat saya menemukan pasangan perempuan buta dan lelaki normal yang berjalan berangkulan tak peduli tatapan banyak orang yang masih ‘tidak wajar’. Pasti ada makna di balik akhirnya lelaki normal itu memilih perempuan buta untuk jadi pasangannya. Awalnya, saya sempat berpikir dangkal bahwa ya karena memang masing-masing tidak memiliki pilihan. Tapi, segala sesuatunya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. segala sesuatunya berjalan dengan maknanya masing-masing. Tidak terkecuali cinta tak mengenal batasan seperti ini. Masih banyak contoh di luar sana yang mungkin bisa dilihat sendiri.

Jika hati memang sudah memilih, dia tidak akan lagi mempertimbangkan hal-hal kecil semacam masalah kaya-miskin, tampan-jelek, hitam-putih. Kuncinya hanya satu: kenyamanan. Satu kata yang sangat familiar, tapi susah dideskripsikan. Pernahkah merasa kita tidak memiliki jawaban ketika ada orang lain bertanya alasan kita mencintai pasangan kita? Sebenarnya pertanyaan ini memang tidak perlu ada. Sebab, ya itu tadi, kenyamanan tidak bisa dijelaskan. Selalu menjadi misteri dan penyebab akhirnya terbentuk istilah “faktor X”. Kesimpulannya, semua orang di dunia ini boleh jatuh cinta; boleh dicintai dan mencintai. Boleh berharap, dan boleh menggapai-gapai. Tapi, ya itu tadi, semakin besar rasa cinta yang dipupuk, risiko yang dihadapi pun otomatis lebih besar. Tak peduli kaya-miskin, tua-muda, miskin-kaya, semua kisah cinta sama saja. Tidak jauh dari suka, duka, benci, cemburu, kehilangan, dan seterusnya.

Sumber: http://scrapetv.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s