Out of Body Experience

“Saya melihat diri sendiri tergeletak di samping ranjang. Pucat, tanpa senyum, tanpa detak jantung. Saya mati.”

Kawan-kawan dekat yang sudah tahu saya–setidaknya sekulit ari dari diri saya–pasti sering dapat cerita soal ‘keakraban’ saya dengan teman dari dunia lain yang suka sekali berkunjung setiap malam. Konon, ‘lelaki’ ini tinggal di sebelah rumah; rumah yang pernah lama kosong. Dan, konon (lagi), ‘lelaki’ ini sudah telanjur kepincut pada saya sejak saya SMP–sekarang saya sudah berusia kepala 2 dan dia masih rajin datang. Dari mana saya tahu tentang diri si lelaki tak berwujud ini? Dari berbagai sumber, dan dari lelaki itu sendiri yang suka ‘membagi’ dirinya dengan saya. Saya bukan orang yang punya kemampuan khusus atau manusia istimewa dengan bakat unik. Tidak. Saya hanya (kebetulan) adalah orang yang punya kepekaan terlalu besar, sampai kadang-kadang sulit membedakan manakah yang nyata dan mana yang hanya perasaan saya saja.

Mungkin bagi banyak orang, cerita ini kedengaran seperti bohong belaka. Bagi sebagian lagi, mungkin juga ini menyeramkan. Tapi, bagi saya–yang memasuki 2010–sudah puluhan tahun lebih ‘mengenal’ tamu istimewa saya ini, pengalaman ini sudah lumrah atau wajar-wajar saja. Biasa. Bagaimana tidak biasa? Puluhan tahun saya sering mendapati diri saya tidak bisa bernapas karena diganggu dia. Ditindih hingga tidak bisa bergerak dan hilang kesadaran. Lidah begitu kaku sampai-sampai untuk mengucap ayat-ayat Allah saja terpatah-patah. Dulu saya takut setengah mati, memang. Tapi lama-lama, rasanya kesal. Kalau badan ini sudah terlalu capek dan obat yang paling benar hanya tidur, bukankah sebal jika diganggu? Lelaki ini seringkali seperti itu; mengganggu tidur, muncul dalam mimpi, menekan napas saya.

Semakin ke sini, saya mencoba tidak terlalu pusing oleh kedatangannya. Dia masih suka mengganggu, tapi ya sudahlah. Masuk ke mimpi? Iya. Bahkan, dia mulai sudah berani menyentuh saya, memunculkan aura hangat yang berlebihan di kamar saya. Saya rasanya sudah bisa menerima kalau dia adalah bagian dari hidup saya. Sampai suatu hari, Sabtu lalu (27/03), ketakutan yang sudah lama sekali tidak saya rasakan muncul kembali. Karena terlalu letih seharian di luar rumah, malam itu saya tertidur tanpa berganti baju dan alpa ‘membereskan’ bantal-kasur. Dan, hasilnya apa? Saya mulai sesak di menit-menit awal tidur saya. Antara sadar dan tidak, berulang-ulang kali banyak “seolah-olah” yang terjadi. Pertama, saya seolah-olah sudah bisa beranjak dari ranjang dan terjatuh di samping ranjang. Padahal, saya masih dalam posisi tidur di kasur, tidur. Kedua, saya seolah-olah beranjak dari ranjang dan pergi keluar kamar. Tapi, setelahnya saya sadar, saya masih di kasur, masih di posisi yang sama. Ketiga, ini yang paling menakutkan, saya melihat diri saya sendiri jatuh di samping ranjang dan pucat, tidak bernapas. Mati. Saya melihat diri saya sendiri mati. Sedetik kemudian, saya lepas dari tekanan sesak napas dan saya bangun. Gemetaran luar biasa. Ini apa? Saya tidak mengerti. Yang pasti, kali ini saya takut. Yang pasti juga, ini adalah rekor terlama saya diganggu lelaki itu (atau siapa? atau apa?).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s