Tanpa Tendensi

Ia adalah udara bagi saya. Tak mungkin saya hidup jika Ia tiada. Saya harus bernapas, dan tanpanya tidak akan ada satu embusan yang tercipta. Setiap saat sesak, dan akhirnya sekarat. Mustahil bisa bertahan tanpa udara. Tapi, memang lebih mustahil lagi jika tidak ada matahari. Bisakah keduanya berjalan beriringan; tanpa lengkingan atau perpisahan?

Jika ditanya saat ini juga, saya mau dia tidak ke mana-mana. Walau saya mengerti tidak akan bisa begini. Saya tahu, cerita ini tidak sampai pada sesuatu karena memang begini kesepakatannya.

Ya beginilah. Kita berbagi segala apa yang bisa dibagi tanpa tendensi. Melalui banyak perdebatan, akhirnya juga semua tanpa limit.

Foto: dari sini.

2 Comments Add yours

  1. jogun says:

    itulah keseimbangan,tepatnya kusebut kehidupan,jika tidak ada siang dan malam,panas dan dingin,pertemuan dan perpisahan CINTA DAN PENGKHIANATAN…untuk apa kita hidup??????
    tulisan atre keren……tapi biarkan kebebasan diri menari,jangan terpatri oleh kehampaan diri….
    haahahahahah ga nyambung ya……pisssssss
    lam kenal……..

    1. atre says:

      mmm…tulisan ini kan bukan soal keseimbangan.
      tapi, tak apa lah.
      makasih ya udah mampir & ninggalin komen🙂

      salam kenal juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s