Pengamen, Yang Niat dan Abangan

Jakarta memang ladang luas untuk mencari pekerjaan. Banyak yang bilang kalau di Jakarta pekerjaan apa pun bisa menghasilkan uang. Nah karena itu juga mungkin semakin banyak bermunculan profesi ‘aneh-aneh’ dan tidak membutuhkan ijazah atau pendidikan, seperti pengemis, pengamen, pencopet, atau perampok (dua pekerjaan yang disebut belakangan, apa bisa dikategorikan sebagai profesi?).

Khusus untuk pengamen, dilihat dari kemampuan, mereka (secara kasat) terbagi jadi dua golongan besar: pengamen niat dan pengamen abangan. Pengamen niat akan ngamen dengan membawa tekad yang teguh. Misalnya, kualitas suara yang lumayan (kalau tidak bisa dibilang bagus), menguasai alat musik, dan kalau pun mau ngamen berkelompok, setidaknya kelompok itu “mampu” secara musikal—selaras dan serasi. Pengamen model ini memang sedikit ditemui. Seperti yang langganan ‘manggung’ di Seafood Fatmawati atau di KRL Jakarta-Bogor.

Lain lagi ceritanya dengan pengamen abangan. Pengamen jenis ini biasanya terlihat sangat seadanya dari segala sisi. Saat pertama kali mendengar pengamen ini, indikasinya, kita akan responsive berkomentar “apaan sih?”—minimal dalam hati. Sudah bisa ditebak, pengamen jenis ini memiliki kualitas suara tidak bagus, dan hanya modal kecrekan dari tutup botol minuman, bahkan mengandalkan tepukan tangan. Apeuu…Seringkali juga, volume suara jenis pengamen ini tidak mampu mengalahkan deru transportasi umum yang bising. Sehingga, ada atau tiada mereka, sama saja.

Yang terlihat belakangan, pengamen jadi pekerjaan yang populer, mengalahkan tukang ojek bisa jadi. Ke mana kita pergi pasti akan menemukan satu pengamen sedang mentas, mulai di angkutan umum, bis, kereta api, kampus, lampu merah (jalanan), depan rumah, hingga rumah makan. Betul? Nah, coba dibayangkan, berapa ratus (atau bahkan ribu) pengamen yang berbeda yang kita temui setiap hari. Syukur-syukur kalau yang kita temui adalah pengamen yang niat, dan bukan abangan.

Sebuah program di satu stasiun TV swasta pernah membahas mengenai populernya pengamen ini. Konklusinya, penghasilan jadi salah satu alasan mengapa ‘profesi’ ini semakin diminati. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pengamen di Ibukota, saya dapat jawaban bahwa upah mereka setiap hari berkisar Rp30.000–Rp50.000. Ini penghasilan per hari. Coba kalkulasikan untuk melihat besar penghasilan mereka dalam sebulan? Hasilnya, sekitar Rp900.000–Rp1.500.000. Apa tidak gila? Angka itu hampir menyamai UMR Jakarta saat ini!

Fenomena menjamurnya pengamen akhirnya jadi satu hal yang menarik. Untuk jadi pengamen, usia dan jenis kelamin tidak menjadi masalah. Anak kecil, orang tua, remaja, laki-laki, atau perempuan boleh dan bisa jadi pengamen. Jika Anda salah satu pelanggan Kopaja P20, ada dua pengamen yang sangat niat. Bukan untuk urusan alat (karena mereka hanya modal gitar), tapi lihat secara kemampuan. Suaranya baguuuss! Yang satu, lelaki berambut keriting, kurus, dengan bentuk wajah panjang. Pernah suatu kali dia membawakan “I’m Yours” versi reggae, dan itu menarik sekali. Pengamen kedua, perempuan. Gadis muda lebih tepatnya. Tubuhnya gempal, kulit coklat, dan rambutnya selalu dikuncir kuda. Kalau gadis ini, selalu membawakan lagu-lagu Barat dengan tarikan suara serupa Alicia Keys.

Banyak yang bilang, pengamen sama dengan tukang palak dan pengemis. Banyak pula yang underestimate dan mengatakan, mengamen hanya kedok untuk menutupi profesi mereka yang sebenarnya adalah pelaku kriminal (perampok, pencopet, pemalak, dan sebagainya). Tak baik memang menggeneralisasi macam itu. Tidak menutup mata memang, banyak pengamen yang nyata-nyata jadi pelaku kriminal. Namun, ya, rasanya masih banyak juga yang skillful, berbakat, dan jelas bukan penjahat. Harry Roesli, Doel Sumbang, dan Radja saja dengan nyata mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pengamen karena ikut mempromosikan lagu-lagu mereka sehingga dikenal dan menarik masyarakat untuk membeli kaset/CD mereka. Kekuatan pengamen yang positif ini yang harus dilihat, kan. Hidup pengamen niat! Abangan? Errrr…Kursus dulu lah :p

*istilah abangan ‘meminjam’ dari golongan dalam filsafat Jawa: priyayi dan abangan.

2 Comments Add yours

  1. sara says:

    yup, beberapa pengamen emang punya suara yang ciamik dan bikin kita rela merogohkan receh untuk mereka. Saya kerap bertemu pengamen niat di atas metro mini 72 atau 610. Mendengar suara mereka, saya pun larut dalam lantunan dan bernyanyi-nyanyi kecil. Untuk pengamen abangan, saya kerap mengikuti kata hati; kalau kata hati kasih, ya saya kasih, kalau enggak, ya maap yah😀
    Saya pribadi gak mau ngasih kalo yag ngamen itu anak-anak kecil -apalagi sebelum nyanyi mereka ngasih amplop dengan tulisan perlu biaya buat sekolah, bantu ortu dan sejuta alasan lainnya. Bukannya enggak kasian sama mereka, tapi mereka cenderung jadi korban eksploitasi -entah sama ortu atau orang dewasa kampret. Stop eksploitasi anak-anak!

    1. atre says:

      aduh, susah banget tuh saradiska kalo udah ngomongin masalah eksploitasi pengamen anak-anak. preman-preman, ‘induk semang’, bahkan orangtua sendiri udah bisa-bisanya jadi oknum yang nyeburin anak kecil ke dunia itu. kasihan, mereka nggak bisa sekolah…

      sementara, rumah singgah atau panti asuhan banyak yang mau menampung mereka dan menyekolahkan. kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s