[Fiksi] Saya Patah

Ibu hanya bisa memandangi saya yang sedang tersedu di sudut ruang. Ia tidak bisa berbuat lain kecuali menatap nanar bungsunya yang perlahan hancur. “Sayap saya patah, Ibu,” bisik saya. Dan, ibu hanya maju selangkah, belum berani merengkuh ke dalam mata saya yang sembab.

Dari garis wajahnya, saya tahu kalau ibu sedih karena terlalu sering melihat anaknya terhempas. Pernah dia bertanya, “Kenapa perjalananmu berat sekali, Nak?” Saya sama sekali tidak menjawab, malah lari ke sudut ruang itu; kembali tersedu. Dan, lagi-lagi, ibu hanya bisa memandangi.

Banyak yang ingin saya bagi pada ibu. Tapi, rasanya kemampuan untuk itu sudah tidak ada lagi. Berharap ibu mendengar, saya berkata pelan, “Saya rindu ibu yang hangat, bukan yang selalu mendengus bahwa saya selalu salah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s