[Fiksi] Pendamba Paling Kronis

Sulitnya mencintai raga yang tiada.

Untukmu, kutitipkan sekelebatan wangi tubuhku
yang mendamba ragamu tadi malam.
Dan, pagi ini,
ketika rindu sudah buncah-buncah sampai di kerongkongan,
kamu masih juga tiada
: raga dan jiwa

Angin mungkin tersesat semalam,
menikung di perempatan jalan menuju ketiadaan
saat kiriman rindu tinggal sepenggalan jalan.
Aku tidak kesal,
hanya kosong.

Bisa jadi, aku menjadi pendamba paling kronis di dunia
saat ini.
Mendamba raga yang tiada,
mendamba dirinya yang tidak ada.

3 Comments Add yours

  1. wina says:

    ya ampun,
    adem…
    🙂

    1. atre says:

      padahal, sajaknya galau lho, win😀

  2. rono says:

    maap sekalian mampir.
    tulisan lo juga kereeennnnn…
    eh ehe he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s