[Fiksi] Tidak Ada yang Sia-sia

Seorang lelaki selalu duduk di situ;
di tempat berdebu, di sudut itu.
Setengah mengantuk, ia menantikan siapa—entahlah.
Siapa yang tidak datang-datang.
Membuatnya harus menghabiskan kopi sebanyak itu;
sebanyak pecahan gelas yang berserakan di matanya.
Setiap hari selalu ia kembali ke meja itu,
mengharapkan apa, tidak tahulah

Pernah beberapa kali terlihat seorang wanita cantik menemaninya,
melihatnya dari seberang meja, menatap.
Wanita itu mencintainya, saya rasa.
Tapi, si lelaki hanya pernah mencintainya.
Maka itu, mereka hanya diam saja.
Sembari menanti siapa yang ditunggu lelaki sayu itu.

Detik berjalan, wanita cantik itu tahu-tahu rontok.
Serupa puzzle yang dihentak, ia berserakan.
Dan, lelaki itu kembali sendiri.
Bukan wanita cantik itulah yang saya mimpikan, katanya seraya memutar kilasan adegan di kepalanya.

: sebuah ciuman mendarat di mata kanannya.

Werk (photo): Upiq.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s