[Fiksi] Platonis

Jakarta belakangan ini sangat tidak ceria. Jalanan selalu basah di pagi hari. Langit didesak awan hitam di mana-mana. Wajah-wajah wong kantoran juga kusut tidak ada gairah. Tambah satu lagi, kemacetan yang semakin parah dari hari ke hari. Kalau semua orang ingin punya kendaraan sendiri, ya, begini ini jadinya. Jalan raya tampak tidak bisa menampung ego orang Jakarta yang terlalu besar.

Saya di pagi ini juga tidak jauh beda dengan wajah para anonim itu. Duduk di bis menuju kantor, mimik saya datar, tanpa senyum. Yang bisa membuat saya senyum di pagi hari hanya awan gemuk-gemuk, suara lembut yang membangunkan setiap pagi saya, dan peluk hangat dari tubuh yang beraroma khas. Itu saja. Tapi, pagi ini, awan pembangkit mood itu tidak muncul. Diganti awan hitam yang semakin bikin saya murung. Suara lembut pun kurang ceria hari ini. Membuat saya masih saja kuyu. Hingga saya begitu menginginkan peluk di pagi yang beku ini. Sekadar membuat saya benar-benar bangun dan terisi penuh. Senyum pertama tanpa sadar tersungging di bibir saya, berkhayal saya sendiri menghambur ke pelukannya pagi ini dengan cara yang sangat berlebihan. Ha-ha.

***

Suatu hari, tanpa ada pertanda apa-apa, dia muncul tiba-tiba dengan sangat ribut, bertanya segala hal yang mungkin berkelebatan di otaknya silih-ganti. Oke, mungkin ini hanya obrolan tengah malam yang biasa. Semalam ini saja. Hingga subuh datang, kami masih saja bicara. Saya sampai ikut terpancing untuk juga bertanya segala yang terpikir saat itu. Dan, tiba-tiba saja, di akhir perbincangan, saya seolah sudah mengenal dia lamaaa sekali. Seolah saya mengetahui segala hal tentangnya; dengan atau tanpa dia sendiri cerita. Tapi, mungkin ini hanya semalam saja. Besok bisa jadi akan jadi hari yang biasa.

***

Saya tenggelam dalam peluknya. Hangat sekali. Energi positif yang dia punya diam-diam saya resap, saya kunyah banyak-banyak. Dia mungkin tidak sadar. Tapi biar saja. Saya mencuri :p

Saya selalu suka saat ada di dekapnya seperti ini. Apalagi, jika saya diizinkan mencium mata kanannya yang selalu ‘bicara’ itu. Apalagi, jika setelah ini dia mengecup tengkuk saya gemas. Menyenangkan. Sudah dua bulan yang lalu sejak perbincangan pertama kami. Cukup lama juga kalau dipikir-pikir. Dan, ternyata, dugaan saya salah. Itu bukan hanya jadi sebatas perbincangan semalam. Banyak lagi bincang-bincang lain setelahnya. Membuat saya tahu apa yang ada di balik hati dan pikirannya. Tidak seluruhnya memang, tapi ini cukup. Cukup banyak sampai-sampai saya sendiri kadang-kadang mabuk dibuatnya.

***

Kami berada dalam irisan kecil di antara dua lingkaran masing-masing. Membentuk area abu-abu yang tidak terdefinisi. Tidak pula bernama. Saya dan dia berada di dunia kami sendiri ketika bersama. Egois? Mungkin. Tapi, ini menggetarkan. Saya memilikinya dalam pikiran dan mimpi. Dan, sekali lagi, itu cukup. Walaupun saya tidak bisa memeluknya lama sekali seperti yang selalu saya inginkan–terbentur kondisi. Walaupun saya tidak bisa menciumnya sesering mungkin seperti yang saya mau–takut menerima penolakannya.

***

Jakarta masih mendung. Sudah sore, dan saya masih belum merasakan sinar matahari hari ini. Aih, pekerjaan bertumpuk pula. Saya lihat sekeliling, memerhatikan wajah-wajah yang termangu di depan komputer masing-masing. Mereka juga bosan, pikir saya. Atau kedinginan, kata saya lagi sambil melirik AC di atas saya.

Mata saya jalang mencari-cari, dan ternyata dia ada. Dalam hati, saya teriak-teriak memanggil sambil saya melangkah menuju ‘tempat perjanjian’. Dan, tak berapa lama dia datang. Wajahnya juga lesu. Sama. Masihkah bisa energinya saya ambil sedangkan dia sendiri kekurangan? Mungkin semua bisa diakumulasi untuk kemudian dibagi rata. Sedetik kemudian, saya sudah tenggelam dalam aroma tubuhnya. Menenangkan, sungguh. Biasanya tidak ada kata-kata saat kita begini, karena ya inilah bahasanya; peluk, kecup.

Ingin saya berbisik di telinganya, “Saya kecanduan kamu ih,” tapi kata-kata itu tercekat di kerongkongan. Belum sempat berkata-kata, tahu-tahu, bibir saya bertemu bibirnya. Seketika, tubuhnya gemetaran sambil terus menciumi. Saya merapatkan tubuh, berusaha meredamkan gemetarnya. Tapi, tidak berhasil. Dia masih saja begitu. Katanya, ada yang berdebur-debur di dalam sana. Aha, dia tidak tahu, saya juga tidak kalah berdebarannya. Sensasi yang aneh. “Bibirmu lembut,” katanya. Apa tidak ada yang pernah bilang, bibirnya pun sama lembutnya.

Saya canggung sekali sebenarnya. Apa dia tidak tahu? Lelaki yang saya ciumi ini adalah lelaki yang saya kagumi di awal pertemuan kami. Dan sekarang dia ada di pelukan saya, mengecup saya, dan saya ciumi balik. Gila.

***

We’re friends, my platonic. But, you’re here, kissing me deeply.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s