[Fiksi] Dua Burung Gereja dan Malaikat Senja

Di pertengahan Mei yang cerah, dua burung gereja terdampar di taman kota. Dari Wamena, tahu-tahu mereka tiba di Jakarta. Jarak mati ditelan kicauan mereka yang sahut-sahutan: riang.

Dari padang ilalang merah, mereka harus puas hanya dengan para pencakar langit di mana-mana. Ini Jakarta, bergerak dan padat. Dan, dua burung gereja itu belum juga bisa menemukan rumah pengganti ilalang merah di Wamena. Berputar-putar, mereka terbang. Udara memang tidak sesegar dulu. Tapi, mereka senang, karena tidak ada yang mengenal mereka. Sehingga, mereka bisa bebas berpelukan di langit kebiruan tanpa takut, dan pada malam harinya, mereka bisa berciuman sampai lelah di sudut kebun belakang rumah seseorang.

Hingga suatu hari, mereka menemukan sebuah taman kota di Jakarta Selatan. Awalnya, mereka hanya ingin santap-santap kecil di rumput-rumput luas taman itu. Tapi, menjelang sore, mereka tanpa sadar berhenti ngemil dan dipesonakan senja di taman kota.

Ini rumah baru kita, bisik si burung gereja yang lelaki. Sementara si perempuan hanya mengangguk setuju dan segera memeluk pasangannya dengan senang. Ah, senja di taman ini berbeda. Ia tidak keemasan, tapi keunguan. Ia selalu disertai awan gemuk-gemuk yang kecil-kecil berarakan. Dan, ketika ia tiba, taman kota yang punya danau di tengahnya berkilau-kilau kena timpaan cahaya ungu si matahari yang hampir benam.

Semakin indah karena setiap senja, yang datang ke taman kota adalah beribu pasangan yang punya sayap sebersih milik malaikat. Jika senja semakin ungu, mereka susul-menyusul terbang, memenuhi langit yang ungu, sehingga sayap-sayap mereka menjelma ungu, dan hanya wajah mereka yang kelihatan dari jauh, karena bersinar.

Melihat itu, dua burung gereja yang juga punya sayap–meskipun berwarna cokelat muda–, hilang di antara ribuan pasangan yang saling memiliki itu. Ini senja paling cantik di antara senja cantik yang pernah mereka nikmati. Dan, kini, mereka punya agenda baru setiap kali senja: menarikan kidung yang paling merdu kedengarannya di dunia. Renjana.

2 Comments Add yours

  1. bimbim says:

    haloo…
    atreee…

    blogwalking ya.
    ini beneran fiksi?
    abis baca ini, gw jadi pengen punya pacar.
    hakhak!

    1. atre says:

      sedikit fiktif, sedikit nyata.
      hehe…
      dicampur-campur ajalah.

      makasih ya udah mampir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s