Wisanggeni

Hari ini, pasca deadline seminggu ini, saya memutuskan tidak pergi ke mana-mana. Padahal sabtu malam, tapi ya sudahlah. Tubuh ini mendadak manja dan minta diistirahatkan. Untuk mengisi waktu, saya buka lemari buku saya, mengintip-intip apa yang bisa saya baca. Ah, kenapa koleksi buku banyak yang raib? Buku-buku dipinjam dan tidak pernah lagi dikembalikan. Akan sangat membantu kalau saya ingat siapa si peminjam. Tapi, saking terlalu lama, saya sudah lupa siapa-siapa saja yang meminjam dan belum mengembalikan. Pelajaran buat saya: catatlah semua hal itu.

Sepertinya saya harus belanja buku lagi. Sudah lama juga tidak beli buku-buku baru. Tidak sempat dan tidak niat. Hasilnya, hari ini ketika saya menengok lagi si lemari buku, yang ada di sana hanyalah buku-buku yang sudah sangat saya hapal isinya. Jadi bingung ingin baca apa hari ini? Lalu, si Wisanggeni Sang Buronan ngintip di balik Jalan Raya Daendels Jalan Raya Pos-nya Pram. Ah, saya baca ini saja.

Novel milik Seno Gumira Ajidarma ini khusus menceritakan satu fragmen dalam Mahabharata tentang Wisanggeni, putra Arjuna dan Dewi Darsanala. Ajidarma menggunakan Lahirnja Bangbang Wisanggeni terbitan PT Melodi (Bandung, 1970) sebagai babon. Ringkasnya, Wisanggeni Sang Buronan mengisahkan perjalanan laki-laki kumal bernama Wisanggeni, yang berarti “bisa yang berapi”. Ia sudah membunuh delapan Utusan Dewa yang ingin membunuhnya. Para dewa menganggap Wisanggeni tidak berhak hidup di dunia (ia dianggap sebagai anak yang tidak diharapkan kelahirannya, dan ia tidak mempunyai lakon dalam kehidupan) karena Arjuna yang seorang manusia biasa menikah dan punya anak dari Dewi Darsanala. Ya, menurut para dewa, keseimbangan dunia bisa-bisa terganggu karena lahirnya anak hasil hubungan manusia biasa dengan dewi dari kahyangan. Jalan satu-satunya untuk menjaga keseimbangan adalah dengan melenyapkan Wisanggeni.

Sebenarnya, saya kasihan pada Wisanggeni dalam novel ini. Ia sejak kecil dirawat dan tinggal di bawah laut bersama Sanghyang Antaboga dan Batara Baruna, orang-orang sakti penguasa laut, tepatnya di pertapaan Saptapratala. Setelah beranjak dewasa, Sanghyang Antaboga memerintahkan Wisanggeni mencari ayah dan ibunya; Arjuna dari Madukara dan Dewi Darsanala dari kahyangan. Tapi, belum lama ia keluar dari laut, sudah beberapa utusan dewa ingin membunuhnya. Ia jadi hidup seperti buronan, dan membuatnya semakin penasaran akan asal-usulnya. Hingga akhirnya ia bertemu Hanoman, Sri Kresna (titisan Batara Wisnu), dan ayahnya. Bagaimana dengan ibunya? Sayang, hanya untuk menengok ibunya, ia tidak diperbolehkan oleh semua dewa termasuk Sanghyang Pramesti, dewa yang mengatur segala jagad. Sampai akhirnya dia bertemu ibunya di langit karena ketidaksengajaan. Pertemuan yang sangat singkat. Dan, kelihatan Wisanggeni masih limbung akan hidupnya. Jadi buronan, dicari-cari untuk dibunuh, sulit bertemu ibunya sendiri. Semua orang, kecuali orang-orang terdekat, menginginkan ia melenyapkan diri, mati. Ah…hidup macam apa itu.

Saya jadi kepikiran soal eksistensialisme yang pernah selintas dipelajari waktu zaman pendidikan dulu. Setelah buka-buka kembali buku Dasar-dasar Filsafat, inilah arti dan pemahaman soal eksistensialisme. ”Aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak. Dalam aliran eksistensialisme, individu dipandang sebagai subjek bukan objek. Oleh karena itu, kebebasan individu menjadi hal yang utama.”

Wisanggeni krisis eksistensi. Ia bertanya-tanya apa perannya di dunia jika kelahirannya saja sebuah kesalahan. Siapa juga yang tidak krisis eksistensi kalau sudah begini? Ditambah dukungan yang datang tidak banyak. Krisis ini membawanya pada pemikiran bahwa mungkin para dewa yang benar. Sangat tidak enak rasanya kalau kita merasa tidak berarti untuk siapa pun. Sejenak saja sudah tidak enak, apalagi perasaan itu muncul setiap saat.

“Aku sudah harus lenyap dari jagad pewayangan,” katanya pada diri sendiri, “aku tak akan mengganggu lakon yang sedang dan akan berlangsung.”

“Baiklah, aku ke kota itu saja,” ujarnya mantap, “sejak saat ini aku tiada, menjadi bukan siapa saja,” dan Wisanggeni meluncur turun ke kota yang masih setengah tertidur itu. (2004: 87-88)

Malam minggu jadi sendu gara-gara Wisanggeni.

**Notes: Ada perbedaan akhir cerita antara Wisanggeni Sang Buronan dan cerita pewayangan tentang Wisanggeni. Akhir cerita pada novel Ajidarma, Wisanggeni diceritakan memutuskan untuk pergi ke suatu kota dan melepaskan nama besarnya, serta berprilaku (juga dicap) seperti orang gila. Pada kisah pewayangan, akhir ceritanya adalah Batara Brama, kakek Wisanggeni, diberi tugas untuk melenyapkan Wisanggeni sebelum Perang Baratayudha. Wisanggeni dikisahkan setuju untuk dilenyapkan. Lalu, Batara Brama menyuruh cucunya memandang titik di antara kedua matanya. Perintah itu dilaksanakan, dan seketika itu tubuh Wisanggeni berubah menjadi kecil, terus mengecil, sehingga akhirnya menghilang menjadi debu (Tim Penulis Sena Wangi, 1999: 1440-1441).

Foto: ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s