Asal Mula Bubat: Ironis

Entah dimulai sejak kapan, saya selalu punya perumpamaan sendiri untuk menyatakan segala sesuatu mengenai darah. Sepanjang yang saya ingat, entah itu menonton film yang bersimbahan darah atau saat merasa darah bulanan datang terlalu deras, saya selalu menyebut, “Banjir darah di Bubat, banjir darah di Bubat.” Hingga akhirnya, saya sendiri berpikir, dari mana asalnya pernyataan ini? Ada apa dengan “bubat” yang dikaitkan dengan “banjir darah”? Inilah yang saya temukan, kisah tragis yang berhubungan dengan sejarah Majapahit.

Bubat berasal dari nama suatu perang yang konon disebutkan oleh cerita lisan masyarakat setempat (dan diperkuat oleh Kidung Sunda serta Kidung Sundayana dari Bali) yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada sekitar abad ke-14, kisaran 1360 SM. Perang Bubat merupakan perang yang melibatkan Gajah Mada dan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda. Semua berawal dari keinginan Hayam Wuruk yang hendak memperistri Dyah Pitaloka Citraresmi, putri raja Negeri Sunda. Mengenai latar belakangan keinginan Sang Raja, ada beberapa versi. Pertama, konon, Raja jatuh cinta pada sang putri karena melihat lukisannya yang dilukis seniman Majapahit dan tergantung di istana. Kedua, pernikahan tersebut bermaksud mempererat tali persaudaraan yang lama putus antara Majapahit dan Sunda.

Hayam Wuruk memperistri Dyah Pitaloka atas restu keluarga kerajaan. Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu, ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang sedang melebarkan kekuasaannya.

Linggabuana memutuskan tetap berangkat ke Majapahit karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, diterima, serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan Putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada, yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya. Dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan Sunda yang belum dikuasai Majapahit. Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Kemudian, terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali, yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya di antaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

Sumber Perang Bubat: Wikipedia, Foto: ambil di sini.

10 Comments Add yours

  1. syamsul mcyutus says:

    cerita perang bubat mengingatkan tentang kisah karuhun saya”urang sunda”..menurut catur karuhun2 saya,sebenarnya yang terjadi adalah tidak seperti yg dikisahkan sejarawan…versi kami,sebenarnya :
    1. Raja hayam wuruk itu tergoda kepada Dyah Pitaloka bukan karena melihat lukisan yang tergantung di majapahit. Tetapi karena hayam wuruk melihat langsung keelokanparas dan watak Dyah pitaloka dalam penyamaran beliau menjadi rakyat jelata dan bertandang ke negeri sunda.
    2.Penyebab perang bubat bukanlah mahapatih gajahmada tetapi oknum penghianat kerajaan majapahit yakni salah seorang patih majapahit yg menghasut pihak keluarga kerajaan pajajaran bahwa Dyah pitaloka hanya dijadikan seorang selir bukan permaisuri.Hal inilah yang memicu pihak kerajaan pajajaran tidak menerima.
    3.Sebenarnya gajahmada adalah pembela kebenaran dan patih setia hayam wuruk..Melihat kekacauan dalam kerajaan majapahit untuk menguasai pajajaran sehingga terjadi peperangan, beliau mengutus gajahmada untuk menuntaskan masalah ini bahkan gajahmada adalah seorang pahlawan bertopeng yang membela pajajaran. Tapi apa boleh buat nasi sudah jadi bubur perang tak terelakkan dan pihak pajajaran yang kalah jumlah akhirnya hancur.
    Yang dipetik”waspada para penghianat yang bisa menghancurkan kejayaan negeri dan memecah persatuan’.
    Semoga masukan saya bisa membuka sedikit tabir yang tertutup selama ini. Terimakasih

  2. atre says:

    hmmm…
    thanks ya Syamsul atas kisahannya.

    soal mana yang bener, mmm, misteri sih.

  3. Djenambang Bin Tandjak says:

    Alhamdulillah..

    1. Atre says:

      Alhamdulillah karena?🙂

  4. dona says:

    Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sejatinya perang bubat itu adalah kisah tragis percintaan diantara GAJAH MADA dengan CITRA RASHMI PITALOKA. Sangat mudah untuk Eyang GajahMada menguasai kerajaan Sunda sejak awalpun bila beliau berkehendak. Tapi kenapa tidak??? Putri sunda galuh untuk dijadikan UPETI itu hanya siasat Gajah Mada untuk membuat tersinggung rombongan sunda supaya pernikahan itu tidak terjadi. Supaya mereka pulang saja lagi ke pasundan. Karena sejatinya GajahMada dan CitraRashmi sudah menjalin hubungan cinta, seharusnya CitraRashmi menikahi GajahMada sesuai TITAH NISKALA, perintah KADEWATAN, bukan menikahi Hayam Wuruk. sekian… Tidak ada didunia ini kisah cinta anak manusia yg setragis kisah cinta CitraRashmi dgn GajahMada. Sampai sudah berabad-abad berlalupun masih…..

  5. Abra Kadabra says:

    aaahhhhhh itu mah akal bulus nya gajah bareuh,
    udah kagok ngucapin sumpah palapa tapi ada satu negeri yang belum takluk, kalau satu lawan satu secara gentle di lapangan terbuka itu gajah bareuh udah tersungkur he he he

  6. Abra Kadabra says:

    kebayang yah kalau jaman sekarang itu gajah mada di kepret sama raja majapahit, karena raja majapahit udah kebelet pengen menikahi putri yang cuantik nan ayu, dan dia di copot tanpa pesangoooonnn kacian dech patih gajah mungkur eh sorry patih gajah mada,

  7. Abra Kadabra says:

    ooohhhh patih gajah mada kacian di PHK tanpa pesangon, kayaknya dia ngebeca, deh karena jaman dulu gak ada ojeg, kebayang seorang patih jadi tukang ojeg

  8. Abra Kadabra says:

    Lagian berani beraninya ngebunuh tamunya raja tanpa salah, salah apa coba raja sunda kok di bunuh yah ??? coba kalau kalau tarung di di atas ring di GBK raja sunda sama gajahmada habis sudah tuh gajah mada yah kan, iyahn aja dech yah he he he

  9. Made Nurbawa says:

    Bisa jadi Hajah Mada cemburu sama Hayam Wuruk. Sejak lama Gajah Mada tidak menangklukan Sunda agar cintanya dengan Diah Pitaloka langgeng. Bisa saja jika Gajah Mada Menaklukan Sunda memuat Diah Pitaloka marah dan memtuskan cintanya. Jadi urusan Tahta, Harta dan Wanita selalu terulang. Mungkin sudah kehendak dewata. Maaf asumsi saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s