Jadi Gila…

Seorang perempuan paruh baya selalu duduk di halte Gang Tegangan, Jalan Raya TB Simatupang. Ia selalu duduk di halte itu. Kalaupun pergi, ia hanya mondar-mandir di sekitaran halte yang di belakangnya terdapat kali kecil yang jadi kering ketika kemarau.

Meskipun katanya ia gila, penampilannya selalu bersih, mengenakan pakaian yang lengkap dan bisa dibilang rapi, kulitnya juga baik. Mimik wajahnya juga wajar. Baik. Seolah waras. Ia selalu tenang memerhatikan kendaraan yang lalu-lalang di depannya. Ia juga tak pernah kedengaran tiba-tiba mengganggu pejalan.

Saat saya berangkat kerja, ia sudah duduk di titik terfavoritnya di halte Tegangan itu. Malam-malam, saya masih sering melihatnya duduk tenang sendirian di bawah cahaya kuning, si penerangan halte. Setiap harinya begitu saja yang ia lakukan. Menunggu apa, saya kurang tahu pasti.

Ia selalu membalas sapaan atau candaan orang-orang yang menegur dirinya. Dengan ucapan yang tidak jelas. Karena memang bicaranya tidak pernah jelas. Mungkin, karena ia sudah terlalu lama tidak banyak bicara panjang-lebar. Ya, bisa jadi. Kemampuan lisan kita bisa tanpa sadar jadi tumpul jika kita lupa menggunakannya, jika kita terlalu sibuk menggunakan bahasa tulisan. Coba saja. Kamu akan jadi gagap saat bicara jika lama sekali tidak bincang-bincang panjang dengan orang lain.

Tidak tampak kegilaan pada perempuan paruh baya itu jika kita melihatnya hanya sekilas. Paling-paling, kegilaan itu hanya tampak dari tatanan rambutnya yang dicukur botak grepes-grepes (baca: potong asal-asalan). Ya, ia botak, setidaknya sekarang. Dulu, saat saya masih SMA (kisaran 7-8 tahun yang lalu), perempuan yang tidak saya tahu namanya ini masih memiliki rambut yang sungguh bagus. Sebahu. Cokelat gelap. Tebal. Tapi, seiring waktu, mungkin juga seiring bertambah kegilaannya, rambutnya semakin pendek dan akhirnya botak grepes-grepes seperti sekarang. Sayangnya…

Selain rambut, kegilaannya kadang-kadang muncul jika ia mulai bersenandung sendiri nyambi tersenyum-senyum kecil. Tidak peduli di sekitaran halte itu sedang ramai-ramainya, ia tetap saja bernyanyi-nyanyi kecil. Tidak brutal dan tidak menyakiti telinga. Ia tetap tenang, bersenandung dengan tenang. Hanya saja, yang membuatnya serupa gila, ia seolah masuk ke dunia yang dibuatnya sendiri, melepaskan diri dari kenyataan sibuk di sekitarnya. Bersenandung mengalahkan deru kendaraan bermotor yang bising di depannya. Ia tersenyum-senyum kecil mengenyampingkan tatapan-tatapan heran orang-orang di sekelilingnya yang menganggapnya gila.

Saya memang tidak pernah tahu penyebab perempuan ini menjadi ‘tidak sadar’. Sejak kapan, saya juga tidak tahu. Tapi, saya mulai merasa ia bisa-bisa bahagia dengan menjadi gila. Dan, saya jadi berpikir, jangan-jangan menjadi gila itu asyik.

2 Comments Add yours

  1. leonardo says:

    Coba nonton Shutter Island, gan. Sebelum Anda lebih jauh lagi memutuskan untuk jadi gila.😀

  2. atre says:

    ih, gue udah nonton tuh Yo Shutter Island.
    harus nonton lagi keknya, biar lebih jelas.
    itu sih permainan kewarasan.

    ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s