Selamat Ulang Tahun, Sapardi Djoko Damono

Tahun ini, tepat 20 Maret 2010, Pak Sapardi Djoko Damono ulang tahun ke-70. Perjalanan yang udah cukup panjang untuk ukuran seorang manusia. Khusus untuk bapak yang satu ini, perjalanan panjang juga buat perjalanan penulisannya. Karier, bisa disebut begitu–kalau boleh. 70, angka genap yang menurut saya pribadi istimewa. Apalagi saya pencinta angka tujuh, dan saya juga selalu tertarik dengan angka 0 yang misterius. dan, di sinilah, Pak Sapardi yang alhamdulillah masih sehat bugar menginjakkan kakinya di angka ini.

Istimewa, memang. Lebih istimewa lagi karena banyak pihak yang menginginkan perayaan ulang tahun Bapak tidak begitu-begitu saja. Makanya, diselenggarakanlah sebuah acara ‘kumpul-kumpul’ di Teater Salihara Pasar Minggu tertanggal 26 Maret lalu. Acara dimulai pukul 19.30. Sial buat saya, karena ini hari kerja dan saya baru bisa berangkat dari kantor pukul 19.00. Saya panik, sebenarnya. Takut ketinggalan acara, takut melewatkan momen bagus malam itu. Apalagi, beberapa teman; Temut, Damar, Ananto, Dhanny, dan Meidi; yang sudah lebih dulu ada di TKP bilang, orang-orang mulai duyun-duyun datang.

Dan, saya memang terlambat. Sampai Salihara pukul 20.00 dan teater sudah padat. Karena pengunjung yang melebihi ekspektasi, tanda masuk yang awalnya harus dipegang setiap orang jadi ditiadakan. Semua orang boleh masuk teater tanpa tiket itu sekalipun. Jadilah banyak orang yang lesehan di depan panggung dan di catwalk–bagian paling atas menyerupai balkon. Saya nonton sendiri di catwalk sedangkan teman-teman lesehan di depan–beruntungnya mereka.

Oke, begitu saya datang, Happy Salma sedang membawakan cerpen SDD. Saya ‘ketemu’ dia lagi, setelah malam sebelumnya dia juga tampil di Teater Kecil TIM. Kelar Happy, berturut-turut tampil Niniek L. Karim, Sitok Srengenge (Dalam Doaku), dan terakhir, ketiganya tampil sekaligus membawakan “Rumah-rumah”. Dari atas sini, kelihatan, orang-orang begitu menikmati perayaan kecil Bapak. Semuanya tergelak, tersipu, sampai tersentil juga ramai-ramai. Haduh, nikmatnya…

Setelah monolog itu selesai, gantian Mbak Ari, Mas Umar Muslim, dan Jubing Kristanto (histeris!) tampil bermusikalisasi puisi. Bagi yang sudah lama ‘akrab’ dengan Pak Sapardi, pasti sudah tidak asing lagi dengan apa-apa yang dibawakan Mbak Ari, Mas Umar, dan Jubing itu. Ketika Jari-jari Bunga Terbuka (track favorit saya setelah Aku Ingin), Dalam Bis, dan Nokturno (yang spesial dilantunkan untuk Pak Sapardi, ujar Mbak Ari) menusuk perasaan. Syahdu. Tapi sekaligus sendu.

Penampil selanjutnya adalah Paragita UI. Saya sempat girang membayangkan musik-musik dari sajak Pak Sapardi dilantunkan secara koor. Dan, ya, Paragita tampil baik. Tapi, saya ternyata kurang begitu sreg. Rasanya tidak pas.

Sayang, karena ketelatan saya, saya tidak menyaksikan penampilan Goenawan Mohammad di awal acara, dan beberapa bait sambutan dari Pak Sapardi sendiri. Mmm…Tak apalah, yang penting saya masih bisa ikut dalam perayaan kecil ini dengan senang hati. Selamat ulang tahun, Pak Sapardi🙂

Ketika Jari-jari Bunga Terbuka

Ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa: betapa sengit
cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit
menyisih awan hari ini; di bumi
meriap sepi nan purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna
swara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya: betapa parah
cinta kita
mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s