Berangkat ke Kawah Putih

Akhir pekan lalu, saya bersama beberapa orang teman karib beperjalanan ke Bandung. Kedengarannya memang biasa, tapi ini sebenarnya perjalanan yang sudah dirancang lama dan entah kenapa tidak pernah jadi-jadi direalisasikan. Masalah waktu dominan menjadi penyebab. Masalah keuangan, itu sebab nomor dua. Hingga akhirnya, 18-19 Desember 2009, utang itu terlunaskan. Tepat sebelum Adhika harus merantau ke HK.

Bandung. Rasanya lazim kalau long weekend seperti minggu ini jalan raya sumpek, kendaraan rayap-merayap, rombongan orang juga di mana-mana. Jadi, sudah risiko kalau akhirnya kami harus sampai 3 jam acak-acak cari penginapan. Ya, 3 jam. Cukuplah membuat emosi yang tadinya sama sekali tidak ada langsung naik sampai tenggorokan. Dago, Merdeka, Juanda, sampai akhirnya Veteran yang menyelamatkan kami. Sebuah hotel seadanya menunggu diisi.

Makan bareng, tidur bareng, keliling FO sudah pasti kami lakukan. Misi utama yang harus dicatat adalah perjalanan Kawah Putih. Beberapa dari kami baru pertama kali ke sini, termasuk saya. Katanya, kawah belerang ini cocok untuk pencinta sunyi seperti saya, dan pencinta foto-foto seperti kami semua.

Berhubung tema perjalanan ini adalah “backpacker”, jadi kami sewa angkot PP Leuwi Panjang-Kawah Putih-Dago ‘hanya’ Rp250.000. Dibagi lima orang, masih hemat lah. Dalam 3 jam perjalanan, tidur-bangun-tidur-bangun jadi ‘kesibukan’. Cekakak-cekikik, lalu selebihnya sibuk dengan pikiran sendiri, sambil lirik-lirik petak-petak kebun strawberry di sepanjang jalan Ciwidey.

Sampai di loket/papan nama Kawah Putih, sinyal ponsel mulai raib. Udara mulai jauh lebih segar. Setiap embusan napas bukan karena beban berat, tapi respons kelegaan. Hhhmmm…Matahari terang, tapi tidak terik. Aih, ciamik. Sengaja saya tidak terlalu detail mendeskripsikan segala latar (waktu atau tempat). Karena saya cuma ingin menulis suasana.

Muka-muka sumringah tak sabar ada di sekeliling saya. Mungkin muka saya juga seberbinar itu kali, ya? Jalan sebentar menuju Si Kawah Bening itu, saya berpapasan dengan banyak sekali pengunjung. Ramai. Sempat sangsi akan bisa menikmati si kawah karena padatnya pengunjung. Terpikir, kawah akan menolak jadi sunyi karena banyaknya ‘teman’ yang berkunjung. Dan, begitu pertama kali berdiri tepat di wilayah kawah–setelah melewati gua yang ditutup papan, saya langsung merasa saya keliru.

Kawah Putih. Ia dikelilingi lembah yang masih juga hijau, walau pepohonan di bawah sini hanya tinggal ranting kering. Belerang mengisap hijau tanaman di bawah, tapi tidak di atas sana. Air kawah hari ini hijau perak. Peraknya mungkin berasal dari belerang di dasar kawah yang memantul. Yang pasti, matahari memberikan sinar terbaiknya, sampai-sampai warna putih belerang di daratan menyilaukan mata. Sesi foto-foto dilakukan sepanjang kami di sana. Disambi, (lagi-lagi) sibuk dengan pikiran sendiri, merenung, melamun. Luar biasa, Kawah Putih tetap memilih sunyi walau seramai apa pun keadaan sekelilingnya. Saya puas akhirnya bisa merasakan damai di sini. Bau belerang tidak mengganggu lagi. Dan, kalau dibiarkan, saya rasa saya bisa seharian berdiam di sini. Ah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s