Suatu Hari Bicara tentang Kasta

Berikut pendapat Sitok Srengenge dalam Prosa: Yang Jelita Yang Cerita. Katanya, dikatakan dalam kitab suci, Hawa terbentuk dari tulang rusuk Adam. Kemudian, terpilihnya nabi. Seorang nabi digambarkan sebagai sosok yang punya kekuatan dan tanggung jawab besar, dan tidak ada nabi yang berasal dari kaum perempuan. Satu lagi contoh yang diungkapkan Sitok mengenai superioritas laki-laki. Yaitu, ‘pengaturan’ dewa dalam agama Hindu dan Budha. Dewa tritunggal dalam agama Hindu adalah laki-laki, dan Sang Buddha, Siddhartha Gautama, juga lelaki.

Berabad-abad lamanya, perempuan ada di bawah dominasi laki-laki. Laki-laki golongan superior. Sementara, perempuan hanya di golongan kedua, di bawah laki-laki, sebagai golongan inferior. Freud bahkan mengatakan bahwa perempuan adalah manusia yang tidak lengkap karena tidak mempunyai penis. Oleh karena hal inilah, perempuan diposisikan hanya sebagai makhluk kelas dua. Aih, kalau perempuan punya penis pun apa jadinya, pikir saya.

Kenyataannya, perbedaan gender malah menguat. Erat kaitannya dengan kebiasaan dan budaya dalam masyarakat. Faktor kebiasaan jadi satu penyebab menguatnya perbedaan gender. Dasarnya, fakta bahwa segala sesuatu yang hidup dalam kehidupan sehari-hari akan mendarah daging dalam setiap aktivitas. Hingga jadilah itu yang disebut “kebiasaan”. Untuk masalah gender, pembedaan yang mungkin tanpa disadari berkembang adalah peran laki-laki dan perempuan. Contohnya, laki-laki diidentifikasikan sebagai pencari nafkah, sedangkan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Lazim rasanya jika setiap pagi melihat seorang suami pergi bekerja, dan si istri diam di rumah mengurusi pekerjaan domestik. Masyarakat sudah mencap bahwa itulah pembagian peran dan tanggung jawab yang benar antara laki-laki dan perempuan. Tanpa sadar, masyarakat menguatkan perbedaan gender melalui nilai-nilai dalam masyarakat. Bagaimana kalau sebaliknya? Laki-laki di rumah dan perempuan bekerja? Coba tanya orang yang ada di dekat Anda. Jawabannya pasti lebih banyak, “ah, itu tidak lazim”.

Selain kebiasaan, faktor budaya juga tidak kalah berperan. Indonesia menganut sistem patriarki yang androgini (laki-laki pusat kegiatan). Membentuk sebuah budaya lain bahwa laki-laki adalah pemimpin dan perempuan adalah pelengkap. Mungkin faktor ini gugur ketika kita melihat heterogenitas (dalam hal ini banyaknya suku) di Indonesia. Lihat di Minangkabau (Padang) yang menganut konsep gynosentris, matrilineal. Tapi, tetap saja, patriarki mendominasi.

Sebut saja Bali. Bali selama ini terkenal akan pemandangan indah dan eksotika kebudayaannya yang masih terpancar. Upacara adat atau upacara agama yang masih dijalankan masyarakat Bali dan keindahan alam Bali yang luar biasa jadi pemikat turis asing atau lokal. Tapi, di balik itu, Bali menyimpan bara. Permasalahan kasta di Bali lambat laun mengalami kekeliruan makna. Kasta di Bali tidak mengikuti pola pembagian kelas seperti di India. Di Bali, tidak ada kasta Sudra seperti pengertian yang ada di India yang dibatasi hak-haknya dalam menjalankan ibadat agama. Hingga saya jadi tahu setelahnya, bahwa di Bali sesungguhnya tidak ada kasta. Yang ada adalah warna (fungsi sosial seseorang dalam masyarakat), seperti kata Jean Couteau.

Awal adanya warna, fungsi sosial itu, ketika Bali diperintah Maharaja Dalem Dimade sekitar abad ke-16. Ada empat warna, karena itu disebut caturwarna. Golongan pertama, mereka yang memimpin upacara-upacara keagamaan. Kepada golongan ini diberi pangkat di depan namanya: Ida Bagus untuk lelaki dan Ida Ayu untuk perempuan. Golongan kedua, mereka yang menjalankan roda pemerintahan. Oleh karena tingkat-tingkat di pemerintahan itu banyak ragamnya, gelar yang diberikan pun banyak, seperti Anak Agung, Cokorde, Gusti Ngurah, Gusti, Dewa untuk laki-laki, dan Anak Agung Istri, Cokorde Istri, Gusti Ayu, Desak, atau Dewa Ayu untuk perempuan. Golongan ketiga, mereka yang bergerak di bidang ekonomi. Gelarnya Si baik untuk laki-laki maupun perempuan. Golongan keempat, para petani yang menjadi soko guru kerajaan, bergelar I untuk lelaki dan Ni untuk perempuan.

Kekeliruan terjadi setelah Dalem Dimade tidak lagi menjadi maharaja di Bali. Gelar-gelar yang mengidentifikasi fungsi sosial seseorang lalu diturunkan kepada anak-anak keturunannya, walaupun anak keturunannya berubah fungsi. Misalnya, seorang anak tetap mencantumkan Ida Bagus di depan namanya, walaupun ia tidak mempunyai keahlian memimpin upacara agama. Oleh karena adanya pengaruh budaya dari India, maka penggolongan itu pun menggunakan nama seperti kasta di India, yaitu Brahmana, Kesatria, Waisya, dan Sudra.

Kekeliruan itu masih terjadi hingga sekarang. Sebagian besar orang, terutama bukan asli Bali, masih menganggap sistem kasta di Bali hampir sama seperti sistem kasta di India, walaupun zaman sekarang tata cara pergaulan antarwarna tersebut tidak dipermasalahkan dengan cara perbedaan perlakuan dan perbedaan derajat.

Warna ini sudah jadi bagian kehidupan Bali. Dan, Bali—senada dengan sistem kekerabatan beberapa daerah di Indonesia—menempatkan laki-laki sebagai pusat kegiatan. Fungsi-fungsi sosial didominasi laki-laki, seperti kepala desa adalah laki-laki, penjaga pantai di beberapa pantai di Bali lebih banyak laki-laki, begitu pun dengan guide. Stereotip ini memupuk imej superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan.

Tapi, di Bali, ada yang menarik soal topik gender ini. Jika bicara kaitan sistem patriarki dan kesenian, akan terbentuk pihak-pihak yang bertolak belakang. Jika masyarakat Bali yang patriarkat mengangguk, kemungkinan kubu seniman Bali akan menggeleng, begitu pun sebaliknya. Kenapa? Sebab, ternyata, sistem patriarki di Bali yang (biasa) menempatkan laki-laki di atas dan wanita di bawah harus menerima kenyataan bahwa dalam hal kesenian, dikhususkan lagi jadi tari-tarian, perempuan yang berbalik memegang peranan.

Kedudukan perempuan dalam kesenian Bali tidak terhambat. Tidak seperti pada seni pertunjukan Minangkabau. Dalam seni pertunjukan Minangkabau, jadi suatu kebanggaan jika sebuah seni pertunjukan didukung laki-laki, tapi bernilai sebaliknya jika suatu pertunjukan didukung perempuan. Ketidakhadiran perempuan dalam aktivitas seni pertunjukan Minangkabau dianggap sebagai sikap mempertahankan konsep malu menurut adat dan aurat menurut Islam. Nilai religius masyarakat Minang yang kental menyebabkan konsep-konsep tersebut menjaga perempuan Minang tidak sembarangan bertindak. Akibatnya, menjadikan ruang gerak perempuan terbatas, baik dalam bicara, pergaulan, atau pakaian. Perempuan Bali berbeda. Mereka sah-sah saja tampil menari di depan banyak orang dan jadi pusat perhatian. Perempuan berhak dan bebas tampil di depan umum, jadi pengambil keputusan. Laki-laki dan perempuan, dalam seni pertunjukan di Bali, tidak mengalami genderisasi.

Bibliografi
Astuti, Fuji. 2004. Perempuan dalam Seni Pertunjukan Minangkabau. Yogyakarta: Kalika.

Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Kusmayati, A.M. Hermein, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan Jilid 8. Jakarta: Buku Antar Bangsa.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik PenelitianSastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Setia, Putu. 1987. Menggugat Bali. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Srengenge, Sitok. 2004. Prosa: Yang Jelita Yang Cerita. Jakarta: Metafor Intermedia Indonesia.

?. 1989. Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 7. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.

Foto: dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s